Membaca Ulang Pendidikan: 5 Buku tentang Perjuangan dan Kemerdekaan Belajar

DJULI PAMUNGKAS/digitalMamaID Ilustrasi sekolah gratis
Share

digitalMamaID — Pendidikan tidak selalu berjalan mulus dalam ruang kelas yang teratur. Ia seringkali lahir dari kegelisahan, ketidakadilan, dan dari keberanian untuk mencari cara belajar yang lebih manusiawi. Di berbagai tempat, pendidikan menjadi ruang perjuangan untuk didengar, untuk memahami, dan untuk mempertahankan martabat. Lima buku ini menghadirkan potret pendidikan dari sudut yang berbeda: dari kritik tajam hingga praktik nyata di lapangan, dari sekolah alternatif hingga hutan rimba, dari ruang dialog hingga pengalaman anak.

Berikut lima bacaan tentang perjuangan pendidikan rekomendasi digitalMamaID untuk mengajak kita memahami perjuangan, ketimpangan, dan upaya menghadirkan pendidikan yang memerdekakan:

Pendidikan Kaum Tertindas

Penulis : Paule Freire
Penerbit: Narasi

Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire menghadirkan kritik tajam terhadap praktik pendidikan yang selama ini dianggap wajar. Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu berada dalam posisi tertentu: membebaskan atau justru menindas. Melalui buku ini, Freire mengajak pembaca melihat bagaimana relasi kuasa bekerja di ruang-ruang belajar, sering kali tanpa disadari.

Freire mengkritik keras model pendidikan gaya bank, yaitu pendekatan yang menempatkan guru sebagai pusat pengetahuan dan murid sebagai penerima pasif. Dalam model ini, guru “menyetor” informasi, sementara murid hanya menyimpan tanpa ruang untuk bertanya atau mengolah makna. Praktik ini tidak hanya mematikan kreativitas, tetapi juga memperkuat ketimpangan sosial karena murid tidak dilatih untuk berpikir kritis terhadap realitas yang mereka hadapi. Pendidikan akhirnya berubah menjadi alat kekuasaan yang menyamar sebagai proses pembelajaran.

Pemimpin yang tidak dialogis tetapi bersikeras memaksakan keputusan, mereka tidak mengorganisir rakyat, mereka memanipulasi. Mereka tidak membebaskan atau memerdekakan : mereka menindas.

Sebagai alternatif, Freire menawarkan konsep pendidikan hadap-masalah (problem-posing education) yang bersifat dialogis. Ia mendorong guru dan murid untuk terlibat dalam percakapan yang setara, saling bertukar pengalaman, dan bersama-sama memahami dunia. Dalam pendekatan ini, murid tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek aktif yang berperan dalam proses belajar. Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kritis atau conscientização, yaitu kemampuan membaca realitas sosial dan berupaya mengubahnya.

Paulo Freire mengingatkan bahwa penindasan bisa terus berulang jika tidak disadari. Tanpa pendidikan yang memerdekakan, orang yang pernah tertindas berpotensi mengulang pola yang sama saat memiliki kuasa. Karena itu, pendidikan harus menjadi ruang refleksi dan pembebasan. Buku Pendidikan Kaum Tertindas relevan bagi pendidik, orang tua, dan masyarakat luas. Gagasannya mendorong praktik belajar yang lebih dialogis, sadar, dan memerdekakan.

Sekolah Bisa Semerdeka Ini

Penulis : Butet RSM, eti Dwi Lestari, Gernatatiti, Gracesyera, Hanie Maria, Indah Widia Sari, Purnawan
Penerbit: Buku Mojok

Sekolah Bisa Semerdeka Ini merupakan narasi penting dari SALAM (Sanggar Anak Alam), sebuah sekolah di Nitiprayan, Yogyakarta, yang selama bertahun-tahun dikenal dengan pembelajaran merdeka, benar-benar merdeka. Tujuh penulis menceritakan ekosistem SALAM sebagai subjek yang terlibat, bukan mengamati dari jauh. Dari sana kita menyaksikan ruang dialog antara siswa dengan fasilitator dan orangtua. Tidak ada keputusan tunggal, hanya ada kesepakatan. Pendidikan di SALAM memberi ruang bagi setiap orang untuk memilih apa yang dia suka dan mengatakan apa yang dia pikirkan. Salah satu model pendidikan dan pembebasan yang patut kita kaji.

Di SALAM , semua orang menganggap peristiwa sebagai media belajar. Makan siang bersama di masing-masing kelas adalah sebuah media belajar, bukan semata diadakan karena bertepatan dengan jam makan siang. Kegiatan ini dijadikan peristiwa belajar tentang jenis dan bentuk makanan, kandungan gizi, teknik memasak, mengenal rasa masakan, hingga asal bahan pangan.

Sekolah Bisa Semerdeka Ini menghadirkan gambaran nyata tentang bagaimana pendidikan bisa dijalankan dengan cara yang lebih manusiawi dan membebaskan. Melalui praktik di Sanggar Anak Alam, kita melihat bahwa belajar tidak harus terikat pada ruang kelas, kurikulum kaku, atau relasi kuasa yang timpang. SALAM menunjukkan bahwa ketika anak dipercaya sebagai subjek, ruang dialog dibuka, dan pengalaman sehari-hari dijadikan sumber belajar penuh makna.

Buku ini menawarkan inspirasi sekaligus tantangan untuk merefleksikan praktik pendidikan di sekitar. Mengajak pembaca membayangkan ulang sekolah sebagai ruang tumbuh bersama, dari tempat anak, fasilitator, dan orang tua saling belajar mengupayakan pendidikan merdeka.

Sokola Rimba – Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Penulis : Butet Manurung
Penerbit: INSISTPress (2007) diterbitkan ulang oleh Kompas (2013)

Sokola Rimba karya Butet Manurung menghadirkan kisah pendidikan dari tengah hutan, bersama komunitas Orang Rimba di Jambi. Butet menyajikan pengalaman langsungnya saat hidup dan belajar bersama masyarakat adat, sekaligus menceritakan perjuangannya membangun kepercayaan di tengah perbedaan cara pandang. Ia masuk ke ruang hidup Orang Rimba dengan pendekatan yang perlahan, menghormati adat, dan menjadikan pendidikan sebagai bagian dari kehidupan, bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar.

Pendidikan bukanlah proses aliensi seseorang dari lingkungannya, atau potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk benar-benar menjadi aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya.

Butet menceritakan proses mendampingi Orang Rimba menghadapi tekanan modernisasi melalui catatan yang jujur dan reflektif. Ia mengajarkan baca-tulis sebagai alat bertahan agar mereka mampu memahami dunia luar, termasuk membaca dokumen yang dapat mengancam tanah adat mereka. Perjalanan ini penuh tantangan: penolakan dari komunitas, kepercayaan bahwa belajar dapat membawa malapetaka, hingga kondisi alam yang keras. Kisah perjuangan dalam buku ini kemudian menginspirasi lahirnya film Sokola Rimba yang disutradarai Riri Riza. Film tersebut menggambarkan bagaimana Butet tetap mengajar meski menghadapi sakit, konflik budaya, dan keterbatasan, serta menampilkan tokoh anak rimba seperti Bungo yang ingin belajar membaca untuk memahami ancaman terhadap komunitasnya. Adaptasi ini memperluas jangkauan kisahnya sehingga perjuangan pendidikan di pedalaman dapat dipahami oleh masyarakat luas.

Sokola Rimba menghadirkan kisah inspiratif sekaligus mengajak pembaca memaknai ulang pendidikan. Buku ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat tumbuh dari kebutuhan nyata dan konteks kehidupan, tanpa harus memisahkan manusia dari akar budayanya. Butet menegaskan bahwa pendidikan memampukan manusia memahami dunianya, menjaga martabat, dan bertahan di tengah perubahan. Dari hutan rimba hingga layar lebar, kisah ini menegaskan bahwa pendidikan yang berpihak mampu menjadi jalan pembebasan sekaligus penjaga kehidupan.

Toto Chan – Gadis Cilik di Jendela


Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi menghadirkan kisah masa kecil yang hangat melalui tokoh Totto-chan, seorang anak yang dianggap “bermasalah” karena aktif dan penuh rasa ingin tahu. Ia kemudian bersekolah di Tomoe Gakuen, sebuah sekolah unik yang memberinya ruang untuk tumbuh dan belajar dengan cara yang berbeda.

Di sekolah ini, kepala sekolah Sosaku Kobayashi menerapkan pendekatan yang menghargai keunikan setiap anak. Murid bebas memilih urutan pelajaran, belajar dari pengalaman langsung, dan merasa didengar. Lingkungan ini membuat Totto-chan tumbuh lebih percaya diri dan menemukan kegembiraan dalam belajar, bahkan di tengah situasi Jepang yang terdampak Perang Dunia II.

Sekarang tiba waktunya untuk “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan,” jam makan siang yang sudah dinanti-nantikan Toto Chan dengan tak sabar. Kepala Sekolah menggunakan ungkapan itu untuk menggabarkan makanan yang seimbang-jenis makanan yang dia harapkan dibawa murid-murid untuk makan siang sebagai pelengkap nasi.

Buku ini mengajak pembaca memaknai pendidikan sebagai ruang yang ramah, menghargai perbedaan, dan membangun karakter. Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela menunjukkan bahwa ketika anak diberi kepercayaan, mereka mampu berkembang dan menemukan cara belajar yang bermakna.

Melawan Setan Bermata Runcing

Penulis : Aditya Dipta Anindita, Butet Manurung, Dodi Rokhdian, Fadilla M. Apristawijaya, Fawaz
Penerbit: Sokola Institute

Dahulu, Orang Rimba melihat orang luar yang pandai membaca dan menulis menggunakan bacaan hukum dan peraturan untuk mencaplok hutan mereka. Karena itulah Orang Rimba menyebut pensil sebagai “setan bermata runcing”. Setan ini begitu menyeramkan karena ia membawa perubahan-perubahan yang sering kali merugikan kehidupan masyarakat adat yang sedianya damai dan berkecukupan dari sumber daya alam yang mereka kelola.

Melawan Setan Bermata Runcing merupakan kumpulan pengalaman Sokola dalam mengembangkan program-program pendidikan sebagai upaya untuk membantu masyarakat adat menghadapi persoalannya sembari tetap mempertahankan adat. Tinggal bersama masyarakat adat dan beradaptasi dengan budaya setempat, serta murid-murid yang kritis, justru menjadi “sekolah” bagi para relawan Sokola hingga akhirnya membentuk metode dan pendekatan pendidikan yang ramah budaya dan dapat merespon persoalan kontekstual.

Setelah baca-tulis, lalu apa? Pertanyaan anak-anak rimba setelah pohon ditumbangan oleh chainsaw itu menjadi pembelajaran penting bagi kami mengenai manfaat sekolah. Untuk apa baca-tulis jika tidak menyelamatkan hutan?

Para penulis menceritakan proses belajar yang mereka bangun bersama komunitas, mulai dari membangun kepercayaan, memahami budaya lokal, hingga mengembangkan metode literasi yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Mereka mengajarkan baca-tulis sebagai alat bertahan, bukan sekadar kemampuan akademik. Proses ini berlangsung penuh tantangan dan penyesuaian, termasuk menggunakan cara-cara sederhana yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Buku ini akan membantu para guru, pegiat dan relawan pendidikan, pemerintah, perusahaan, atau siapapun yang tengah mengembangkan program pendidikan dan pemberdayaan komunitas. Buku ini juga memberi pemahaman dan meningkatkan penghargaan akan kekayaan budaya Indonesia.

Kelima buku rekomendasi tentang perjuangan pendidikan ini mengajak kita melihat kembali cara kita memahami dan menjalankan pendidikan. Bagaimana mulai menghadirkan ruang belajar yang lebih dialogis, dekat dengan kehidupan, dan benar-benar memerdekakan. Pendidikan yang mampu memanusiakan manusia, menumbuhkan kepedulian terhadap sekitar, serta melatih tanggung jawab bersama dalam kehidupan sehari-hari. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE