Selama berabad-abad, perempuan seolah dipenjara dalam identifikasi tunggal terkait tugasnya di ranah domestik. Mereka dilabeli sebagai pengasuh, istri, sekaligus manajer logistik rumah tangga. Meski edukasi mengenai kesetaraan gender telah mengubah banyak hal di ruang publik, prinsip kesetaraan di dalam rumah sering kali masih menjadi barang mewah—terutama di daerah-daerah di mana nilai tradisional masih sangat kental.
Narasi yang menempatkan ayah semata-mata sebagai pencari nafkah (breadwinner) tidaklah berdiri sendiri. Masyarakat kita masih kerap mencibir laki-laki yang memilih tinggal di rumah untuk mengurus anak, dan sebaliknya, memuja mereka yang sibuk di garda depan urusan publik. Ranah sumur, dapur, dan kasur direduksi menjadi “kodrat” perempuan. Konstruksi gender ini telanjur mengakar dan dinormalisasi, seolah pengasuhan dan pekerjaan domestik akan melunturkan sisi maskulin seorang laki-laki. Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari pembagian peran yang timpang ini? Jawabannya: tidak ada.
Konstruksi yang memenjarakan peran ayah ini justru berakibat fatal pada minimnya keterlibatan mereka dalam pengasuhan. Ini memunculkan urgensi untuk membongkar ulang makna fatherhood (kebapakan). Seorang ayah yang bersedia membuka diri dan mempraktikkan etika kesetaraan bukanlah laki-laki yang kehilangan maskulinitasnya. Sebaliknya, ia adalah manusia yang punya hak untuk berdiri sama tinggi, membebaskan keluarganya dari jebakan patriarki, dan menciptakan ruang aman yang sesungguhnya.
Secara mendalam, konsep fatherhood tidak bisa direduksi sekadar cashflow tiap bulan bulan. Ada empat elemen krusial yang membangun fondasi seorang ayah: Kedekatan dan kelekatan emosional dengan anak; Penyediaan kebutuhan material dan finansial.; Perlindungan fisik dan psikologis; dan Pembentukan karakter dan warisan nilai hidup.
Sayangnya, kacamata patriarki memangkas habis elemen-elemen tersebut dan hanya menyisakan beban pencari nafkah di pundak laki-laki. Akibatnya, beban kedekatan emosional dan pembentukan karakter diserahkan sepenuhnya untuk sang ibu.
Ketimpangan ini juga kerap dilanggengkan oleh warisan penafsiran teks-teks keagamaan. Dalam konteks Islam, misalnya, tidak dapat dimungkiri bahwa beberapa tafsir klasik yang lahir di era feodal masih memuat bias gender. Teks suci sering dibaca melalui kacamata hierarkis, menempatkan laki-laki sebagai penguasa absolut (qawwam) atas perempuan dalam nuansa yang opresif. Di sinilah pendekatan tafsir feminis hadir. Ia bukan bertujuan untuk melawan teks suci, melainkan memberikan respons krusial demi memulihkan keadilan.
Tafsir feminis berupaya menghadirkan pemahaman yang berkeadilan gender agar tercipta kesalingan (mubadalah) dalam mengasuh anak dan mengelola rumah tangga. Penafsiran ulang ini bermuara pada maqashid syariah (tujuan utama syariat), yakni memelihara nyawa, akal, keturunan, harta, dan agama secara adil. Sebagai petunjuk bagi manusia (hudan lin-nas), Al-Qur’an tentu melampaui sekat waktu. Menafsirkan ayat-ayat keluarga dengan lensa yang adil adalah bentuk nyata menjaga relevansi agama dengan etika kemanusiaan yang beradab.
Ketika seorang laki-laki bersedia mengadopsi lensa egalitarian ini, ia otomatis mendobrak batas artifisial yang selama ini mengasingkannya dari keluarga. Meminjam wawasan dari literatur seperti Good Boys Doing Feminism: Maskulinitas dan Masa Depan, laki-laki sangat bisa menjadi sekutu tangguh dalam melawan ketidaksetaraan. Berikut adalah poin-poin fundamental mengapa pemahaman ini sangat krusial bagi seorang ayah:
Salah satu tragedi terbesar dari budaya patriarki adalah fenomena fatherless—absennya peran ayah secara emosional, meski ia hadir secara fisik. Di era ini, banyak ayah duduk di meja makan, tetapi pikiran dan hatinya tidak terhubung dengan anak-anaknya karena merasa urusan afeksi adalah “tugas ibu”. Pendekatan egalitarian mendobrak dinding maskulinitas kaku tersebut. Ayah akan menyadari bahwa ia punya kewajiban etis yang sama untuk hadir. Penelitian membuktikan, anak yang tumbuh dengan kehadiran ayah yang utuh memiliki fondasi harga diri (self-esteem) yang jauh lebih sehat.
Bagi seorang anak perempuan, rumah adalah panggung pertama di mana ia belajar tentang nilai dirinya di mata dunia. Ketika kita menatap mata anak-anak perempuan kita yang sedang bertumbuh—entah itu satu, atau kebetulan kita sedang membesarkan dua orang putri di dalam rumah—kita sadar bahwa interaksi mereka dengan sang ayah akan menjadi cetak biru (blueprint) bagaimana mereka berharap diperlakukan oleh laki-laki kelak. Ayah yang berkesadaran gender tidak akan mencekoki putrinya dengan dogma bahwa perempuan harus selalu mengalah. Ia akan membesarkan mereka menjadi individu yang mandiri, berani bersuara, dan tidak ciut oleh stigma.
Anak laki-laki adalah pengamat ulung; mereka menyerap cara ayahnya bertindak. Jika seorang ayah mempraktikkan maskulinitas toksik, sang anak akan mewarisi arogansi yang sama. Sebaliknya, ketika seorang ayah tak ragu mengambil sapu, mencuci piring, dan menghormati perempuan secara setara, ia sedang memberikan pelajaran visual terbaik. Anak laki-laki yang dibesarkan oleh ayah seperti ini akan tumbuh menjadi pria yang empatik dan kelak menjadi agen kesetaraan di lingkungannya.
Rumah tangga yang sehat tidak dibangun di atas fondasi hierarki di mana satu pihak mendominasi pihak lain. Kacamata kesetaraan mendorong laki-laki untuk melihat istrinya sebagai mitra sejati. Merawat rumah dan mengasuh anak adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar “membantu istri”. Kemitraan ini akan menciptakan pernikahan yang jauh lebih bahagia, meminimalisasi konflik akibat kelelahan fisik maupun beban mental (mental load), dan memancarkan energi positif yang akan diserap langsung oleh anak-anak.
Jadi, menjadi seorang ayah di era modern menuntut jauh lebih banyak dari sekadar pemenuhan materi; ia menuntut kehadiran jiwa secara utuh dan tanggung jawab moral. Konstruksi gender yang bias telah terlalu lama menjauhkan laki-laki dari fitrah pengasuhannya. Kesediaan seorang ayah untuk menjadi sekutu dalam meruntuhkan ketidaksetaraan bukanlah sebuah ancaman bagi harmoni keluarga, melainkan jalan keluar menuju kesejahteraan bersama.
Lebih dari itu, kesetaraan memberikan ruang bagi para ayah untuk membebaskan diri dari tekanan ekspektasi sosial. Pada akhirnya, seorang ayah yang mau belajar dan menghidupi nilai-nilai egalitarian sejatinya sedang meletakkan batu bata pertama untuk membangun peradaban yang memanusiakan manusia—dan itu semua dimulai tepat dari ruang keluarganya sendiri.
Foggy FF
Seorang penulis novel, cerpenis dan penulis esai di beberapa platform digital. Ia aktif berkampanye tentang isu sosial, perempuan dan kesehatan mental. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram @halamanhalimun dan email [email protected]






