Kurangi Sampah Tekstil dari Rumah, Bagaimana Caranya?

Share

digitalMamaID – Mama pasti pernah bingung melihat tumpukan pakaian anak yang sudah tidak muat lagi, tetapi sayang untuk dibuang? Atau ingin membeli baju baru, tetapi rasanya lemari pakaian sudah tidak mampu menampung karena terlalu penuh? Ternyata banyak sekali sampah tekstil yang menumpuk di rumah, ya!

Bagi sebagian orang, berdonasi bisa menjadi salah satu solusi untuk menyalurkan pakaian yang sudah tidak terpakai. Ada juga yang memilih menukarkannya dengan pakaian bekas layak pakai milik orang lain melalui kegiatan pasar tukar.

Kedua cara tersebut bisa membantu memperpanjang usia pakai pakaian sekaligus mengurangi tumpukan barang di rumah. Namun, persoalan sampah tekstil sebenarnya tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyalurkan pakaian yang sudah tidak digunakan. Kebiasaan kita dalam membeli, menggunakan, dan merawat pakaian juga perlu diperhatikan.

Sampah tekstil paling banyak

Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, sampah tekstil menyumbang 2,41 persen dari komposisi sampah nasional pada 2025. Sementara itu, dalam film dokumenter ‘Menolak Punah’ yang dirilis April 2026 silam, disebutkan Indonesia diperkirakan menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Secara global, limbah tekstil mencapai 92 juta ton per tahun dan sebagian besar berakhir di ‘clothing graveyard’, kawasan penumpukan pakaian bekas di Gurun Atacama, Chili.

Suasana Roadshow ‘Rumah Minim Sampah Tekstil’ Minimalist Mom bersama Plastavfall Solution (digitalMamaID/Penny Yuniasri)*

Co-Founder Plastavfall Solution Bea Bethari membenarkan bahwa sampah tekstil jadi salah satu sampah terbanyak di TPA dan menjadi salah satu jenis sampah yang cukup memusingkan karena setiap bahan yang memiliki karakteristik dan kebutuhan pengolahan berbeda.

“Tekstil itu adalah sampah paling memusingkan karena terlalu banyak turunan-turunannya. Satu bahan yang dipakai orang satu dengan yang lain juga pasti berbeda,” ungkap Bea dalam Roadshow ‘Rumah Minim Sampah Tekstil’ bersama Minimalist Moms Indonesia di Jaga Bumi Eco Mart & Healthy Lab, DotHub Summarecon Bandung Sabtu, 31 Oktober 2026.

Karena itu, Plastavfall Solution mendorong penggunaan kembali (reuse) ketimbang mendaur ulang (recycle). Karena tidak semua orang bisa mendaur ulang, tidak semua memiliki mesin untuk mendaur ulang dan biaya yang diperlukan juga tidak sedikit. “Reusing lagi, kalau bisa sedikit aja pakaiannya, pakai yang ada,” katanya.

Lantas, bagaimana cara mulai mengurangi sampah tekstil dari rumah?

Founder Minimalist Mom Indonesia Evi Syahida atau yang akrab disapa Visya ini, mengenalkan konsep buyer hierarchy atau hierarki pembeli. Konsep ini mengajak seseorang mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum memutuskan membeli barang baru.

Urutannya ketika membutuhkan suatu barang, tidak langsung membeli baru tapi dimulai dari menggunakan barang yang sudah dimiliki. Jika tidak tersedia, seseorang bisa mempertimbangkan meminjam atau menyewa. Jika tidak ada bisa bertukar atau membeli barang bekas. Opsi terakhir, membeli barang baru.

Prinsip tersebut juga diterapkan Minimalist Mom Indonesia melalui kegiatan pasar tukar dengan tagar #MemilihTidakBeliBaru. Menurut Visya, gerakan ini bukan berarti anti atau melarang seseorang membeli pakaian baru. Namun, masyarakat diajak lebih mindful apakah barang yang akan dibeli memang benar-benar dibutuhkan.

Selain itu, ditengah ramainya content creator yang mempromosikan untuk pindah ke bahan yang lebih ramah lingkungan seperti tencel atau serat alami. Visya juga menyarankan agar masyarakat tidak perlu terburu-buru mengganti seluruh pakaian lamanya dengan pakaian berbahan yang dianggap lebih ramah lingkungan.

Menurutnya, pakaian paling berkelanjutan adalah pakaian yang sudah dimiliki dan terus digunakan selama mungkin terlepas dari apapun bahannya. “Kalau aku pribadi sih, punya quote versi aku, baju yang paling sustainable adalah baju yang sekarang sudah kita punya dan kita pakai terus-menerus sampai benar-benar rusak.” katanya.

Artinya, kita tidak harus langsung membuang pakaian berbahan poliester atau menggantinya dengan pakaian berbahan serat alami. Selama masih layak, pakaian yang ada sebaiknya dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Jadi memaksimalkan yang benar-benar dimiliki sampai tidak bisa dipakai lagi.

Rumah minim sampah tekstil

Selain mengajak untuk lebih mindful, Minimalist Mom Indonesia melalui proyek Rumah Minim Sampah Tekstil ingin mengajak perempuan lebih bijak membeli, menggunakan, merawat, hingga menentukan nasib pakaian yang sudah tidak terpakai. Salah satu rangkaian kegiatannya adalah gerakan #SadarFashion.

“Minimalist Moms Indonesia juga membuat e-book sebagai bahan edukasi ke teman-teman perempuan tentang sadar fashion itu yang seperti apa sih. Mulai dari prakonsumsi saat konsumsi atau saat pemakaian sampai setelah pemakaian,” kata Visya.

Di dalamnya juga tersedia informasi mengenai lokasi drop box yang menerima pakaian layak maupun tidak layak pakai. E-book “Wear Wisely, Live Fully: Panduan Sadar Fashion” ini juga turut menyediakan lembar refleksi dan daftar periksa agar pembaca tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga bisa mengevaluasi kebiasaan berpakaian sehari-hari.

“Jadi ya berharapnya sih e-book ini nggak cuma untuk bacaan tapi sifatnya berkelanjutan, bisa dipraktikkan. Terus selain e-book ini nanti kita juga akan ada kelasnya juga. Kelasnya itu basic atau modulnya dari e-book ini. Jadi silakan dipantau aja oleh Ibu di Instagram Minimalist Mom Indonesia,” katanya.

Circular Impact Dropbox Minimalist Mom yang akan ada di Jaga Bumi Eco Mart Summarecon Bandung hingga akhir Desember (digitalMamaID/Penny Yuniasri)*

Selain talkshow dan pasar tukar, Minimalist Moms Indonesia juga meresmikan drop box pertamanya yang rencananya akan ada sampai akhir Desember di Jaga Bumi Eco Mart, Summarecon Bandung. Drop Box ini menerima berbagai barang pakaian baru hingga bekas yang masih layak digunakan.Pakaian yang terkumpul nantinya dapat diperpanjang masa manfaatnya melalui kegiatan pasar tukar maupun disalurkan kepada pihak yang membutuhkan melalui Relawan Nusantara.

Kesempatan menyalurkan barang yang tidak terpakai

Bagi Rika (35), warga Rancasari, Bandung, ia mengaku sudah mengikuti kegiatan pasar tukar dua kali. Awalnya ia kebingungan karena banyak pakaian anaknya yang sudah kekecilan tapi, masih layak pakai. Sebelum mengikuti pasar tukar, biasanya ia memberikannya kepada tetangga atau teman suaminya yang membutuhkan. Selain itu, ia juga memanfaatkan grup Telegram untuk membagikan pakaian secara gratis kepada orang yang berminat.

Pasar Tukar Minimalist Mom di Jaga Bumi Eco Mart Summarecon Bandung (digitalMamaID/Penny yuniasri)*

Menurutnya, dengan adanya pasar tukar ini memberinya kesempatan untuk mendapatkan pakaian yang dibutuhkan sekaligus menyalurkan barang yang sudah tidak terpakai. Meski begitu, ia menyadari bahwa bertukar pakaian saja belum cukup untuk mengurangi sampah apabila kebiasaan membeli barang baru masih terus dilakukan.

Pada akhirnya, mengurangi sampah tekstil tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Kita bisa memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti memeriksa isi lemari sebelum membeli baju, memilih pakaian yang benar-benar dibutuhkan, merawatnya agar lebih awet, dan memastikan pakaian yang tidak terpakai disalurkan dengan tepat.

Sebab, semakin bijak kita membeli dan menggunakan pakaian, semakin sedikit pula sampah yang perlu kita hasilkan.[*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE