5 Rekomendasi Buku tentang Perempuan: Luka, Daya Juang, dan Ruang untuk Pulih

Buku perempuan
Share

digitalMamaID — Menjadi perempuan seringkali berada dalam kondisi hidup yang berlapis-lapis, antara mimpi, peran, luka sekaligus kekuatan yang menopangnya. Ada perempuan yang berjuang melawan tradisi yang mengekang, ada yang bertahan dalam tekanan hidup sehari-hari, ada pula yang sedang mencari kembali dirinya di tengah peran sebagai ibu atau individu.

Di tengah kerumitan itu, buku bisa menjadi ruang aman untuk belajar memahami dan menguatkan diri sendiri. Lewat kisah di dalamnya kita bisa refleksi pengalaman perempuan lainnya yang juga memiliki tantangan serupa.

Berikut lima bacaan tentang perempuan rekomendasi digitalMamaID yang dapat membantu membuka sudut pandang baru mengenai luka, daya juang dan proses menjadi diri sendiri.

1. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam


Penulis: Dian Purnomo

Editor: Ruth Priscilia Angelina

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Magi Diela diculik dan dijinakkan seperti binatang. Sirna sudah impiannya membangun Sumba. Kini dia harus melawan orangtua, seisi kampung, dan adat yang ingin merenggut kemerdekaannya sebagai perempuan. Ketika budaya memenjarakan hati Magi yang meronta, dia harus memilih sendiri nerakanya: meninggalkan orangtua dan tanah kelahirannya, menyerahkan diri kepada si mata keranjang, atau mencurangi kematiannya sendiri.

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam ditulis berdasarkan pengalaman banyak perempuan korban kawin tangkap di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tradisi kawin tangkap menggedor hati Dian Purnomo untuk menyuarakan jerit perempuan yang seolah tak terdengar yaitu sebuah praktik adat yang kerap berubah menjadi kekerasan terhadap perempuan tanpa persetujuan.

Cerita ini membuka mata bahwa tidak semua adat layak dilestarikan, terutama ketika sudah melukai kemanusiaan. Bagian paling menyakitkan adalah ketika Magi, setelah mengalami kekerasan, justru dipaksa menikah dengan pelakunya demi menjaga nama baik keluarga. Kisahnya memantik emosi, marah sekaligus sedih namun juga menunjukkan keteguhan Magi dalam memperjuangkan kebebasannya di tengah lingkungan yang tidak berpihak. Magi menjadi simbol bahwa di tengah kerasnya realitas, perempuan tetap memiliki daya untuk melawan dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

2. Entrok

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri. Adakah yang salah jika mereka berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Novel Entrok karya Okky Madasari menghadirkan potret getir kehidupan perempuan melalui tokoh Marni yang berjuang keluar dari kemiskinan dengan cara-cara yang sering kali berbenturan dengan norma sosial dan kekuasaan. Berlatar masa Orde Baru, cerita ini menyoroti bagaimana tubuh, pilihan, dan keyakinan perempuan kerap dikontrol oleh sistem patriarki, negara, hingga praktik-praktik mistik yang hidup di masyarakat. Novel ini menjadi kritik tajam terhadap ketidakadilan sosial, represi politik, serta beban berlapis yang harus ditanggung perempuan, sekaligus memperlihatkan daya tahan dan keberanian mereka dalam mempertahankan hidup di tengah tekanan.

3. Anatomi Perasaan Ibu

Penulis: Sophia Mega

Penerbit : EA Books

Buku ini merupakan buku reflektif yang membicarakan sisi emosional perempuan dalam peran sebagai ibu. Selama ini, perempuan kerap dibingkai dalam gambaran ibu ideal yang kuat, sabar, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Padahal, di balik itu, ada banyak lapisan perasaan yang tidak sederhana: lelah, ragu, kehilangan diri, bahkan rasa bersalah yang datang silih berganti.

Anatomi Perasaan Ibu hadir untuk membuka ruang itu sebagai bahan refleksi bagi perempuan untuk lebih memahami dirinya sendiri di tengah peran yang dijalani. Berisi potongan pengalaman, emosi, dan pemikiran yang dekat dengan keseharian, tulisan Sophia Mega mengajak pembaca untuk menerima bahwa menjadi ibu adalah proses yang kompleks dan sangat manusiawi. Buku ini bisa menemani perempuan agar merasa tidak sendiri dan memberi ruang untuk berdamai dengan perasaan-perasaan yang selama ini dipendam.

4. Empowered ME (Mother Empowers)


Penulis : Putri Puar

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Empowered ME (Mother Empowers) karya Putri Puar adalah buku pengembangan diri yang mengajak perempuan, terutama ibu untuk kembali melihat dirinya sebagai individu yang utuh, bukan sekadar peran. Disusun dengan bahasa yang ringan dan dekat dengan keseharian, buku ini terasa seperti teman refleksi yang hangat dan tidak menggurui. Buku ini seperti mengajak para ibu membuka kembali “peta diri” yang sempat terlipat kemudisn melihat ulang mimpi dan dan hal-hal yang benar-benar penting.

Buku ini cukup aplikatif karena dilengkapi berbagai tools seperti wheel of life panduan refleksi, hingga template perencanaan yang bisa langsung digunakan, mulai dari harian sampai tahunan. Lewat buku ini, pembaca diajak bergerak perlahan menemukan kembali ritme hidup yang lebih selaras antara diri sendiri dan peran yang dijalani.

5. Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna


Penulis : Najeela Shihab

Penerbit : Literati

Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna karya Najeela Shihab adalah kumpulan esai reflektif yang berbicara tentang kehidupan perempuan dalam spektrum yang sangat luas. Buku ini mengajak pembaca melihat cinta sebagai sesuatu yang hadir dalam relasi yang beragam dengan diri sendiri, keluarga, sesama perempuan, hingga kehidupan yang dijalani sehari-hari.

Isi buku ini terdiri dari tulisan-tulisan pendek yang membahas banyak isu yang dekat dengan kehidupan perempuan: dilema ibu bekerja, relasi ibu dan anak, stigma terhadap perempuan lajang atau ibu tunggal, hingga kecenderungan perempuan saling menghakimi. Buku ini disusun sebagai hasil observasi dan refleksi pribadi penulis terhadap pengalaman hidupnya dan perempuan di sekitarnya.

Saat membaca buku ini kita seakan memiliki teman duduk yang menemani kita berpikir ulang tentang diri sendiri. Banyak bagian terasa relatable, terutama bagi perempuan yang sedang berada di tengah banyak peran dan tuntutan. Buku ini juga mengingatkan bahwa perjalanan setiap perempuan berbeda, dan tidak ada satu standar hidup yang bisa dipaksakan untuk semua.

Semoga rekomendasi buku-buku tentang perempuan ini dapat menambah referensi juga membuka ruang untuk memahami cerita, luka, dan cara bertahan yang berbeda. Dari kisah perlawanan, pergulatan batin, hingga proses berdamai dengan diri sendiri, semua kisah di buku ini menunjukkan kita tidak sendirian, Mama! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE