YouTube: Ladang Monetisasi atau Medan Eksploitasi?

Ilustrasi YouTube
Share

digitalMamaID – Popularitas platform streaming online YouTube kini menggeser kedudukan televisi sebagai media yang paling banyak diakses di Indonesia. Mulai dari penduduk urban hingga rural dapat mengakses YouTube dimanapun dan kapanpun.

Namun, kemudahan akses digital ini bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi memberikan banyak dampak positif, di sisi lain juga dapat memberikan dampak negatif jika tidak dibarengi dengan literasi digital.

Bahkan perkembangannya yang dahsyat ini, mengakibatkan pergeseran cita-cita pada anak-anak. Fenomena ini pun menggelitik Dr. Syafrida Febriyanti, Dosen Ilmu Komunikasi UPN Jatim untuk melakukan riset secara ilmiah.

Berawal dari melihat video seorang anak kecil, Rafi Fadila, siswa VI SDN 36 Pekanbaru yang di wawancarai oleh Pak Jokowi tentang cita-citanya. Tanpa ragu Rafi menjawab ingin menjadi seorang youtuber. Alasannya adalah karena ingin memiliki banyak uang. Padahal selama ini anak-anak jika ditanya tentang cita-cita, kebanyakan menjawab ingin menjadi dokter, insyinyur, tentara atau guru.

“Berangkat dari sanalah saya mulai meriset kok kayaknya anak-anak ini mulai ada pergeseran cita-cita. Tertarik menjadi youtuber karena uangnya banyak, bukan lagi ingin menjadi dokter karena ingin menyembuhkan pasien. Kok orientasinya langsung cuan?” ungkapnya dalam Live Instagram bersama DigitalmamaID pada Juli lalu.

Lebih lanjut lagi, Feby, panggilan akrab pencetus Ghibah Ilmiah ini menjelaskan bahwa anak-anak di era sebelumnya menggunakan YouTube hanya untuk nonton kartun dan film. Sedangkan setelah era kemunculan Atta Halilintar dan Ria Ricis tahun 2017, mereka mulai menonton daily vlog. “Jadi tidak ada bedanya real life dan virtual life. Mereka merasa memiliki teman banyak tapi di YouTube semua. Jika ini tidak di riset secara ilmiah, pasti hanya akan dianggap ya memang sudah era digital,” tegasnya.

Peran audiens di era post-televisi

Pada era televisi, audiens dianggap pasif, sebaliknya media dianggap aktif dan sangat berkuasa, media dianggap selalu benar. Kemudian muncul teori lain yang menganggap audiens itu sebenarnya aktif, aktif dalam memproduksi makna. Siaran televisinya satu tapi bisa dimaknai berbeda-beda oleh audiens.

Setelah selesai teori audiens, mulai bergeser ketika media sosial hadir, tidak ada lagi audiens, yang ada adalah user (pengguna). Para optimistik, ahli-ahli teknologi menyatakan internet ini telah mengubah keberadaan manusia, dimana kita tidak hanya jadi penonton tapi bisa jadi produser yang bisa mengunggah apapun. “Apakah benar seperti itu? Kulihat dan kurasa, yang menonton masih banyak daripada yang memproduksi apalagi kalau lihat YouTube. Media sosial itu asal unggah, jepret demi eksistensi. YouTube itu diproduksi, melalui proses editing, proses kreatif,” lanjutnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by digitalMamaID (@digitalmamaid)

Kemudian muncul monetisasi YouTube di era Ria Ricis dan Atta Halilintar sehingga mereka mudah mendapatkan uang. YouTube pada akhirnya telah mengubah posisi audiens yang termarjinalkan di televisi, yang hanya sebagai konsumen konten menjadi memiliki kesetaraan. Dimana semua orang bisa memproduksi konten, bisa menayangkan sesuatu yang tidak bisa ditayangkan di televisi dan menjadi keuntungan.

Anak muda dan digital labour

Dalam melakukan riset selama lima tahun, Feby memutuskan untuk melakukan riset terhadap audiens, yaitu anak-anak muda yang sudah menonton YouTube dari SD, dari yang hanya menonton kartun dan film.

  • Hasilnya adalah masih banyak yang merasa penonton, the real penonton, tidak memproduksi, tidak jauh dengan penonton televisi hanya saja mereka bisa langsung komentari, like dan subscribe. Mereka sadar aktivitas mereka menguntungkan platform dan kreator tapi mereka tidak mempermasalahkan.
  • Yang kedua, ada juga yang menganggap ini kesempatan bisa ikut memproduksi, bisa monetisasi dari konten-konten yang disukai, misalnya gaming.
  • Ketiga, ada yang ingin melawan algoritma atau monetisasi tapi tidak mudah. Proses monetisasi dari tahun ke tahun itu semakin sulit. User generate content atau youtuber yang belum dapat keuntungan, banyak yang berubah haluan, misalnya dari membuat konten teknologi jadi konten mukbang demi mendapatkan viewer.

Feby pun sampai di kesimpulan bahwa ada dua hal yang saling tarik menarik, fakta bahwa YouTube itu kesempatan bagi siapapun, anak-anak muda bahkan ibu rumah tangga untuk memanfaatkan YouTube sebagai sarana edukasi, mencari keuntungan meskipun tidak mudah. Tetapi, lebih banyak lagi anak-anak muda yang pasif, tidak memanfaatkan kesempatan, hanya menjadi audiens. Mereka tidak sadar telah menjadi digital labour, menjadi pekerja yang tidak dibayar, memberikan keuntungan terhadap paltform dan kreator.

“Ketika menjadi pasif audiens secara sadar atau tidak sadar, tidak hanya memberikan keuntungan saja lewat aktivitasnya tapi seringkali kita malah ikut mempromosikan kembali ke berbagai media. Platform dan kreator jelas diuntungkan, sedangkan kita kehabisan waktu dan kuota, data kita pun ikut di eksploitasi,” jelasnya.

Pada akhirnya kita sebagai audiens atau pembuat konten harus bisa memilih mau memperjuangkan isi atau mengikuti yang viral. Menunggu aturan pemerintah terhadap media digital pasti lama dan sulit diregulasi. Hanya literasi digital saja rasanya tidak cukup tetapi, harus literasi digital kritis. Kritis itu tahu mana yang baik dan buruk. Jika ingin membuat konten, buatlah yang baik. Jika hanya sebagai audiens, tontonlah yang baik-baik. Jadilah diri sendiri. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *