digitalMamaID – Setelah bertahun-tahun gentle parenting menjadi kiblat pengasuhan banyak orangtua modern, beberapa waktu belakangan muncul tren baru yang justru terdengar berseberangan. Model parenting itu bernama FAFO parenting, singkatan dari Fuck Around and Find Out, yang dapat dimaknai sebagai “coba saja, nanti tahu akibatnya”.
Istilah FAFO parenting ramai diperbincangkan di TikTok lewat video-video orangtua yang membiarkan anak menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri. Yang paling menarik perhatian adalah di awal tahun, seorang ibu bernama Paige Carter melempar iPad sang anak perempuannya ke luar mobil karena di perjalanan menuju sekolah, sang anak berulah dan tak mendengar nasihat ibunya. Paige memberi caption “FAFO” pada video tersebut. Video-video Paige terkait FAFO parenting-nya sudah ditonton lebih dari 10 juta kali.
@mrs.lunchbox_Standing on business story time iPad saga
Bila melihat apa yang dilakukan Paige kepada anaknya, tanpa sadar sebenarnya praktik semacam ini sudah sering kita lakukan. Bila Mama pernah merasa kesal karena anak tidak menuruti nasihat, kemudian melihatnya mengalami akibat dari perbuatannya dan berkata, “Mama sudah bilang, kan?”, sebenarnya Mama sedang melakukan sesuatu yang mirip dengan prinsip FAFO parenting.
Secara sederhana, FAFO parenting memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar lewat pengalaman dan konsekuensi, bukan melalui nasihat yang diulang-ulang. Namun, apakah konsep ini memang merupakan pendekatan psikologi? Dan apakah membiarkan anak menghadapi konsekuensi selalu baik untuk perkembangan mereka?
Apa itu FAFO parenting?
FAFO parenting bukan istilah dari psikologi dan bukan pula metode parenting yang memiliki definisi ilmiah baku. Dr. Andrea Mata, seorang psikolog klinis anak asal Amerika, menjelaskan bahwa konsep FAFO parenting pada dasarnya berkaitan dengan natural consequences atau konsekuensi alami, sebuah konsep yang digunakan dalam literatur psikologi dan pengasuhan anak.
Natural consequences adalah situasi ketika anak diberikan kesempatan untuk mengalami akibat dari pilihan atau kesalahannya sendiri sehingga dapat belajar dari pengalaman tersebut.
“Contoh umumnya ketika anak tidak mau memakai jaket saat cuaca dingin. Maka tidak usah mendebat anak 5 tahun, mereka tidak akan mendengar,” ujar Andrea dalam video yang diunggah September 2025 lalu.
Jika situasinya aman, menurut Andrea, orangtua tidak perlu terus memaksa dan dapat membiarkan anak keluar dan merasakan cuaca dinginnya. Ketika anak kemudian merasa kedinginan, ia dapat memahami sendiri mengapa jaket dibutuhkan.
Andrea juga menilai bahwa kesempatan mengalami kesalahan juga penting agar anak memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Orangtua tidak harus selalu turun tangan untuk mencegah setiap masalah atau menyelesaikan persoalan anak.
Namun, ini bukan berarti Mama boleh membiarkan anak menghadapi semua konsekuensi sendirian. Andrea menekankan bahwa keselamatan tetap menjadi batas utama. Jika konsekuensi berpotensi menyebabkan cedera serius, orangtua tetap perlu melakukan intervensi. Jadi, anak boleh belajar dari kesalahan, tetapi bukan dengan mempertaruhkan keselamatannya.
Benarkah anak bisa belajar dari konsekuensi?
Gagasan bahwa anak dapat belajar melalui konsekuensi juga memiliki dasar penelitian, meskipun penelitian tersebut tidak secara khusus menguji tren bernama FAFO parenting.
Meta-analysis Patty Leijten dan kolega menganalisis 154 uji coba intervensi parenting dengan 398 ukuran efek. Penelitian tersebut menemukan bahwa dari 26 teknik parenting yang dianalisis, positive reinforcement, terutama pujian, serta natural/logical consequences termasuk teknik yang berkaitan dengan efek program yang lebih kuat dalam mengurangi perilaku mengganggu anak.
Para peneliti menyimpulkan bahwa penguatan positif dan teknik disiplin non-kekerasan, termasuk konsekuensi alami dan logis, merupakan bagian penting dalam program parenting untuk mengurangi perilaku tersebut.
Artinya, memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami konsekuensi tidak otomatis bertentangan dengan positive parenting. Namun, konsekuensi bukan berarti hukuman.
Seperti contoh yang diberikan Andrea sebelumnya. Anak yang menolak memakai jaket di cuaca dingin dan keluar rumah lalu kedinginan dapat belajar bahwa lain kali ia harus memakai jaket. Tetapi membiarkan anak berada dalam situasi yang membahayakan hanya agar ia “kapok” tentu bukan tujuan dari pendekatan ini.
Begitu pula ketika orangtua sengaja mempermalukan atau membuat anak menderita. Tujuan konsekuensi adalah membantu anak memahami hubungan antara pilihan dan akibatnya, bukan membuat anak merasa buruk karena melakukan kesalahan.
FAFO dan authoritative parenting
Menariknya, Dr. Andrea Mata tidak menempatkan FAFO sebagai gaya parenting yang berdiri sendiri. Ia menyebut konsep tersebut sebagai “a slice of authoritative parenting”, atau salah satu bagian dari authoritative parenting.
Hal ini penting karena authoritative parenting tidak hanya berbicara tentang memberikan kebebasan kepada anak. Menurut American Psychological Association (APA), gaya pengasuhan ini mendorong otonomi anak sekaligus tetap memberikan batasan terhadap perilakunya. APA juga menjelaskan bahwa gaya pengasuhan dapat dilihat dari dimensi kehangatan emosional dan kontrol.
Artinya, orangtua tetap menetapkan aturan dan ekspektasi, tetapi anak juga diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan belajar mengambil keputusan. Sehingga Mama tidak harus memilih antara terus-menerus menyelamatkan anak dari masalah atau membiarkannya menghadapi semua persoalan sendiri.
Dalam hal ini, anak tetap bisa mengalami konsekuensi, sementara orangtua hadir untuk membantu memahami apa yang terjadi.
Misalnya, ketika anak menolak membawa payung lalu kehujanan, Mama tidak perlu mengatakan, “Tuh, kan! Mama sudah bilang.”
Mama bisa berkata, “Sekarang kamu tahu kenapa Mama tadi menyarankan membawa payung. Lain kali, menurut kamu, apa yang sebaiknya dilakukan?”
Dengan cara ini, anak tetap mengalami konsekuensi, tetapi ia juga diajak berpikir dan merefleksikan pilihannya.
Hal ini yang menjadi menarik dari tren FAFO parenting. Anak memang perlu belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Mereka perlu kesempatan untuk gagal, memperbaiki kesalahan, dan mencoba lagi.
Namun, Mama juga tidak perlu menghilang dari proses tersebut. Karena tujuan dari pendekatan ini bukan membuat anak kapok, melainkan membantu mereka belajar mengambil keputusan dengan lebih baik. [*]






