Film “The Devil Wears Prada 2”: Nostalgia 20 Tahun Andy Tinggalkan Runway

Share

digitalMamaID – Apakah Mama masih ingat dengan Andy Sachs? Perempuan pekerja keras yang rela banting tulang demi mengejar mimpinya, juga bos killer tapi baik hati, Miranda Priestly, yang bikin siapa saja bergidik sekaligus kagum di kantor majalah fashion Runway.

Dua dekade setelah kisah keduanya mencuri hati jutaan penonton, mereka kini dipertemukan kembali lewat The Devil Wears Prada 2 yang disutradarai oleh David Frankel dan ditulis Aline Brosh McKenna. Apakah sekuel ini mampu menghidupkan kembali pesona film pertamanya?

Nostalgia untuk mama milenial

Bagi Mama milenial yang menyukainya, kehadiran The Devil Wears Prada 2 terasa seperti membuka kembali lembaran masa muda. Film pertamanya pada 2006 jadi tontonan wajib generasi yang kini sudah menjadi ibu, apalagi saat itu tren membeli majalah cetak masih tinggi.

Menonton sekuel ini pun jadi napak tilas perjalanan diri sendiri, dari yang dulu masih sekolah atau kuliah, kini sudah menjalani peran baru sebagai ibu sekaligus perempuan yang tetap berjuang dengan ambisinya masing-masing.

Sinopsis The Devil Wears Prada 2

Film ini mempertemukan kembali Andrea “Andy” Sachs (Anne Hathaway) dengan mantan bosnya, Miranda Priestly (Meryl Streep), dua puluh tahun setelah kepergiannya dari Runway. Andy kini jurnalis yang dihormati, namun kariernya mendadak terguncang ketika seluruh ruang redaksinya dibubarkan lewat pesan singkat.

Di saat bersamaan, Runway jadi sorotan setelah menerbitkan artikel yang memuji sebuah merek fast fashion yang ternyata mempekerjakan buruh dalam kondisi tidak layak, yang akhirnya memaksa pemilik perusahaan induknya menunjuk Andy sebagai editor fitur baru tanpa persetujuan Miranda. Emily Blunt kembali sebagai Emily yang kini menjabat posisi lebih senior, sementara Stanley Tucci tetap setia sebagai Nigel.

Seperti disadur dari Grazia Singapore, sekuel ini tidak mengikuti alur novel lanjutan Weisberger, melainkan hanya memakai hak karakter ciptaannya. Cerita sepenuhnya orisinal karya Aline Brosh McKenna. Hal ini menjelaskan film ini memang dirancang untuk memanjakan penggemar setia lewat formula nostalgia dan reuni pemain, bukan sekadar memindahkan cerita dari buku ke layar lebar.

Memotret redupnya media cetak dan dunia yang didominasi perempuan

Salah satu hal yang membuat film ini relevan adalah bagaimana ceritanya menyinggung isu nyata industri media saat ini. Adegan pembuka Andy yang ruang redaksinya dibubarkan mendadak lewat pesan singkat bukan sekadar bumbu drama, melainkan cerminan gelombang PHK massal di banyak media belakangan ini.

Hal lain yang menonjol adalah bagaimana peran utamanya didominasi karakter perempuan. Ada Miranda, Andy, hingga Emily yang kini punya jalur kariernya sendiri. Andy digambarkan sebagai representasi perempuan masa kini. Perempuan yang mandiri, cerdas dalam keputusan profesional, namun tetap rumit saat berurusan dengan perasaannya sendiri. Dekat dengan keseharian Mama yang menyeimbangkan peran profesional dan emosinya, ya?

Kehadiran asisten baru Andy, Jin Chao (diperankan Helen J. Shen), juga jadi angin segar. Kehadirannya menjadi representasi Gen Z yang unik, ambisius, dan tak ragu bersuara di lingkungan kerja penuh hierarki seperti Runway.

Antara mostalgia dan rasa yang sudah berbeda

Menurut Rotten Tomatoes, The Devil Wears Prada 2 mengantongi skor 78 persen dari kritikus dan 84 persen dari penonton, cukup positif meski tak setinggi euforia film pertamanya. Kekuatan utamanya masih ada pada penampilan Meryl Streep yang menghadirkan Miranda dengan gaya lebih matang dan berani.

Namun sebagian kritikus menilai film ini terjebak formula “reboot aman” yang mendaur ulang konflik lama, dengan kritik sosial di film pertama bergeser jadi konflik korporat yang lebih generik. Meski begitu, busana mewah, musik Theodore Shapiro, dan lagu-lagu baru Lady Gaga tetap jadi daya tarik yang memikat.

Nostalgia yang layak ditonton keluarga

Dari sisi konten, The Devil Wears Prada 2 mengusung rating PG-13 dengan sedikit bahasa kasar dan gaya busana yang tak selalu sopan untuk anak-anak, sehingga lebih cocok ditonton bersama remaja yang sudah cukup dewasa mendiskusikan tema karier dan ambisi.

Terlepas dari perdebatan apakah sekuel ini mampu menandingi kilau film pertamanya, kehadiran The Devil Wears Prada 2 tetap jadi ajang nostalgia yang menyenangkan, terutama bagi Mama milenial yang dulu tumbuh bersama kisah Andy.

Di luar hiburan dan gemerlap busananya, film ini juga mengajak penonton merenungkan bagaimana dunia kerja, termasuk media yang dulu berjaya harus terus berevolusi mengikuti zaman, serta bagaimana perempuan masa kini tetap harus menyeimbangkan ambisi karier dengan sisi hati yang tak selalu mudah ditata.

Bagi Mama yang ketinggalan momen layar lebarnya, tak perlu khawatir. Film The Devil Wears Prada 2 resmi tayang di layanan streaming Disney+ dan Hulu sejak 29 Juli 2026. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE