digitalMamaID — Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung resmi mengoperasikan daycare khusus anak penyandang disabilitas bernama Bumi Raksa. Tempat penitipan anak percontohan (pilot project) gratis yang dikelola oleh Bidang Rehabilitasi Sosial ini hadir sebagai solusi konkret untuk membantu orangtua dari keluarga kurang mampu agar dapat tetap bekerja mencari nafkah tanpa mengabaikan pengasuhan anak berkebutuhan khusus.
Layanan Bumi Raksa diprioritaskan bagi anak disabilitas usia 1 hingga 10 tahun yang berasal dari keluarga kategori desil 1 sampai 5 dalam data kesejahteraan sosial. Ketua Tim Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Dinsos Kota Bandung, Anisa Muliawati, menyampaikan bahwa kehadiran fasilitas ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi sekaligus mencegah kejenuhan fisik dan mental (burnout) yang kerap dialami para orangtua.
“Kami ingin orangtua dapat bekerja dengan tenang demi meningkatkan kesejahteraan keluarga, sementara anak-anak mereka mendapatkan pengasuhan dan pelatihan dasar yang tepat dari tenaga profesional secara gratis,” ujar Anisa.

Saat ini, Bumi Raksa memiliki kapasitas tampung sebanyak 10 anak dan telah memfasilitasi empat anak terdaftar yang mengalami kondisi Down syndrome, autisme, serta ADHD/speech delay. Operasional tempat ini disesuaikan sepenuhnya dengan jam kerja orang tua, dan beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB dari Senin hingga Jumat.
Mematahkan stigma
Kehadiran Bumi Raksa menjadi sangat krusial di tengah berbagai tantangan pelayanan disabilitas di Kota Bandung. Berdasarkan data Dinsos hingga akhir tahun 2025, tercatat ada sekitar 29.000 penyandang disabilitas di Kota Bandung, dengan 2.000 di antaranya merupakan anak-anak. Rincian disabilitas didominasi oleh disabilitas sensorik sebanyak 8.400 orang, disabilitas fisik/motorik 5.000 orang, dan disabilitas mental intelektual 3.800 orang.
Namun, aksesibilitas pendidikan dan pengasuhan masih menghadapi kendala besar. Kota Bandung dilaporkan masih kekurangan sekolah inklusi serta sumber daya manusia (SDM) pendidik khusus. Kondisi ini memaksa banyak orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) merogoh kocek pribadi untuk menyewa guru pendamping (shadow teacher).
Di samping itu, persoalan stigma sosial dan sikap penolakan (denial) dari pihak keluarga masih menjadi tantangan tersendiri. Meski berlokasi di kawasan Rancacili, Anisa menegaskan bahwa Bumi Raksa terbuka bagi seluruh warga Kota Bandung, selama orang tua berkomitmen melakukan antar-jemput.
Melihat tingginya kebutuhan, Pemerintah Kota Bandung berharap percontohan Bumi Raksa dapat direplikasi di seluruh wilayah. Pemerintah kota menargetkan setidaknya ada satu daycare disabilitas di setiap kecamatan melalui skema kolaborasi bersama aparatur kewilayahan dan program Corporate Social Responsibility (CSR) swasta.

Guna memperluas daya jangkau dan mengikis stigma, Dinsos merangkul sekitar 30 organisasi disabilitas di Kota Bandung untuk mengedukasi masyarakat hingga tingkat kelurahan dan RT/RW. Selain program daycare, Dinsos terus menyalurkan bantuan alat bantu (seperti kursi roda, alat bantu dengar, dan <span;>walker<span;>) serta melakukan respon kasus cepat lewat penjangkauan pekerja sosial.
“Kami mengimbau para orang tua agar tidak ragu memanfaatkan fasilitas negara ini demi tumbuh kembang anak disabilitas yang lebih optimal dan mandiri,” tutur Anisa.
Layanan dan fasilitas
Di bangunan yang berlokasi di dalam komplek kantor Dinsos Kota Bandung itu, daycare ini menyediakan beragam fasilitas untuk anak disabilitas. Terdapat lima kamar tidur dengan masing-masing dua tempat tidur. Lengkap dengan ruangan untuk memasak, menjemur, dan kamar mandi.
Salah seorang tim caregiver daycare Bumi Raksa, Raudhatul Jannah menjelaskan salah satu target merawat anak disabilitas ini adalah mengajarkan kemandirian pribadi sehari-hari. Karena yang baru terdaftar baru empat orang, dua diantaranya masih di bawah 5 tahun, kemandirian seperti mandi, berganti pakaian, atau merapikan tempat tidur menjadi target saat ini.

“Rutinitas harian anak-anak dirancang untuk melatih fokus dan kemampuan motorik. Aktivitas diawali dengan morning circle, berjemur, hingga latihan kemandirian harian (activity of daily living) seperti toilet training, mandi, dan menyikat gigi,” katanya.
Ada tiga caregiver yang membantu merawat anak-anak tersebut. “Kami optimistis bisa mengoptimalkan perawatan anak-anak yang dititip di Bumi Raksa, karena kami semua berlatar belakang pendidikan luar biasa dan rehabilitasi sosial,” kata Raudhatul Jannah.
Selain bebas biaya, anak-anak juga mendapatkan fasilitas makan siang gratis dari Dinas Sosial. Ke depan, Dinsos berencana melengkapi layanan dengan kunjungan terapis wicara dan okupasi seminggu sekali, serta evaluasi psikolog sebulan sekali. [*]






