Mulai Tahun Ini, Anak Laki-laki Mendapat Vaksin HPV

Ilustrasi vaksin HPV
Share

digitalMamaID — Vaksin Human Papillomavirus (HPV) selama ini identik dengan upaya mencegah kanker serviks. Tak heran jika pembahasannya lebih sering diarahkan kepada perempuan. Padahal, infeksi HPV juga dapat menyerang laki-laki dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit, termasuk kanker anus, penis, serta tenggorokan.

Oleh karena itu, vaksinasi HPV pada anak laki-laki mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan sejak dini. Bukan hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi juga membantu memutus rantai penularan HPV di kemudian hari.

Bertepatan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), pada Agustus 2026 Kemenkes mulai memberikan vaksin HPV kepada anak laki-laki kelas 5 SD atau berusia sekitar 11 tahun. Program ini dimulai di tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Bali dan DI Yogyakarta.

Semula pemerintah menargetkan pemberian vaksin HPV kepada anak laki-laki dilakukan serentak secara nasional pada 2028. Namun, rencana tersebut direvisi dan perluasan cakupan program dilakukan secara bertahap.

Setelah pelaksanaan di tiga provinsi pada tahun ini, vaksin HPV bagi anak laki-laki akan diperluas ke daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten pada 2027. Kemudian 2028, akan ditambah satu provinsi lagi yaitu daerah Jawa Timur, sebelum diterapkan secara nasional pada 2029.

Kenali virus HPV

Dilansir dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin HPV adalah vaksin untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus HPV. Virus HPV dapat menginfeksi manusia pada sel epitel di kulit dan membran mukosa, salah satunya adalah daerah kelamin, dan dapat menyebabkan keganasan atau kanker.

Virus ini memiliki banyak tipe, di antaranya tipe HPV 16 dan 18 yang paling sering ditemukan di seluruh dunia dan diketahui sebagai penyebab 70 persen kasus keganasan di serviks atau leher rahim wanita. Tipe HPV 6 dan 11 diketahui sebagai penyebab dari 90 persen kasus kutil kelamin. Cara penularannya terutama melalui kontak atau hubungan seksual dan non-seksual seperti sentuhan kulit ke kulit atau selaput lendir ke selaput lendir, misalnya melalui mulut.

Virus HPV dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Pada daerah kelamin, kanker dapat terjadi pada leher rahim, vulva atau bibir vagina, vagina, dan penis. Sedangkan pada daerah non-kelamin, kanker juga dapat terjadi pada bagian mulut dan saluran napas atas. Kanker leher rahim adalah kanker yang seringkali disebabkan oleh virus HPV.

Di dunia, kanker leher rahim menduduki peringkat kedua penyebab kematian terbanyak pada wanita setelah kanker payudara. Hal inilah yang semakin meningkatkan kebutuhan masyarakat akan vaksinasi HPV.

Kenapa anak laki-laki harus divaksin?

Studi penelitian yang berjudul ‘Global and Regional Estimates of Genital Human Papillomavirus Prevalence Among Men: A Systematic Review and Meta-Analysis’ yang diterbitkan dalam The Lancet Global Health pada 2023 dan mencakup 44.769 laki-laki dari 35 negara memperkirakan sekitar 31 persen laki-laki berusia 15 tahun ke atas terinfeksi setidaknya satu tipe HPV genital. Bahkan, sekitar 21 persen mengalami infeksi HPV risiko tinggi yang berpotensi menyebabkan kanker.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa HPV bukan hanya persoalan kesehatan perempuan. Laki-laki juga merupakan kelompok yang banyak terpapar HPV dan dapat berperan dalam penularan virus. Karena itu, vaksinasi pada laki-laki dapat menjadi bagian dari upaya memberikan perlindungan langsung sekaligus mengendalikan penyebaran HPV.

Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Anak IDAI Prof. Hartono Gunardi mengatakan, selama ini masyarakat beranggapan vaksinasi HPV pada anak-anak tidak perlu diberikan. Alasannya, pada usia tersebut anak-anak belum aktif secara seksual.

Namun, vaksin HPV justru harus diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Akan terlambat jika vaksin HPV baru diberikan saat seseorang sudah aktif secara seksual, karena bisa saja orang tersebut sudah terinfeksi HPV.

Hartono menekankan pentingnya pemberian vaksinasi human papillomavirus (HPV) baik pada perempuan maupun laki-laki untuk membantu mencegah kanker. Apalagi virus HPV bisa menyebabkan infeksi yang universal kepada setiap individu dalam kurun waktu hidupnya pernah satu kali terinfeksi oleh virus ini.

Hartono mengatakan, dalam menekan virus HPV dibutuhkan vaksinasi, di mana risiko penularan ke orang lain juga dapat diminimalkan secara signifikan. Berdasarkan penelitian, pemberian vaksin HPV hanya kepada perempuan membutuhkan waktu lebih dari 30 hingga 50 tahun untuk menekan prevalensi HPV tipe ganas.

Sebaliknya, jika vaksinasi dilakukan pada laki-laki dan perempuan secara bersamaan dengan cakupan penuh, penurunan signifikan dapat dicapai dalam waktu sekitar 30 tahun.

“Jadi kalau hanya perempuan saja, apalagi kalau vaksin cakupannya tidak baik, maka penekanan pengurangannya akan sangat berkurang minimal, dibandingkan dengan full coverage dan diberikan pada laki-laki maupun pada perempuan,” katanya seperti dikutip dari Antara.

Lebih lanjut, Hartono menyampaikan pentingnya orang tua dalam memberikan imunisasi HPV pada anak. Pemahaman yang baik tentang risiko penyakit dapat meningkatkan kesadaran untuk melakukan vaksinasi dalam mencegah virus HPV sejak dini.

“Imunisasi HPV merupakan cara yang paling efektif untuk melindungi individu dari kanker serviks atau HPV-related cancer ya. Dan imunisasi terbaik bila diberikan pada usia sembilan hingga 14 tahun,” tutur dia.

Pengalaman negara lain

Banyak negara yang sudah memberikan vaksin HPV kepada anak laki-laki juga, bahkan beberapa sudah memasukkannya sebagai program nasional untuk laki-laki dan perempuan (gender-neutral vaccination).

Australia menjadi salah satu pelopor setelah memperluas vaksinasi HPV kepada anak laki-laki pada 2013, melengkapi program vaksinasi anak perempuan yang telah berjalan sejak 2007. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan program skrining yang kuat, Australia diproyeksikan menjadi salah satu negara pertama yang mampu mengeliminasi kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat.

Inggris juga mulai menawarkan vaksin HPV kepada anak laki-laki usia 12 hingga 13 tahun sejak 2019 melalui program vaksinasi sekolah nasional. Langkah serupa juga dilakukan Kanada melalui program imunisasi HPV berbasis sekolah yang bersifat gender-neutral, sementara Amerika Serikat merekomendasikan vaksin HPV untuk anak laki-laki dan perempuan usia 11 hingga 12 tahun. Jerman merekomendasikan untuk anak laki-laki dan perempuan usia sembilan hingga 14 tahun. Begitu pula dengan Brazil yang menjadikan ini program nasional pada anak laki-laki usia 10 hingga 13 tahun.

Meski menjadi langkah maju, WHO menilai perluasan vaksinasi HPV masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pemerataan akses, distribusi dan penyimpanan vaksin, hingga penerimaan masyarakat. WHO menekankan pentingnya komunikasi dan edukasi karena vaksin HPV paling efektif diberikan sebelum seseorang terpapar virus. Tantangan lainnya adalah memastikan seluruh anak mendapatkan akses vaksinasi, termasuk mereka yang berada di luar sistem sekolah. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE