Pesta Babi: Pembangunan dan Hilangnya Ruang Hidup Masyarakat Papua

Poster Pesta Babi
Share

digitalMamaID — Di tengah gencarnya proyek pembangunan dan transisi energi, film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” memperlihatkan bagaimana ekspansi industri perlahan mengubah hutan Papua sekaligus ruang hidup masyarakat adat. Lewat visual yang kuat dan investigasi mendalam, film ini menyoroti wajah kolonialisme modern yang hadir melalui investasi, proyek strategis nasional, dan narasi kemajuan.

Suara mesin terdengar memecah sunyi hutan. Kamera bergerak perlahan memperlihatkan kapal-kapal besar, alat berat, jalan tanah yang mulai terbuka, lalu berganti pada wajah-wajah masyarakat adat yang berdiri memandang wilayahnya sendiri. Di banyak titik, salib merah raksasa dipancang di batas hutan. Bukan sekadar simbol agama, melainkan penanda bahwa hutan masih dijaga.

Sesekali, adegan memperlihatkan bentang hijau Papua dari udara: hutan lebat, rawa, sungai, dan kabut pagi yang masih menggantung. Namun ketenangan itu terus dipotong oleh suara ekskavator dan deretan kendaraan proyek. Kontras visual inilah yang kerap muncul dalam Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film ini memperlihatkan potret Papua yang perlahan berubah, dari ruang hidup masyarakat adat menjadi wilayah industri atas nama pembangunan.

Film dokumenter investigatif karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale ini membawa penonton melihat situasi di Papua Selatan. Masuk ke Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, wilayah yang kini menjadi sasaran proyek pangan dan bioenergi skala besar. Atas nama pembangunan, ketahanan pangan, dan transisi energi, jutaan hektare hutan Papua terancam dibuka untuk industri tebu, sawit, hingga food estate.

Papua bukan tanah kosong

Papua merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di Indonesia. Pulau ini menjadi rumah bagi ribuan spesies flora-fauna serta masyarakat adat yang hidup bergantung pada hutan sejak turun-temurun.

Judul Pesta Babi sendiri bukan dipilih tanpa makna. Dalam budaya masyarakat adat Papua, pesta babi merupakan bagian penting dari kehidupan sosial, ritual adat, dan hubungan antar komunitas. Judul film ini jadi terasa seperti ironi. Tanah dan hutan yang menopang kehidupan masyarakat adat perlahan terdesak oleh proyek industri.

Salah satu simbol yang paling menonjol dalam film aadalah kehadiran salib merah di berbagai wilayah adat Papua Selatan. Bagi masyarakat Awyu dan Marind, salib merah menjadi bentuk perlindungan spiritual sekaligus perlawanan damai terhadap pembukaan hutan dan perampasan tanah adat. Kehadirannya menjadi penanda bahwa hutan, leluhur, dan masa depan masyarakat adat Papua masih dijaga.

1800 palang salib bukan sekadar lambang agama, tapi mencegah negara dan perusahaan masuk hutan adat Papua.

Pesta Babi tidak hanya berbicara tentang hutan yang hilang. Film ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat adat Papua menghadapi perubahan yang datang begitu cepat ke ruang hidup mereka. Tanah yang selama ini menjadi tempat berburu, berkebun, melakukan ritual adat, dan membesarkan anak-anak perlahan berubah menjadi wilayah konsesi perusahaan.

Kolonialisme dalam film ini digambarkan bukan lagi lewat penjajahan bersenjata seperti di masa lalu, tetapi melalui iming-iming investasi, proyek strategis nasional, aparat keamanan, dan narasi pembangunan yang mengatasnamakan kemajuan. Papua seolah dipandang sebagai lahan kosong yang siap diolah, padahal ada masyarakat yang telah hidup turun-temurun bersama hutannya.

Kami masyarakat setempat tidak tahu. Kami kaget, pagi-pagi kapal (mengangkut ekskavator) sudah ada di pelabuhan kami.

Perempuan yang melawan dan menjaga ingatan

Di beberapa adegan, perempuan Papua hadir melengkapi kedalaman nilai visual. Mereka tampak menjadi penjaga cerita dan kehidupan sehari-hari: menyiapkan makanan, merawat keluarga, menjaga tradisi, hingga turun melawan dengan meneruskan pengetahuan tentang tanah dan hutan Papua pada anak-anak mereka.

Salah satu scene yang paling membekas, memperlihatkan beberapa perempuan Papua yang harus menjalani masa kehamilan di tengah situasi pengungsian. Dalam keterbatasan dan ketidakpastian hidup akibat konflik, mereka melahirkan anaknya di pengungsian. Nama sang anak bahkan disematkan unsur “pengungsi” sebagai pengingat atas situasi yang mereka alami. Adegan ini menjadi gambaran paling nyata bahwa konflik perebutan tanah dan hutan tidak berhenti pada hilangnya pohon atau wilayah adat, tetapi juga meninggalkan trauma yang terus hidup dalam tubuh, keluarga, dan generasi berikutnya.

Data infografis berlapis

Serupa dengan laporan mendalam khas jurnalisme investigasi, dokumenter yang diproduksi kolaborasi WatchdocWatchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat dan Greenpeace Indonesia ini juga menghadirkan rangkaian data visual infografis yang disusun detail. Film ini menunjukkan wilayah hutan yang dibuka, masyarakat adat yang terdampak, sekaligus menyoroti jejaring perusahaan di balik proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu di Papua Selatan. Nama perusahaan induk, anak perusahaan, hingga hubungan kepemilikannya ditampilkan secara berlapis, memperlihatkan bagaimana konsesi dalam skala besar saling terhubung pada kelompok pemilik modal yang sama.

Penyajian data dalam film ini terasa seperti membaca laporan investigasi yang divisualisasikan ke layar. Selain narasi emosional tentang hutan yang hilang, Pesta Babi juga mencoba membantu penonton memahami siapa aktor-aktor di balik ekspansi industri tersebut dan bagaimana jejaring bisnisnya bekerja. Film ini mengajak penonton merasa sedih dan marah, sekaligus menyadari bahwa kerusakan hutan berkaitan erat dengan konsentrasi kekuasaan dan kepentingan ekonomi dalam skala besar.

Nobar dibubarkan, film menjamur di berbagai kota

Pesta Babi pertama kali ditayangkan pada 12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sejak itu, kesempatan nobar (nonton bareng) pun mulai dibuka di berbagai kota. Mei 2026, Pesta Babi makin ramai diperbincangkan setelah sejumlah pemutaran filmnya dibubarkan dan dilarang di berbagai daerah. Alasannya keamanan, kondusivitas atau dianggap provokatif. Namun pembubaran itu justru memunculkan efek sebaliknya. Film Pesta Babi semakin dicari, dibicarakan dan diputar secara mandiri oleh komunitas warga, mahasiswa, pelajar, pondok pesantren, kelompok baca, hingga jurnalis independen.

Bedah film dan diskusi interaktif pun semakin ramai digelar sebagai ruang solidaritas sekaligus bentuk perlawanan terhadap upaya pembungkaman kebebasan berekspresi, berdiskusi, dan menyuarakan isu lingkungan serta hak masyarakat adat.

Film ini mengingatkan kita, kolonialisme modern dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus. Melalui investasi, proyek pembangunan, perampasan ruang hidup, hingga narasi kemajuan yang perlahan menyingkirkan masyarakat adat dari tanahnya sendiri.

Jika ada nobar di wilayah Mama tinggal, sempatkan menonton “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE