Menggagas Keterlibatan Orangtua pada Penanganan Bayi Prematur

Share

digitalMamaID — Hingga 81 tahun Indonesia merdeka, rupanya masih banyak persoalan kesehatan publik yang belum terpecahkan. Contohnya, angka kelahiran prematur di Indonesia yang masih menjadi penyumbang terbesar angka kematian pada bayi.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan, tingkat kelahiran prematur di Indonesia stagnan di kisaran 10 persen selama lebih dari satu dekade terakhir. Dengan estimasi 5 juta kelahiran per tahun, sekitar 500.000 hingga 600.000 bayi lahir prematur setiap tahun.

Di fasilitas kesehatan rujukan seperti Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, kasus kelahiran prematur bahkan mendominasi hingga 60 sampai 70 persen dari total penanganan persalinan. Menurut pakar kesehatan reproduksi Universitas Padjadjaran, Prof. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG(K), M. Kes, Subspesialis FER, tingginya angka tersebut dipicu oleh belum terselesaikannya masalah kualitas kesehatan perempuan sejak usia remaja.

“Faktor risikonya sangat kompleks, mulai dari tingginya angka anemia yang mencapai 30 persen pada perempuan Indonesia, defisiensi vitamin D, prevalensi obesitas dan PCOS akibat kurangnya aktivitas fisik, hingga persoalan sosial seperti pernikahan dini,” ujar Prof. Tono saat peluncuran buku Bayi Prematur Menjemput Harapan di Hotel de Paviljoen Bandung, Minggu, 23 Agustus 2026.

Meningkatkan keterlibatan orangtua

Guna menekan fatalitas dan meningkatkan kualitas hidup bayi prematur, Prof. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG(K), M.Kes, DR. dr. Tetty Yuniarti, Sp.A(K), M.Kes, dan dr. I.G.A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, meluncurkan buku panduan praktis tersebut sebagai bentuk memorabilia 25 tahun pengabdian mereka.

Buku ini tidak hanya membahas bayi prematur dari sisi medis, tetapi untuk memperluas pemahaman mengenai bayi prematur secara utuh dan menyeluruh mulai dari masa kehamilan, perawatan intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU), hingga perawatan tepat setelah kembali ke rumah agar bayi memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dijelaskan pula pentingnya penerapan Family Integrated Care (FiCare) dengan menempatkan orangtua sebagai bagian penting dalam perjalanan perawatan bayi prematur. Konsep ini mendorong peralihan dari sistem NICU tertutup (close unit) menjadi sistem yang melibatkan orangtua secara langsung sejak masa kritis.

Model pelayanan ini menjadi simbol perubahan paradigma dalam neonatologi. Orangtua tidak lagi diposisikan sebagai pengunjung yang hanya menunggu di balik kaca ruang perawatan, tetapi sebagai mitra tenaga kesehatan yang dilibatkan secara aktif setelah memperoleh edukasi dan pendampingan.

Dampak baik keterlibatan keluarga

Berbagai penelitian menunjukkan, keterlibatan keluarga dapat membantu bayi mencapai kondisi yang lebih stabil, mempercepat peningkatan berat badan, memperkuat ikatan emosional antara orangtua dan bayi, serta memberikan dampak positif terhadap perkembangan jangka panjang.

“Teknologi membantu bayi bertahan hidup. Namun, kehadiran keluarga membantu mereka bertumbuh. Ketika orang tua menjadi bagian dari proses perawatan, manfaatnya dapat dirasakan jauh setelah bayi meninggalkan NICU,” tutur Dr. dr. Tetty Yuniarti, Sp.A(K), M.Kes.

Dalam proses perawatan tersebut, upaya ini mencakup pemberian kesempatan kepada ibu untuk memberikan kolostrum dan ASI sedini mungkin. Proses ini dalam praktiknya kerap menghadapi berbagai tantangan selama bayi menjalani perawatan di NICU.

“ASI bukan sekadar makanan, tapi memiliki peran krusial yang setara dengan alat bantu napas, infus, dan antibiotik. Keterlibatan langsung ibu terbukti merangsang hormon prolaktin dan menekan stres, yang secara medis sangat mendukung keberhasilan perawatan bayi prematur,” tutur dr. I. G. A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, sebagai Dokter Spesialis Anak.

Meski awalnya sempat menghadapi tantangan, pendekatan berbasis keterlibatan keluarga ini terbukti membawa dampak besar. Relevansi metode ini tercermin pada kisah inspiratif penyanyi Cynthia Lamusu saat melahirkan bayi kembar prematur pada 2017.

Melalui penerapan Kangaroo Mother Care (KMC) atau Metode Kanguru serta pemberian ASI eksklusif/kolostrum secara konsisten, bayi prematur—bahkan yang berbobot di bawah 1 kilogram—mampu bertahan hidup dan tumbuh dengan optimal.

Merajut harapan

​Ketua UKK Neonatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode 2024–2027, dr. Adi Teguh, Sp.A(K), menegaskan pentingnya perubahan paradigma pelayanan medis tersebut. Menurutnya, keterlibatan aktif ibu melalui kontak kulit ke kulit (Kangaroo Mother Care) serta pemberian ASI eksklusif terbukti secara klinis menekan risiko komplikasi berat seperti sepsis dan necrotic enterocolitis (radang usus).

“Buku ini hadir mengisi kekosongan literatur praktis agar orang tua dapat menjadi ‘pemain inti’ dalam perawatan bayi prematur, bukan sekadar penonton,” tutur dr. Adi.

Buku ini tidak hanya menjawab berbagai pertanyaan yang sering muncul setelah kelahiran prematur, tetapi juga memberikan harapan bahwa bayi prematur memiliki peluang besar untuk tumbuh sehat apabila memperoleh perawatan yang tepat serta dukungan keluarga yang berkesinambungan. Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami buku ini tetap berbasis bukti ilmiah.

Para penulis berharap buku “Bayi Prematur Menjemput Harapan” menjadi jembatan antara ilmu kedokteran dan kebutuhan keluarga. Selain oleh orangtua buku ini baik juga ditelaah oleh petugas medis atau care giver yang menangani bayi lahir prematur.

Telah beredar sejak Juni 2026, buku ini tersedia di seluruh toko jaringan Gramedia. Sebagai inisiatif sosial, royalti dari pembelian buku ini akan dibelikan buku lagi untuk disumbangkan kepada rumah sakit atau tempat perawatan bayi prematur, termasuk yayasan dan komunitas terkait. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE