Child Grooming, KBGO pada Anak yang Paling Sering Terjadi

ilustrasi child grooming, KBGO pada anak yang sering terjadi
Share

digitalMamaID – Kekerasan berbasis gender online (KBGO) pada anak yang paling sering terjadi ialah child grooming. Kehadiran orang tua sangat diperlukan untuk mencegah hal ini terjadi pada buah hati tersayang.

Kekerasan berbasis gender online (KBGO) bisa menimpa semua usia, tidak terkecuali anak-anak. Bahkan, anak-anak usia remaja dianggap rentan menjadi korban dan pelaku dalam kasus KBGO. Peran orang tua sangat dibutuhkan agar bisa mencegah kasus KBGO pada anak-anak. Apalagi, anak dan gadget sudah menjadi sahabat baik di era digital ini.

Berdasarkan data dari ECPAT dan UNICEF tahun 2022, 92% anak dari usia 12-17 tahun di Indonesia telah menggunakan internet dan menggunakan smartphone, 23% anak-anak yang usianya lebih muda berbagi ponsel dengan orang lain.

Sebesar 11% dalam 1 tahun terakhir, anak-anak berkenalan dengan seseorang yang mereka temui pertama kali secara daring, 22% anak-anak menemukan konten seksual tidak terduga secara daring melalui iklan, umpan media sosial, mesin pencari dan aplikasi perpesanan serta 9% aktif mencari materi seksual.

Pada 2021, SAFEnet mencatat ada 667 aduan kasus KBGO. Modus yang digunakan mulai dari intimidasi, penipuan, grooming, bahkan fitnah.

Child grooming dan KBGO pada anak

Kasus KBGO pada anak yang sering terjadi adalah child grooming. Child grooming merupakan suatu tindakan mengajak atau membujuk anak yang bertujuan untuk mengeksploitasi anak secara seksual. Pada umumnya, proses grooming ini dilakukan secara bertahap, dimulai dengan seleksi calon korban.

Kasus ini menjadi ancaman bagi orang tua agar bisa selalu menerapkan pola asuh yang sehat kepada anak. Pasalnya, dalam kasus child grooming para pelaku terlebih dahulu menjadi teman atau sahabat yang selalu ada untuk korban hingga memberikan kenyamanan. Tujuannya, agar korban merasa tidak berdaya saat pelaku mulai melakukan aksinya.

Penulis dan fasilitator gender Kalis Mardiasih menjelaskan, usia remaja merupakan sasaran empuk untuk para pelaku KBGO. Bahkan, pelakunya pun bisa jadi seusia para korban.

Dalam kasus child grooming ini, kata dia, pelaku secara perlahan mendekati korbannya. Dengan cara membuat korban senyaman mungkin saat bersama pelaku. Pelaku akan selalu ada untuk korban, memberikan perhatian lebih, bisa setiap saat menjadi teman curhat korban.

“Bahkan, saking nyamannya korban kepada pelaku. Korban jadi enggan bercerita kepada orangtuanya dan merasa kurang nyaman di dekat orang tuanya,” ujarnya

Masih kata Kalis, pelaku child grooming ini bisa menjadi pengepul konten. Dimana, jika korban sudah merasa sangat nyaman pelaku bisa dengan leluasa memperdaya korban.

“Mulai dengan meminta foto atau video yang biasa saja sampai dengan foto atau video vulgar. Ini akan menjadi senjata bagi pelaku untuk mengintimidasi korban apabila sewaktu-waktu korban tidak mau menuruti keinginan pelaku,” ucapnya.

Kalis menyarankan, agar orang tua bisa mencegah kasus KBGO agar tidak menimpa anak-anak. Pasalnya, kasus KBGO ini akan sulit diselesaikan secara hukum.

“Prosesnya akan lama dan panjang karena kita tidak bisa melaporkan kasus ini hanya di tingkat Polres, harus ke Polda atau Mabes (Polri). Meskipun sudah banyak payung hukumnya, tapi antara payung hukum satu dengan yang lain itu tidak selaras. Misalnya, undang-undang ITE dan Pornografi,” ucapnya.

Tahapan pelaku child grooming

Pelaku memilih korbannya dengan mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya:

  • Daya tarik korban (appeal/attractiveness) yang ditentukan oleh hasrat pelaku sendiri.
  • Kemudahan akses media sosial korban (misalnya, pengaturan privasi pada situs, platform, atau aplikasi yang digunakan oleh korban belum terpasang atau disabled).
  • Kerentanan korban (misalnya, korban memposting kondisinya yang sedang tinggal sendiri di rumah atau merasa tidak bahagia secara psikologis).

Setelah menentukan target korbannya, pelaku akan mencoba berbagai cara untuk menghubungi korban. Apabila sudah berhasil, pelaku akan berusaha membangun hubungan pertemanan dengan korban dan menciptakan suasana yang nyaman bagi korban.

Hingga akhirnya korban merasa terikat secara emosional dengan pelaku dan mungkin memiliki hubungan romantis dengan pelaku, di saat itulah pelaku siap melakukan aksi kejahatannya, yakni mengeksploitasi korban secara seksual.

Beberapa tahap pelaku Child Grooming, diantaranya:

1. Selecting

Hal pertama yang dilakukan pelaku yaitu memilih korban. Korban dipilih biasanya berdasarkan daya tarik fisik yang mereka rasakan, kemudahan akses, hingga kerentanan yang dirasakan.

2. Accesing

Pelaku mencari akses untuk bisa dekat dengan anak-anak. Modus yang dilakukan pelaku kejahatan seksual ini selalu jeli melihat akses yang ada dan selalu bisa menemukan anak-anak yang mudah dijangkau tanpa kecurigaan.

3. Trust building

Tahapan dalam membangun kepercayaan dan ikatan emosional dengan korbannya. Biasanya pelaku akan memberikan hadiah dan memuji-muji anak hingga para korban mulai percaya pada pelaku dan mulai termanipulasi.

4. Silent

Tahapan ini pelaku yang sudah melakukan kejahatanya akan meminta korban untuk merahasiakan perbuatannya. Pelaku bahkan bisa mengancam korban supaya korban merasa takut dan tidak bisa mengadu kepada orang lain. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID