Vaginismus Bukan Kesalahan Perempuan, Mereka Berhak Mendapatkan Pertolongan

ilustrasi vaginismus
Share

digitalMamaID – Perempuan yang menderita vaginismus berhak mendapatkan penanganan yang tepat. Seperti halnya penyakit lainnya, vaginismus pun perlu diobati agar kondisinya membaik.

Vaginismus adalah penyakit berupa kondisi ketika otot-otot di sekitar vagina menegang atau berkontraksi secara tidak sadar, sehingga menyebabkan rasa sakit atau membuat penetrasi sulit dilakukan. Meski belum diketahui penyebabnya, tetapi vaginismus bisa diobati dan ditangani agar perempuan yang mengalaminya dapat lebih sehat secara fisik dan psikis.

Seorang ibu berinisian N dari Kota Cimahi menghadapi tantangan tersembunyi sejak malam pertama pernikahan tahun 2015 silam. Tubuhnya tidak bisa menerima penetrasi suaminya.

Hingga enam bulan pertama, setiap upaya hubungan seksual selalu berujung pada rasa sakit dan kegagalan. Kondisi ini menumbuhkan rasa takut bagi keduanya untuk kembali mencoba. Meski begitu, hubungan suami-istri tetap dijalankan tanpa penetrasi maksimal.

“Kenyamanan tidak pernah benar-benar tercapai. Saya kerap harus menahan rasa sakit atau berpura-pura menikmati,” katanya kepada digitalMamaID.

Hambatan diagnosis kondisi

Memasuki tahun pertama pernikahan, pasangan ini mulai mendatangi dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) untuk menjalani program kehamilan. Kendati demikian, pemeriksaan medis menemui jalan buntu.

“Alat USG transvaginal sangat sulit dimasukkan karena tubuh saya secara refleks terus bergerak dan menolak akibat rasa sakit dan tegang. Alhasil, program kehamilan yang berjalan selama tiga siklus tersebut gagal,” ujarnya.

Sejak itu keduanya memilih menerima kondisi tersebut tanpa curiga dengan penyebab besarnya yang masih tersembunyi. Hanya saja, keinginan untuk memiliki keturunan selalu mereka harapkan.

Tahun 2020, ia sempat berkonsultasi secara daring setelah membaca kisah serupa di media sosial. Namun, rencana pengobatan tersebut harus ditunda karena estimasi biaya yang cukup besar. Mereka berpikir, situasi ini masih bisa dihadapi.

Akan tetapi, menjelang tahun kedelapan pernikahan, mereka kembali menjalani program kehamilan karena keduanya begitu ingin memiliki anak. Bedanya, dokter kandungan yang baru mulai mencurigai adanya indikasi vaginismus melihat dari sulitnya proses pemeriksaan.

“Dugaan tersebut semakin menguat ketika prosedur histerosalpingografi (HSG) gagal total karena dokter radiologi sama sekali tidak dapat memasukkan kateter akibat otot vagina saya yang terus menolak. Dari situlah saya mendapatkan rujukan resmi untuk menemui ahlinya,” tuturnya.

Perjuangan hingga mampu dilatasi mandiri

Diceritakan ibu N, setelah berkonsultasi dengan ahli vaginismus, ia dan suaminya akhirnya memahami kondisi yang selama ini mereka hadapi. Sebelum diagnosis ini, serangkaian tes kesuburan telah dilakukan, dan hasilnya menunjukkan tidak ada gangguan kesuburan pada kedua belah pihak.

Setelah diagnosis vaginismus ditegakkan, ibu N memutuskan untuk menjalani prosedur dilatasi berbantu yang dipandu oleh dokter. Dilatasi bertujuan membantu otot-otot di sekitar vagina beradaptasi secara bertahap terhadap tekanan atau penetrasi. Namun, ia menyadari bahwa tindakan medis tersebut hanyalah langkah awal untuk memudahkannya melanjutkan proses pemulihan di rumah.

“Ternyata, kunci utama kesembuhan terletak pada dilatasi mandiri yang harus dilakukan secara konsisten oleh pasien. Proses ini menuntut tekad dan keinginan kuat dari dalam diri sendiri. Selama satu tahun penuh, saya berjuang melewati fase on-off saat mencoba penetrasi bersama suami. Selain itu, saya juga berkonsultasi ke psikiater, melakukan teknik jurnaling, serta mengonsumsi obat pendukung,” katanya.

Kehamilan alami dan penerimaan diri

Dua tahun setelah tindakan medis awal, kesabaran dan perjuangannya berbuah manis. Ia berhasil hamil secara alami dan atas pertimbangan medis demi kenyamanan ibu dan bayi, ia melahirkan melalui operasi sesar terjadwal.

Namun, perjuangannya belum selesai. Pascapersalinan, ia mendapati tubuhnya nyaris kembali ke kondisi awal vaginismus. Maka dari itu, ia mulai lagi melakukan dilatasi mandiri secara bertahap sebelum aktif berhubungan seksual.

Menariknya, kondisi vaginismus tidak pernah merusak keharmonisan rumah tangga N dan suaminya. Keduanya memilih untuk saling mendukung karier dan fokus mencari solusi bersama.

“Dari pengalaman ini, saya menyadari pentingnya memotivasi kesembuhan diri semata-mata demi kenyamanan fisik dan mental pribadi. Bukan sekadar untuk menyenangkan pasangan atau mengejar kehamilan. Ini agar terhindar dari tekanan psikologis yang berlebihan,” katanya.

Mengedukasi publik dan menghapus stigma

Sejak mulai bersuara di ruang publik pada tahun 2022, N aktif membagikan edukasi seputar vaginismus melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Threads. Meskipun kesadaran masyarakat menunjukkan peningkatan, ia menyadari masih banyak penyintas yang memilih bungkam akibat rasa malu atau kurangnya dukungan dari pasangan.

Melalui kisahnya, dia mendorong para perempuan yang mengalami gejala serupa, seperti rasa nyeri hebat saat penetrasi atau refleks tubuh yang menegang di area panggul, untuk tidak ragu menemui dokter yang kompeten. “Vaginismus bukanlah hal yang tabu, melainkan gangguan medis murni yang dapat disembuhkan, layaknya masalah kesehatan fisik lainnya,” kata N.

Enam tahun pernikahan tanpa penetrasi

Cerita lain datang dari D, seorang perempuan yang tinggal di Kota Bandung. Selama enam tahun pernikahnnya, dia tak pernah mengalami penetrasi dari suaminya.

Meski begitu, ia tak menjadikannya persoalan. Tidak ada tuntutan dari suami atau pihak mana pun. Pernikahan mereka juga diwarnai dengan dua anak dari pernikahan suami sebelumnya, sehingga tidak ada tekanan bagi D untuk segera memiliki anak.

“Kehidupan pernikahan kami baik-baik saja. Meski saat berhubungan tidak dilakukan penetrasi, tapi diisi oleh aktivitas lain yang bisa memuaskan keduanya. Suami, sih, bilang tidak memaksa saya (untuk penetrasi), katanya kasian sama saya,” ujar D.

Menurut penuturannya, ia merasa ada rasa takut dan keengganan saat hendak dipenetrasi suaminya. Salah satunya karena doktrin orangtua sejak kecil selama puluhan tahun bahwa hubungan seksual itu berdosa, menyakitkan, mengerikan. D menganggap upaya tersebut adalah langkah proteksi orangtuanya karena sejak usia 18 tahun ia sudah merantau ke luar pulau.

“Ada, sih, rasa ingin bisa dipenetrasi. Saya juga penasaran seperti apa rasanya dipenetrasi. Tapi sejauh ini saya belum memeriksakan diri, baik ke ahlinya atau menemui psikolog. Masih merasa belum perlu saja,” ujarnya.

Vaginismus bukan aib dan kesalahan perempuan

Perempuan seringkali diposisikan secara salah oleh masyarakat sebagai individu yang punya kewajiban-kewajiban tertentu yang sebetulnya tidak relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan. Misalnya kewajibab memberikan keturunan, melayani laki-laki, mengerjakan tugas umah tangga, hingga mengurus anak yang sebetulnya bukanlah kewajiban perempuan saja.

Demikian pula dengan aktivitas seksual yang merupakan interaksi pihak laki-laki dan perempuan. Artinya segala konsekuensi berumah tangga juga melibatkan kewajiban serta peran laki-laki dan perempuan.

Praktisi medis vaginismus komprehensif pertama di Indonesia dr. Robbi Asri Wicaksono, Sp. OG menerangkan, banyak masyarakat yang menggambarkan seks sebagai sebuah kegiatan di mana pihak laki-laki terima beres, dan perempuan melakukan segalanya. “Padahal aspek kegiatan seksual secara ilmiah medis begitu kompleks dan bersifat melibatkan dua pihak. Jadi ketika sebuah hambatan terjadi, dalam hal ini muncul diidapnya sebuah penyakit, langsung saja semua pihak (bahkan oknum tenaga medis pun) menganggap ini adalah kesalahan perempuan,” katanya.

Alih-alih ditolong, para penderita vaginismus malah disalahkan, dihakimi, disudutkan, dan dianggap tidak menunjukkan performa yang baik. Lama-lama perempuan pun percaya bahwa dirinya bersalah, tidak berperforma baik, dan pantas untuk diperlakukan buruk. Penderita vaginismus dianggap orang yang bercitra buruk dan pantas dihukum.

Robbi menjelaskan, vaginismus adalah penyakit pada organ vagina, berupa adanya kekakuan otot yang tidak bisa dikendalikan oleh penderitanya. Fenomena terbanyak dan termudah untuk mengenali vaginismus adalah tidak berhasilnya penetrasi penis terhadap vagina.

Berdasarkan fakta ilmiah, angka kejadian vaginismus itu terbilang tinggi, sekitar 7-17% pada usia reproduktif. “Yang sebaiknya dilakukan pada saat perempuan merasa mengalami hal tersebut adalah segera mencari pertolongan yang baik dan benar. Semakin lama ia mengalami vaginismus, maka akan semakin banyak kesulitan yang bisa terjadi,” ujar Robbi yang praktik di RSIA Limijati Bandung itu.

Menanggapi pengalaman D di atas, menurut Robbi, kemungkinan besar merupakan kasus vaginismus, tetapi penderitanya menyangkal. Semestinya, sebagaimana pada penyakit lainnya, sebuah penyakit haruslah disembuhkan, tidak perlu sebuah alasan untuk menyembuhkan sebuah penyakit.

Kondisi suami yang tidak menuntut bukanlah tanda bahwa sebuah penyakit tidak perlu disembuhkan. Karena kalau terkait vaginismus, ada aspek selain kebutuhan seksual yang juga terganggu.

Contohnya apabila pasien mengalami penyakit pada sistem reproduksi, maka hal tersebut tidak bisa diperiksa dan ditindaklanjuti. Untuk keadaan darurat tersebut mutlak akan memerlukan pemeriksaan medis yang melalui vagina (dalam hal ini pasti memerlukan penetrasi). Kondisi ini akan membuat yang bersangkutan menjadi terbengkalai dalam hal kesehatan.

Vaginismus juga tidak disebabkan oleh trauma psikis. Hal itu hanya cocoklogi yang tidak berdasar. Vaginismus bukan penyakit pada psikis, bukan kekeliruan pola pikir, bukan diakibatkan oleh rasa takut. Vaginismus adalah kekakuan otot vagina yang tidak bisa dikendalikan.

“Kalaupun pasien memang merasa takut, bukan itu yang menyebabkan kegagalan penetrasinya. Yang menyebabkan kegagalan penetrasinya adalah vaginismusnya, bukan ketakutannya. Saya rasa ada fenomena yang lebih menunjukkan bahwa rasa takut tidak bisa membatalkan sebuah penetrasi, yaitu kasus perkosaan. Korban perkosaan pasti merasa takut, merasa hina dan jijik atas perlakuan pelaku, tapi kenyataannya tetap terjadi penetrasi pada kasus perkosaan,” kata dia.

Pada publikasi ilmiahnya yang diterbitkan International Journal of Women’s Health tahun 2026 atas 513 pasien vaginismus yang telah ditangani, dinyatakan bahwa gangguan psikis yang dialami oleh penderita muncul setelah dia mengalami vaginismus, bukan sebaliknya.

Asumsi bahwa vaginismus itu terjadi akibat gangguan psikis merupakan kesalahan pola pikir keliru yang justru melahirkan budaya victim blamming pada perempuan. Semestinya, pasien vaginismus itu mendapat dukungan untuk mendapatkan pengobatan terbaik dalam proses penyembuhannya.

Tantangan besar menangani vagisnismus

Secara umum masih banyak yang terus menggaungkan faktor psikis sebagai penyebab dan malah melahirkan sebuah fenomena penderita vaginismus terus menerus disalahkan, padahal semestinya ditolong. Yang tertolong banyak, tetapi yang terus hidup distigmatisasi (alih-alih ditolong) juga tetap banyak.

Sampai saat ini, penyebab vaginismus belum teridentifikasi. Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan kausalitas langsung antara sesuatu dengan terjadinya vaginismus. Bagi para penderita vaginismus, carilah pertolongan terbaik, yang teruji reputasinya, kompetensinya, publikasinya, serta angka keberhasilannya yang tinggi, agar terhindar dari trauma medis pada saat mencari pertolongan.

“Pada protokol (sudah terpublikasi) yang kami kerjakan sehari-hari di RSIA Limijati, angka keberhasilan pada tahap-tahap penyembuhan vaginismus adalah 78-91%,” katanya.

Dia berharap, perempuan bisa menjalani kehidupan yang lebih baik, terhindar dari misogini dan rape culture yang masih banyak terjadi. Perempuan bisa memiliki otoritas yang baik atas kesehatan tubuh dan pikirannya, agar perempuan menjadi manusia yang mandiri, utuh, sehat lahir dan batinnya.

Dan bagi sesama ahli di bidang medis, ia mengajak agar sibuk menghadirkan solusi, bukan terus menerus memaksakan paham keliru yang membuat pasien tersudut dan malah tidak tertolong. “Pasien mengidap penyakit, bukan tidak bisa diajak bekerjasama untuk penetrasi. Mari hadirkan pertolongan tata laksana medis berbasis bukti untuk kesembuhan pasien, bukan berkutat pada obsesi mengubah pikiran si pasien yang malah melahirkan penghakiman,” ujar dr. Robbi. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE