Anak Kecanduan Game Online, Bagaimana Orangtua Menyikapinya?

Ilustrasi anak kecanduan game online
Share

digitalMamaID – Bermain game online bisa jadi cara untuk mengusir kejenuhan atau sekadar mencari kesenangan saat luang. Namun, bagaimana jika anak kecanduan game online bahkan sampai kehilangan nyawanya?

Seperti yang terjadi di Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar baru-baru ini. Seorang siswa SMA inisial SAN (17) nekat mengakhiri hidupnya karena handphone-nya disita akibat kecanduan game online. Dikutip dari Berita Jatim, Kasi Humas Polres Blitar Iptu Heri Irianto menerangkan, kejadian ini terungkap ketika orang tua korban yakni AW (43) dan S (44) tiba di rumah setelah pergi ke wilayah Kota Blitar. Ketika keduanya pulang, korban sudah tewas tergantung di tangga menuju lantai dua.

Kepada polisi, orang tua korban mengaku kesal dengan perilaku anaknya sehingga sehari sebelum kejadian, menyita handphone miliknya. Mereka menuturkan, SAN (17) belakangan ini kecanduan game online sampai mengurung diri di kamar. Namun bukan kesembuhan yang di dapat justru kehilangan yang di dapat, SAN (17) justru depresi dan membuatnya membuat keputusan impulsif.

Kecanduan game online dan gangguan mental

Permasalahan kecanduan handphone atau game online pada anak bukanlah hal yang sepele. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah menetapkan bahwa kecanduan game atau game disorder sebagai gangguan mental. Para ahli bahkan telah menambahkan kecanduan game ke dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11), yaitu sebagai pola perilaku bermain game yang terus-menerus atau berulang yang begitu parah, sehingga “mendahulukan (game) daripada kepentingan hidup lainnya”.

Dikutip dari BBC, Dr. Richard Graham, pakar technology addiction specialist (spesialis kecanduan teknologi) di Rumah Sakit Nightingale London berpendapat, masuknya kecanduan game dalam ICD disambut baik oleh pakar-pakar kesehatan. “Ini (kecanduan game) penting karena menciptakan peluang untuk layanan yang lebih terspesialisasi. Kondisi ini menjadi sesuatu yang harus dianggap serius,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, melihat sekitar 50 kasus baru kecanduan digital setiap tahunnya dan kriterianya didasarkan pada apakah aktivitas tersebut memengaruhi hal-hal mendasar seperti tidur, makan, bersosialisasi dan pendidikan.

Banyak negara yang bergulat dengan masalah ini dan di Korea Selatan, pemerintah telah memberlakukan undang-undang yang melarang anak-anak di bawah usia 16 tahun mengakses game online antara tengah malam hingga pukul 06:00. Di Jepang, para pemain akan diperingatkan jika mereka menghabiskan lebih dari jumlah waktu tertentu setiap bulannya untuk bermain game dan di Tiongkok, raksasa internet Tencent telah membatasi jam berapa anak-anak dapat memainkan game terpopulernya.

Banyak peneliti yang menganggap bahwa kecanduan game online sebagai perilaku kecanduan yang mirip dengan gangguan perjudian, yang menganggap bahwa menang menjadi salah satu alasan utama untuk bermain. Apalagi kini pun banyak game online yang banyak menghabiskan uang.

Ciri-diri kecanduan game online

Lantas, seperti apa ciri-ciri kecanduan game online? Mengutip American Psychiatric Association, ada beberapa ciri-ciri yang harus diperhatikan, diantaranya:

  • Preokupasi dengan game online

Maksudnya, seseorang selalu berpikir tentang aktivitas game sebelumnya atau mengantisipasi untuk bermain game berikutnya. Bermain game menjadi aktivitas yang dominan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Muncul gejala penarikan saat game diambil

Biasanya seseorang yang kecanduan game online menjadi lekas marah, cemas, bosan atau sedih ketika game-nya diambil.

  • Selalu minta toleransi

Orang yang kecanduan game online memiliki kebutuhan untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain. Hal tersebut mungkin dipicu oleh kebutuhan untuk menyelesaikan tujuan yang semakin rumit, memakan waktu atau sulit untuk mencapai kepuasaan.

  • Kehilangan minat pada hobi

Pemain game online yang sudah kecanduan akan kehilangan minat pada hobi dan hiburan yang sebelumnya kerap ia lakukan. Hal tersebut sebagai akibat dari kecanduan game online.

  • Terus bermain meski merasakan dampak negatif

Seseorang akan terus bermain game online secara berlebihan, meskipun ia mengetahui adanya masalah psikososial atau dampak negatif lainnya.

  • Menipu orang lain

Pecandu game online jadi suka menipu atau membohongi anggota keluarga atau orang lain tentang permainan mereka.

  • Kehidupan pribadi jadi berantakan

Orang yang kecanduan game online dapat berisiko mengalami kehilangan pekerjaan, pendidikan atau peluang karier.

Tentu saja perilaku bermain game yang tidak normal ini harus terlihat selama jangka waktu setidaknya 12 bulan, agar diagnosis dapat ditegakkan. Namun tidak menutup kemungkinan, bahwa jangka waktu tersebut dapat dipersingkat jika gejalanya parah.

Bisakah menyebabkan kematian?

Dikutip dari NXG Indonesia, ahli neurosains yang juga penasihat Next Generation Indonesia Dr. dr Tauhid Nur Azhar, M.Kes berpendapat, game disorder atau perubahan perilaku karena adiksi bisa menjadi faktor predisposisi atau faktor yang memantik dan memperberat. Bukan agen atau patogen utamanya. Tapi bisa menjadi etiologi utama dari epidemi penyakit yang berkorelasi dengan perubahan perilaku akibat kecanduan game.

Seseorang yang mengalami gaming disorder berpotensi mengalami perubahan pola tidur yang dapat mempengaruhi siklus sirkadian dan fungsi endokrin mereka. Pola makan yang berubah juga dapat menyebabkan malnutrisi, yang berhubungan dengan status kekebalan tubuh dan gangguan metabolik.

Adanya penyakit bawaan, seperti kelainan genetik atau metabolisme, dapat berinteraksi dengan dampak patologis dari gaming disorder. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik dan isolasi sosial (seperti pada kasus hikikomori) dapat meningkatkan akumulasi stres yang memengaruhi status psikoneuroimunologi (PNI). Jika ada infeksi, kondisi ini dapat menjadi lebih parah karena status kekebalan tubuh yang lemah, menciptakan efek yang saling mempengaruhi dengan tingkat kontribusi yang bervariasi.

Peran orangtua di era digital

Era digital ini tentu jadi tantangan besar bagi orang tua. Anak kecanduan game online hanya salah satu tantangan itu. Semua hal mengalami perubahan mengikuti perubahan zaman. Pola asuh berubah, cara belajar anak berubah, cara berinteraksi berubah. Anak-anak di era digital saat ini tidak bisa lepas dari teknologi digital. Sebagai orang tua, tentu perlu meng-upgrade diri untuk mendampingi juga mengarahkan anak ke arah yang positif.

Santi Indra Astuti, Program Manajer Tular Nalar sekaligus aktivis digital literasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia) mengatakan, pentingnya literasi digital kepada orangtua dan calon orangtua tentang pola pengasuhan anak (parenting) di era digital. Hal ini mencakup aturan di rumah tentang bagaimana orangtua memberi akses gadget ke anak, termasuk pendampingan dan pembatasan yang diterapkan. Selain itu, bagaimana regulasi orangtua mengakses gadget saat bersama anak.

“Parenting (di era digital), eranya bisa berubah-ubah, tools-nya bisa berubah-ubah. Mungkin ke depannya akan lebih dikenal sebagai, ‘era robot AI’ mungkin? Tapi parenting-nya tetap yg paling bold,” katanya.

Hal ini perlu ditekankan pada calon orangtua, bahkan saat mereka memutuskan untuk menikah. Ia mendorong agar bimbingan pranikah yang diselenggarakan Kantor Urusan Agama (KUA) memasukkan topik literasi digital ini. “Jadi tetap relevan jika literasi digital dipastikan menjadi salah satu bahan bimbingan pra nikah,”

Ketua Umum Siberkreasi Donny BU dalam materinya  yang berjudul Paham Risiko Keselamatan Anak Era Digital/Al memberikan tiga cara untuk berdiskusi dengan anak sebelum terjun di dunia maya, yaitu:

1. Diskusikan kebutuhannya

Tanyakan mengapa harus memakai gadget dan mengakases internet. Tanamkan bahwa membeli atau memiliki sesuatu harus berdasarkan kebutuhan, bukan tren.

2. Diskusikan tanggung jawabnya

Anak harus paham bahwa orangtua berhak untuk menanyakan bagaimana dan untuk apa teknologi itu digunakan. Tegaskan konsekuensi apabila teknologi tersebut disalahgunakan.

3. Diskusikan risikonya

Jelaskan pada anak tentang penyalahgunaan, risiko, maupun hal negatif yang dapat timbul dari penggunaan gadget dan internet. Ingatkan anak untuk bercerita apabila mendapatkan hal yang tidak menyenangkan di internet.

Donny membagikan tujuh cara orangtua berperan di era digital ini yaitu dengan perkuat komunikasi dengan anak, membekali diri terus belajar, gunakan aplikasi Parental Control, membuat aturan bersama, menjadi teman dan follower anak di media sosial, bermain bersama anak di internet dan terakhir jadilah teladan digital bagi anak.

Menjadi orangtua di era digital sangat menantang. Tidak ada cara lain selain belajar dan terus belajar. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID