digitalMamaID — Google resmi meluncurkan fitur baru bernama Selfie Video pada Juli 2026. Fitur ini memungkinkan pengguna masuk atau memulihkan akun Google dengan merekam video wajah singkat dan gerakan kepala tertentu sebagai verifikasi identitas pengganti sandi tradisional.
Selfie Video memberi pengguna lebih banyak pilihan untuk masuk, termasuk jika terkunci dari akun atau tidak memiliki akses ke ponsel maupun komputer yang biasa digunakan. Dilansir dari laman Blog Google, John Gronberg, Director and Product Management Google menyampaikan, fitur ini merupakan cara baru dan mudah untuk mengakses akun Google.
“Akun Google Anda menyimpan banyak informasi berharga, mulai dari foto-foto kenangan hingga email dan dokumen penting. Kami senantiasa berupaya memastikan informasi tersebut tetap pribadi, aman, dan mudah diakses. Itulah sebabnya kami menyarankan pengguna untuk mengatur beberapa metode masuk (sign-in). Hari ini, kami menghadirkan cara baru untuk masuk ke akun melalui Video Selfie. Ini adalah cara baru untuk mengakses akun, yang memberikan lebih banyak pilihan jika Anda terkunci dari akun atau tidak memiliki akses ke ponsel maupun komputer yang biasa digunakan,” katanya.
Cara menggunakan Video Selfie
Gronberg mengatakan, cara mengatur dan menggunakan Video Selfie sangatlah mudah. Pengguna cukup melihat ke kamera perangkat dan melakukan beberapa gerakan kepala singkat yang dipandu untuk merekam berbagai sudut wajah.
Jika mengalami kesulitan saat masuk, pengguna cukup mengambil selfie lagi untuk mengakses kembali akunnya. Video Selfie akan membandingkan video baru dengan video awal yang dibuat untuk memastikan bahwa itu benar-benar pemiliknya dan membantu masuk kembali ke akun tersebut.
Klaim keamanan
Dirancang dengan mengutamakan privasi dan keamanan, Video Selfie adalah milik pengguna sepenuhnya. “Anda memegang kendali. Video ini direkam dan disimpan secara aman atas persetujuan Anda, serta dapat dihapus kapan saja melalui Akun Google. Video ini hanya digunakan untuk membantu Anda masuk, kecuali jika memilih untuk membagikannya demi tujuan lain,” ujar Claire Forszt, Product Manager Google Identity and Engagement.
Vdeo Selfie akan dienkripsi saat disimpan, yang berarti data tersebut tetap aman meskipun tidak sedang digunakan. Saat menggunakan selfie untuk masuk, Google menerapkan berbagai lapisan keamanan guna mencegah upaya peniruan identitas, seperti penggunaan foto dan video palsu (misalnya, deepfake).
“Sebagai contoh, kami mencocokkan video Anda dengan selfie yang telah tersimpan dan meminta Anda melakukan gerakan sederhana untuk memastikan bahwa video tersebut adalah rekaman langsung (live). Kami juga menerapkan standar keamanan kami untuk mendeteksi dan mencegah upaya masuk yang mencurigakan,” ujar Forszt.
Pembaruan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Google dalam menyediakan opsi masuk yang aman dan fleksibel, seperti passkey dan kontak pemulihan. Pengguna dapat memeriksa apakah akunnya memenuhi syarat dan bisa mulai menggunakan fitur video selfie dengan mengaksesnya di g.co/signin-selfie.
Kendati begitu, kemudahan fitur masuk menggunakan Video Selfie dari Google mungkin tidak sebanding dengan risikonya. Fitur tersebut bisa menimbulkan potensi risiko keamanan, menurut Miguel Fornés, Manajer Keamanan Informasi di Incogni seperti disadur dari laman androidheadlines.com.
Menurut Fornés, fitur masuk dengan Video Selfie Google merupakan risiko keamanan yang signifikan. Pengguna perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memastikan keamanan data mereka. Hal ini terutama berlaku untuk data biometrik wajah, mengingat wajah tidak bisa diganti semudah mengganti kata sandi.
Proses didalamnya, meminta pengguna melakukan serangkaian gerakan kepala yang dipandu sebagai bagian dari verifikasi. Langkah ini bertujuan mencegah pemalsuan video karena mengharuskan pengguna melakukan gerakan-gerakan tersebut saat perekaman berlangsung.
Namun, Fornés tetap menganggap hal ini sebagai masalah besar. Metode masuk menggunakan Video Selfie dari Google ini menimbulkan risiko keamanan yang besar jika data biometrik wajah bocor.
Risiko keamanan data
Masalah utamanya bukan terletak pada biometrik wajah itu sendiri, melainkan pada cara Google menyimpan data tersebut serta risiko keamanan yang mungkin timbul jika data itu bocor. “Jika kata sandi dicuri, Anda bisa menggantinya dan kembali aman. Namun, untuk wajah, tidak ada tombol ‘reset’. Begitu data biometrik terekspos, data tersebut akan terekspos selamanya,” ujar Fornés.
Terlepas dari risiko-risiko tersebut, ada langkah-langkah maksimal yang bisa diambil pengguna untuk meminimalkan potensi masalah. Langkah ini mencakup tindakan seperti tidak mengandalkan single sign-on (masuk dengan satu akun) untuk akses yang lebih krusial, seperti aplikasi perbankan dan email utama.
Langkah lainnya, mengaktifkan autentikasi multi-faktor juga merupakan langkah penting yang sejalan dengan hal tersebut, karena metode ini mengharuskan pengguna tidak hanya masuk menggunakan kata sandi, tetapi juga memasukkan kunci autentikasi yang dibuat secara acak saat permintaan akses dilakukan.
“Selain itu, penggunaan metode autentikasi multi-faktor dalam bentuk fisik, seperti Yubike, juga patut dipertimbangkan, setidaknya untuk akun Anda yang paling penting,” tuturnya.
Mengingat biometrik wajah kini dapat digunakan untuk membuka akses ke akun Google Anda, identitas seseorang menjadi lebih rentan dibandingkan sebelumnya. Sehingga, kenyamanan yang ditawarkan mungkin tidak sebanding dengan risikonya.
Pengguna sebaiknya mempertimbangkan dengan matang apakah mereka bersedia mengambil risiko yang timbul dari penggunaan metode masuk via Selfie Video untuk membuka akun mereka. Terlepas dari pilihan mereka untuk menggunakan metode tersebut atau tidak, langkah-langkah pengamanan akun yang optimal tetap perlu dilakukan, termasuk mengaktifkan autentikasi multi-faktor dan mungkin juga menggunakan kunci keamanan fisik (hardware key). [*]






