Tani Sauyunan Bangun Sistem Pangan Berkelanjutan dengan model CSA

Share

digitalMamaID — Kota Bandung hanya mampu memenuhi 4-5 persen kebutuhan pangannya. Pemenuhan kebutuhan pangan bertumpu pada pasokan dari daerah lain. Tani Sauyunan dengan pendekatan Community Supported Agriculture (CSA) menjadi inovasi pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan.

“Kota Bandung sama karateristiknya dengan kota-kota metropolitan lainnya, kita hanya mampu menyumplai 4-5 persen dari 100 persen kebutuhan pangan. Harus disuplai dari daerah sekeliling, daerah penyangga atau bahkan lebih jauh,” kata Rajasa ditemui di acara Pasar Tani Sauyunan di Serhaya Hall, Kota Bandung, Sabtu, 12 September 2026.

Ia mengatakan, Kota Bandung hanya memiliki Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 600 hektare. Selain lahan terbatas, karakteristik masyarakat Kota Bandung juga bukan petani. Sebagian besar warganya hidup sebagai pedagang dan penyedia jasa.

Pendekatan CSA

Dengan situasi ini, kata Rajasa, perlu intervensi dan inovasi untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan pangan.

Salah satu inovasi pangan yang berjalan di Kota Bandung digagas oleh Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari Yayasan AKATIGA dan Perkumpulan Seni Tani Bestari. Didukung oleh Urban Futures, Mereka membentuk Tani Sauyunan yang menggunakan model CSA untuk membangun pangan lokal yang berkelanjutan di Bandung Raya.

CSA merupakan model pertanian yang mempertemukan petani dan konsumen secara lebih langsung. Rantai distribusi pangannya lebih pendek. Dalam skema ini, pembeli dan petani tidak hanya hubungan transaksional. Akan tetapi, pembeli terlibat dalam mendukung petani. Misalnya melalui pembelian berlangganan hasil panen secara berkala.

Sistem inilah yang sedang dibangun oleh Tani Sauyunan. Mentari Alwasilah dari Seni Tani mengatakan, saat ini sudah ada 300 orang yang menjadi anggota Tani Sauyunan. Mereka secara berkala berlangganan sayur dari petani lokal.

Cara ini dipercaya bisa meningkatan kepastian bagi petani. “Konsumen juga jadi lebih memahami bahwa setiap makanan di meja makan itu tidak hanya transaksional, ada prosesnya. Ada jerih payah petani yang merawat tanaman, ada lahan yang digarap, ada sumber daya lingkungan yang terpakai juga,” katanya.

Konsumen tahu, dari mana makanan yang tersaji di meja makannya. Bahkan, ia tahu siapa petani yang menanamnya. Dengan pendekatan ini, hubungan antara petani dan konsumen menjadi lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.

Pasar Tani Sauyunan

Agar pengalaman para anggota Tani Sauyunan bisa dinikmati pula oleh masyarakat luas dibuatlah Pasar Tani Sauyunan. Petani, peternak, dan pengolah makanan bisa bertemu langsung dengan masyarakat luas.

“Pasar Tani ini menjadi ruang interaksi dengan nilai gotong royong, kerja sama, koneksi,” kata Mentari.

Tani Sauyunan merupakan program yang dirancang untuk enam tahun. Harapannya, dari 300 orang yang sudah menjadi anggota saat ini bisa meluas sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat Bandung Raya.

Pasar Tani menghadirkan diskusi soal pangan berkelanjutan, produk pangan local, hasil olahan bangan, serta kegiatan untuk anak-anak.

Mentari berharap, masyarakat bisa turut berkontribusi dalam pemenuhan pangan. “Bisa belajar, menanam, dan berproduksi setidaknya untuk diri sendiri, keluarga, dan komunitas,” ujarnya.

Urban Futures yang diwakili oleh Arti Indallah Tjakranegara dari Yayasan Humanis menyampaikan dukungannya terhadap inovasi pangan ini. Ia mengingatkan, pentingnya kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemangku kebijakan. “Bisa bertemu dan berdiskusi tentang pagan berkelanjutan,” ujarnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE