Memahami Remaja Gen Z, Si Generasi Strawberry yang Tricky

Ilustrasi memahami Gen Z/Makidotvn/Getty Images
Share

Memiliki remaja usia 10-17 tahun di rumah membawa keseruan tersendiri. Tak terasa anak Mama yang dulu masih kecil sekarang beranjak besar. Mereka saat ini mulai bisa berdiskusi bersama Mama, berani berpendapat, memiliki keinginan sendiri, dan mulai tidak mau diatur. Menemani remaja sering membuat orangtua serba selah. Itu sebabnya orangtua harus mampu memahami Gen Z!

Menyikapi remaja tidak mudah, orangtua kadang salah bersikap. Mereka belum dewasa, tapi bukan lagi anak-anak. Terlalu manja salah, terlalu keras juga tentu salah. Jika tidak dekat dengan orangtua, saat ada keadaan yang membuat remaja merasa sakit hati, banyak dari remaja ini lari ke media sosial. Misalnya saja saat mereka punya masalah dengan teman, mereka akan terampil membuat thread berisi curhatan. Mereka tahu bahwa masalah yang sedang mereka alami itu mengganggu kesehatan mental mereka.

Tantangan teknologi dan kesehatan mental

Era teknologi saat ini membuat informasi bisa diakses siapa saja. Hal ini kadang membuat orangtua kewalahan. Bila tidak didampingi,  remaja bisa kebingungan akibat derasnya informasi yang diterima.

Psikiater dr. Elvine Gunawan SP.Kj mengatakan, banyak remaja mengeluh tentang hubungan dengan orang tua, kehidupan di sekolah, dan hubungan antar saudara (sibling rivalry). “Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk anak, malah menjadi area konflik,” katanya saat menjadi pembicara dalam webinar “Ketika Anakku Menjadi Remaja” yang diselenggarakan pada Selasa, 28 mei 2024. Webinar ini merupakan kolaborasia antara Universitas Katolik Parahyangan dengan Talenta School dan Putra Nirmala Cirebon.

Memahami Gen Z

Gen Z adalah mereka yang lahir di era digital, yaitu pada pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Mereka biasa disebut sebagai generasi strawberry. Metafora dari Taiwan ini menggambarkan Gen Z yang tampak segar dan menarik, tapi sangat rentan rusak karena tekanan dan kesulitan. Gen Z memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap isu-isu sosial, mental, dan emosional, serta ketergantungan pada teknologi digital.

Gen Z memiliki beberapa karakter khas yang erat kaitannya dengan situasi saat mereka lahir dan bertumbuh. Beberapa karakteristik yang dipaparkan Elvine bisa membantu Mama memahami Gen Z.

  1. Tumbuh di era digital: Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dengan internet, media sosial, dan teknologi digital sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka. Mereka terbiasa dengan akses informasi instan dan komunikasi digital.
  2. Kreatif dan inovatif: Gen Z dikenal kreatif, inovatif, dan terbuka terhadap ide-ide baru. Mereka sering menggunakan platform digital untuk mengekspresikan diri.
  3. Pendidikan dan karir: Gen Z memandang pendidikan sebagai hal yang sangat penting. Banyak dari mereka yang bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi dan melihat program beasiswa sebagai peluang untuk berkembang.
  4. Kesehatan mental: Gen Z lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terbuka untuk membicarakan isu-isu seperti kecemasan, depresi, dan stres.
  5. Sosial dan toleran: Generasi ini dikenal sangat terbuka, toleran, dan inklusif terhadap perbedaan.
  6. Pengaruh lingkungan: Gen Z sangat peduli dengan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim.
  7. Keinginan untuk pengakuan: Gen Z sering kali membutuhkan pengakuan dan apresiasi, mencari validasi melalui media sosial.
  8. Kecenderungan konsumsi: Gen Z memiliki kecenderungan untuk mengutamakan konsumsi barang-barang branded dan sering kali lebih tertarik pada kebutuhan tersier.
  9. Tantangan dan risiko: Gen Z menghadapi tantangan seperti kecemasan, kesulitan fokus, stres akademik, tekanan sosial, dan risiko kesehatan mental yang lebih tinggi.

Permasalahan mental Gen Z

Menurut survei yang dilakukan Elvine, Gen Z mengalami banyak permasalahan mental yang signifikan. Responden yang berusia 18-25 tahun, ada 13% yang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup. Suicidal thoughts ini di luar dari yang mengalami depresi dan permasalahan mental lainnya. Ketika mereka masuk usia dewasa, permasalahan mentalnya menurun.

Kebanyakan Gen Z berpikir, permasalahan mental mereka berasal dari lingkungan. Sehingga, lingkungan, pertemanan, keluarga, dan pekerjaan sangat mempengaruhi produktivitas dan kesehatan jiwa Gen Z.

Faktor Neurodevelopmental dan Mental Anak

Nucleus accumbens (NAc) memainkan peran penting dalam sistem reward (hadiah) dan motivasi. Di usia remaja, NAc cenderung bekerja lebih aktif. Oleh karena itu, penerapan ajaran agama, nilai relijius, dan nilai budaya sebaiknya diajarkan kepada anak di usia di bawah 13 tahun saat NAc anak sedang bekerja signifikan.

Stres yang dialami oleh anak-anak dan remaja dapat mempengaruhi perkembangan HPA Axis (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis). HPA Axis adalah sistem kompleks yang berperan penting dalam mengatur respons tubuh terhadap stres dan mengendalikan berbagai proses fisiologis. Stres yang dialami oleh anak-anak dan remaja dapat mempengaruhi perkembangan HPA Axis.

Tanda-tanda gangguan mental pada remaja

  1. Dorongan impuls/dorongan perilaku yang tidak terkontrol.
  2. Perilaku agresif yang sangat luar biasa.
  3. Tidak bisa berinteraksi secara sosial.
  4. Prestasi akademik menurun.
  5. Tidak punya rasa takut dan sangat mudah terdistraksi.
  6. Rasa percaya diri rendah.
  7. Tidak bisa mengontrol diri sendiri atau cenderung perfeksionis.

Peran keluarga dalam kesehatan mental remaja

Lingkungan sosial yaitu keluarga, teman, dan komunitas sangat mempengaruhi pola perilaku remaja. Lingkungan sosial yang positif akan sangat berpengaruh pada proses adaptasi perilaku dan neurobiology seorang anak.

Saat mendapati anak remaja bermasalah, Elvine menyarankan, Mama melakukan hal-hal berikut:

  1. Ajarkan anak untuk mengeluarkan emosi negatif dengan baik dan lebih sehat.
  2. Berikan ruangan yang supportif serta aman dalam proses tumbuh kembang anak.
  3. Ajarkan anak tentang tujuan hidup di level yang sederhana agar dapat dimengerti.
  4. Hubungan mutualisme antara anak dan orang tua akan menentukan kualitas dunia spiritual seorang anak.

Mama perlu mewaspadai jika terjadi self-sabotaga pada remaja. Self-sabotage adalah istilah psikologis yang menggambarkan perilaku atau pola pikir seseorang yang secara tidak sadar menghalangi pencapaian tujuan atau kesuksesannya sendiri. Remaja dengan self-sabotage sering kali menunda atau lari dari tanggung jawab, banyak komplain, memiliki ekspektasi yang tidak realistis, dan sering merasa rendah diri.

Memahami Gen Z dan tantangan mental mereka menjadi langkah penting bagi orangtua. Peran aktif orangtua dalam mendampingi dan memberikan arahan yang tepat dapat membantu remaja melewati masa-masa sulit dengan lebih baik. Adopsi pola asuh yang mendukung, interaksi positif, dan komunikasi terbuka menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental dan emosional remaja Gen Z.[*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID