Fitur Chat Game Online yang Membahayakan Anak

Ilustrasi fitur chat game online
Share

digitalMamaID – Fitur chat game online menjadi pintu masuk berbagai tindakan yang mengancam keselataman anak. Orangtua perlu mewaspadai fitur percakapan ini pada game yang dimainkan anak.

Fitur chat memungkinkan gamer berinteraksi dengan pengguna lainnya. Ini yang membuat mabar (main bareng) makin seru. Akan tetapi, fitur ini menjadi berbahaya ketika dimanfaatkan orang dewasa untuk mengelabuhi dan mengekploitasi anak-anak secara seksual.

“Permasalahan game online ini sebenarnya adalah di fitur chat ini. Kita enggak bisa mengontrol chat orang, bahkan secanggih apapun teknologi AI (artificial intelligence) yang dipakai,” kata CEO Next Generation Indonesia Khemal Andrian ditemui di Bandung pekan lalu.

Ia mengatakan, fitur chat game online seperti di Mobile Legends misalnya, sudah bisa menangkal kata-kata tertentu. Tapi tetap saja masih ada celah. “Kata ‘anjing’ pada konteks tertentu tidak bisa diblok. Karena konteksnya apakah hewan atau memaki. Belum lagi kata yang disensor dengan bintang, itu juga sudah bisa lolos,” tuturnya.

Berbahaya untuk anak

Fitur chat game online bisa membahayakan anak. Khemal mengatakan, fitur ini membuat orang dewasa melakukan grooming. Grooming merupakan kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang paling sering terjadi pada anak. Tindakan ini berupa mengajak atau membujuk anak yang bertujuan untuk mengeksploitasi anak secara seksual.

“Biasanya kejadian (pelecehan seksual anak) enggak di situ (fitur chat). Fitur chatting itu membuat kemungkinan orang dewasa untuk melakukan grooming di situ. Si anak enggak tahu itu siapa. Mungkin dia pikir itu temannya,” tuturnya.

Pelaku biasanya memang lihai merayu anak-anak yang gemar bermain game. Biasanya diawali dengan tawaran tukar-menukar skin game. “Akhinya nanya, ‘kamu punya nomor Hp enggak?’ Lalu pindah platform,” ujarnya.

Modus-modus seperti ini yang paling sering terjadi. Ini pula yang terjadi dengan pelecehan seksual yang berawal dari permainan Free Fire yang ramai pada 2021 lalu.

Hal serupa juga terjadi dengan Hago pada 2019 lalu. Fitur chatting dimanfaatkan pelaku grooming hingga game diblokir sementara dan fitur berkirim pesan ditutup.

Khemal mengatakan, Hago tak ubahnya dengan Roblox, platform game berbasis user generated content (UGC). Baik Roblox dan Hago hanya menyediakan platform saja. Penggunanya bisa membangun game sendiri. Model seperti ini membuat sulit untuk mengendalikan isi gamenya. Itu sebabnya Mama harus memahami sistem klasifikasi game.

Aplikasi Roblox sendiri sebenarnya ditujukan untuk anak di atas 13 tahun. Akan tetapi, di dalam aplikasi tersebut tersedia pula game untuk semua umur. Biasanya, game untuk semua usia ini tidak menyediakan fitur chat. Pengguna tidak bisa saling berkirim pesan. “Beberapa game anak disarankan agar fitur chat bisa diblok,” ujar Khemal.

Catatan untuk orangtua

Khemal mengakui, tidak semua game itu berdampak buruk. Ada permainan yang memang bisa membantu anak-anak belajar. Game edukasi tentu akan membantu orangtua dan guru. Tapi tak bisa dimungkirri, ada game yang tidak cocok dimainkan anak-anak.

“Kesalahan orangtua menilai game itu karena bentuknya animasi atau kartun jadi banyak yang menganggap pasti itu untuk anak-anak. Padahal kartun pun tidak semua untuk anak. Ada dialog yang tidak semestinya untuk anak,” tutur Khemal.

Pada situasi seperti ini, literasi digital orangtua menjadi senjata utama. Orangtua harus memahami klasifikasi dan sistem rating game. Dengan begitu, orangtua bisa membuat penilaian dan keputusan apakah game tersebut cocok untuk usia anaknya.

“Enggak semua game, video game, itu untuk anak-anak. Perspektif itu yang harus ditempel orangtua,” kata Khemal. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *