“Ngeblog” Masih Jadi Favorit Mereka yang Hobi Menulis

ilustrasi ngeblog
Share

digitalMamaID – Mama pasti pernah dong ketika sedang mencari informasi di internet, lalu menemukan blog yang ceritanya terasa dekat sekali dengan kehidupan kita. Entah itu pengalaman mengasuh anak, perjalanan keluarga, mencoba usaha kecil-kecilan, atau sekadar cerita sehari-hari.

Blog pernah menjadi media alternatif untuk mencari informasi selain media massa. Blog dibuat layaknya seperti buku harian online, berisi opini, pengalaman atau informasi suatu hal. Dilengkapi dengan gambar, video hingga link menuju cerita lain atau blog lain yang terkait dengan tulisan yang dibahas.

Istilah blog berasal dari kata web-log, yaitu halaman web yang berisi catatan dari pemikiran, opini atau pengalaman seseorang yang diunggah ke internet. Blogger pertama konon seorang mahasiswa bernama Justin Hall yang pada tahun 1994 membuat jurnal pribadi online miliknya di situs links.net.

Kemudian pada tahun 1999 muncul platform blogging pertama, yaitu Blogger.com milik Pyra Labs. Memudahkan siapa saja membuat dan mengelola blog tanpa pengetahuan teknis yang rumit. Lalu 2003, munculah WordPress. Berbeda dengan Blogger, WordPress menawarkan kemampuan untuk meng-hosting blog pada server sendiri, memberi kontrol penuh kepada pengguna. Ada juga Tumblr pada 2007, membawa blog ke dimensi era baru lebih ringkas dari blog tradisional.

Puncak popularitas blog di Indonesia adalah ketika tanggal 27 Oktober 2007 pemerintah lewat Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) M. Nuh menetapkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Tanggal itu bertepatan dengan pembukaan acara Pesta Bloger pertama di Jakarta. Pesta Blogger yang jadi ajang kopi darat bloger terbesar di Indonesia.

Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas blog menurun perlahan ketika media sosial dan platform berbagi video hadir.

Tempat tersendiri bagi yang gemar menulis

Meski popularitas blog mulai tergeser, akan tetapi blog masih memiliki tempat tersendiri bagi mereka yang gemar menulis. Salah satunya, April Hamsa (42), bloger asal Kabupaten Bogor ini menceritakan awal mula mengenal blog saat di bangku kuliah, sekitar tahun 2004 dan 2005.

Berkat kecintaannya terhadap dunia menulis sejak lama, blog dijadikannya semacam buku harian online untuk menyimpan kenangan tentang berbagai hal yang dialami setiap hari. Awalnya, ia menggunakan platform Multiply dan hampir setiap hari ia memperbarui tulisannya disana.

“Dulu alasan ngeblog cuma buat memindahkan tulisan-tulisan di mailing list (milis) yang diikuti. Dulu paling suka menulis di milis Sekolah Kidupan, lalu tulisannya dipindahkan ke blog Multiply. Tulisannya tentang apa saja, ada curhatan, cerpen, artikel yang agak serius, dan lain-lain,” ungkap April pada digitalMamaID Jumat, 23 Oktober 2026.

Namun, setelah Multiply resmi ditutup pada 2011, April pun membuat blog pribadinya bernama Keluargahamsa.com. Kebiasaan menulis yang awalnya sekadar hobi itu pun terus ia jalani hingga sekarang, sesekali ia pun menerima sponsored post. Blognya memang telah di monetisasi melalui ads dan sponsored post, tapi semenjak AI muncul, hampir semua traffic blog menurun.

“Kalau dahulu ads bisa setahun sekali pencairannya dan saya gunakan buat perpanjang hosting blog, kalau sekarang, entah kapan cairnya, tidak menentu,” ungkapnya.

Menulis blog untuk kesehatan mental

Lain halnya dengan Kartini (42), bloger pemula asal Tangerang mengatakan menulis blog menjadi cara dirinya menjaga kesehatan mental. Mulanya, Kartini yang gemar menulis cerpen dan esai, mengikuti kelas belajar blog bagi pemula di tahun 2024. Ia pun tertarik dan memutuskan untuk terjun ke dunia blog yang ia beri nama Antologi Kartini.

Namun, keputusannya menulis di blog saat itu beriringan dengan masa sulit yang dialaminya. Kakaknya meninggal akibat kanker, lalu disusul ibu dan ayahnya. Kehilangan anggota keluarga, ditambah persoalan pekerjaan dan berbagai pengalaman yang membuatnya kecewa menjadi beban emosional tersendiri.

Di saat-saat berat, blog menjadi tempat untuk mencurahkan pikirannya, terutama setelah melalui berbagai kehilangan dan pengalaman yang membuatnya sulit mempercayai orang lain. Ia merasa lebih nyaman menuangkan perasaan melalui tulisan ketimbang menceritakannya secara langsung kepada orang lain.

“Dengan menulis itu saya lebih percaya, gitu. Saya curhat dengan orang-orang, sepertinya sudah tidak percaya, lebih baik saya tulis,” ungkapnya pada digitalMamaID.

Seiring waktu, ia kembali mengumpulkan tulisan-tulisan esai yang pernah dibuatnya dan memasukkannya ke dalam blog. Ia juga mulai menyadari bahwa pengalaman sehari-hari bisa menjadi cerita menarik untuk dibagikan kepada orang lain.

Meski masih terus menulis, ia belum berencana menjadikan blog sebagai sumber pendapatan. Baginya, menulis blog lebih menjadi cara untuk menjaga kesehatan mentalnya. “Sementara untuk kesehatan mental diri saya saja. Saya rasa sepertinya belum layak untuk dijadikan sumber pendapatan,” katanya.

Tetap menulis di tengah tren video pendek

Di tengah popularitas dan dominasi video pendek seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, ia belum tertarik meninggalkan blog. Ia menyadari, setiap orang memiliki preferensi berbeda dalam menikmati maupun membuat konten. Ada orang yang lebih nyaman menyampaikan cerita melalui video, sementara dirinya merasa lebih leluasa menuangkan pikiran lewat tulisan.

Untuk saat ini, ia memilih bertahan dengan format yang paling sesuai dengan dirinya. Baginya, mengikuti perkembangan teknologi tidak harus berarti meninggalkan cara berkarya yang selama ini membuatnya merasa nyaman.

Selama masih ada pengalaman yang ingin diceritakan, ia akan terus menulis. Bukan semata-mata demi mendapatkan banyak traffic, melainkan karena menulis memberinya ruang untuk memahami dan mengekspresikan dirinya sendiri.

Blogger beradaptasi di era video pendek

Sedangkan April, menilai dominasi video pendek tidak serta-merta menjadi tantangan bagi blogger. Menurutnya, banyak blogger kini juga aktif di Instagram, TikTok, dan YouTube, termasuk membuat video untuk memenuhi kebutuhan job event.

“Sebenarnya tidak merasa gimana-gimana ya kalau saya pribadi, karena hobi menulis, justru kalau ada tugas video saya tulis script VO (Voice Over) dulu baru edit menambahkan videonya. Masih relate dengan kebiasaan atau skill menulis blog,” kata April.

Meski jumlah pengunjung blog-nya tidak sebanyak dahulu, April mengaku masih ada pembaca yang datang untuk mencari informasi. Ia menilai blog memiliki kelebihan dalam menyajikan penjelasan yang lebih lengkap dibandingkan video pendek yang memiliki keterbatasan durasi. Kadang ia menyertakan tautan artikel blog dalam unggahan foto atau video di Instagram agar pembaca bisa mengakses informasi lebih terperinci.

“Apalagi kalau berdasarkan pengalaman pribadi, orang yang mencari infonya akan benar-benar mencari dan membaca. Kadang juga kalau ada yang tidak jelas, ada yang suka hubungi via DM IG atau email,” katanya.

April meyakini blog tidak akan benar-benar mati. Meski terkadang merasa kurang nyaman ketika tulisan blog-nya dirangkum oleh AI, namun ia melihat teknologi tersebut masih berpeluang mengarahkan pembaca ke sumber aslinya melalui tautan yang dicantumkan. Karena itu, ia berusaha menyajikan tulisan yang informatif dan berdasarkan pengalaman pribadi agar tetap menarik bagi pembaca yang ingin memperoleh informasi lebih lengkap.

Ketika ditanya mengenai rencananya kedepan, ia pun memilih untuk tetap mengelola blog sekaligus memanfaatkan media sosial. “Keduanya sama-sama dimanfaatkan, baik sebagai hobi maupun pekerjaan kalau memang ada tawaran job-nya,” pungkasnya.

Di tengah tren video pendek yang serba cepat, blog masih bisa menjadi ruang untuk bercerita dengan cara yang lebih personal. Sebab, tidak semua cerita harus viral untuk menjadi berarti. Terkadang, sebuah tulisan sudah cukup berharga ketika bisa membantu orang lain merasa ditemani, menemukan jawaban, atau sekadar merasa tidak sendirian. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE