digitalMamaID – Hutan Indonesia menyimpan banyak cerita tentang kehidupan, termasuk kisah perempuan yang ikut menjaga dan merawatnya. Melalui lima buku cerita anak seri Women Forest Defenders dari Let’s Read, Mama bisa mengajak si kecil mengenal perempuan penjaga hutan dari berbagai daerah di Indonesia.
Ada cerita tentang kijang yang muncul di kebun, burung-burung yang tiba-tiba menghilang, hingga seorang anak yang menanam pohon agar sahabat gajahnya pulang. Kelima buku ini membawa pembaca mengenal hutan dan kehidupan di dalamnya melalui cerita yang dekat dengan keseharian anak.
Buku-buku ini bisa dibaca secara gratis melalui perpustakaan digital Let’s Read.
1. Perempuan Penjaga Rimba
Penulis: Shahfira Alif
Ilustrator: Ayesha Sophie
Amina sedang belajar menjadi Tunggu Tubang, yaitu perempuan yang mendapat tanggung jawab merawat rumah, kebun, dan alam warisan keluarga. Suatu hari, kemunculan seekor kijang menjadi petunjuk bahwa hutan di sekitar mereka mulai rusak akibat pembalakan liar. Amina pun ikut bersama kelompok Perempuan Penjaga Rimba untuk melindungi hutan dan menanam kembali pohon-pohon yang hilang.
Kisah dari Semende, Sumatera Selatan, ini juga mengenalkan tradisi Tunggu Tubang yang diwariskan kepada anak perempuan tertua. Melalui cerita Amina, anak-anak bisa melihat bagaimana perempuan turut menjaga hutan, mulai dari merawat kebun hingga melindungi kawasan yang rusak. Baca di sini ceritanya.
2. Berebut Jambu Hutan
Penulis: Lina Nurdiana
Ilustrator: Dinda Ayu
Diah pergi ke hutan adat bersama warga desa untuk memetik jambu hutan. Namun, Kero si monyet jahil tiba-tiba merebut keranjangnya dan berlari menjauh. Diah dan teman-temannya pun mengejar Kero hingga masuk lebih dalam ke hutan. Ternyata, ada kejadian tak terduga yang menunggu mereka!
Berlatar di Hutan Adat Desa Penyandingan, Sumatera Selatan, cerita ini mengenalkan beragam sumber pangan dari hutan. Selain jambu hutan yang bisa diolah menjadi selai, masyarakat juga memanfaatkan rebung, umbut rotan, dan jamur gerigit. Hutan pun menjadi sumber air yang penting bagi kehidupan warga. Baca lengkap ceritanya di sini.
3. Komang dan Benih Harapan
Penulis: Nurma Anita
Ilustrator: Tiara Wulandari
Komang belajar memilah, menanam, dan merawat benih mangrove bersama Bibi Santhi dan warga sekitar. Mereka bekerja bersama agar bibit-bibit itu tumbuh dan siap ditanam kembali di pesisir.
Cerita dari Bali ini terinspirasi dari upaya perempuan penyandang disabilitas dalam memulihkan hutan mangrove. Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Bali, misalnya, memimpin kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Tuwed, Jembrana. Sejak 2025, mereka bersama pemerintah dan masyarakat desa telah menanam 165.000 bibit untuk memulihkan 55 hektare kawasan pesisir. Mereka juga memantau pertumbuhan mangrove menggunakan teknologi geotagging. Cari tau keseruannya di sini.
4. Ke Mana Burung-Burung Pergi?
Penulis: Maya Lestari GF
Ilustrator: Eri Patmasari
Darawi sangat menyukai burung-burung yang datang ke kebun niranya. Namun, ketika burung-burung di kebun Imah menghilang, serangga justru bermunculan di mana-mana. Bersama Nenek, mereka belajar bahwa setiap makhluk saling membutuhkan dan burung punya peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Kisah dari Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, ini juga mengenalkan myzomela Alor (Myzomela prawiradilagea), burung endemik yang hanya ditemukan di pulau tersebut. Burung yang hidup di hutan pegunungan ini memakan nektar, buah, dan serangga kecil. Nama ilmiahnya diambil dari Dewi Prawiradilagea, seorang perempuan peneliti burung Indonesia. Menjaga hutan Alor berarti ikut melindungi rumah bagi burung istimewa ini. Kisahnya bisa di baca di sini.
5. Menanti Rayeuk Pulang
Penulis: Maya Lestari GF
Ilustrator: Felia Febriany G
Inong merindukan sahabatnya, Rayeuk, seekor gajah kecil yang menghilang setelah pohon-pohon di hutan ditebang. Bersama ibu dan para perempuan penjaga hutan, Inong menanam kembali bibit pohon untuk memulihkan rumah mereka. Akankah Rayeuk pulang setelah hutan kembali hijau?
Kisah dari Aceh ini mengingatkan bahwa hutan merupakan rumah bagi satwa liar. Di Kawasan Ekosistem Leuser, gajah Sumatera terkadang melintasi kebun dan permukiman warga saat mencari makanan. Untuk mengurangi konflik antara gajah dan manusia, Forum Konservasi Leuser bersama pemerintah dan masyarakat melakukan berbagai upaya, seperti memasang pagar kejut bertegangan rendah, memantau pergerakan gajah dengan kamera jebak dan kalung Global Positioning System (GPS), serta menanam tanaman penghalang alami. Cari tau di sini kelanjutan kisahnya.
Kelima buku ini merupakan bagian dari seri Women Forest Defenders hasil kolaborasi Let’s Read dan The Asia Foundation. Seri ini diluncurkan pada 30 September 2026 dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) di Jakarta.
Cerita-ceritanya terinspirasi dari peran perempuan yang terlibat dalam menjaga hutan, merawat lingkungan, dan mengelola sumber daya alam di daerahnya. Selama ini, kerja mereka kerap luput dari perhatian. Padahal, perempuan punya pengetahuan dan pengalaman penting dalam menjaga hutan serta kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Melalui buku cerita anak, kisah para perempuan penjaga hutan ini diperkenalkan lebih dekat kepada generasi muda. Anak-anak bisa belajar bahwa menjaga hutan merupakan tanggung jawab bersama dan perempuan juga punya peran besar di dalamnya.
Mama bisa membaca kelima buku ini secara gratis melalui situs atau aplikasi Let’s Read. Luangkan waktu untuk membacanya bersama anak, lalu ajak mereka bercerita tentang tokoh yang paling menarik perhatian atau hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga alam. Selamat membacakan, Mama! [*]











