5 Catatan Gita Wirjawan Agar Indonesia Siap Mewariskan Masa Depan yang Lebih Baik

Gita Wirayan, Puty Puar
Share

digitalMamaID – Apa yang akan kita tinggalkan pada anak-anak kita setelah kita tiada? Sebagai orangtua, kita tentu ingin meninggalkan warisan terbaik bagi anak-anak. Bukan hanya berupa harta, tetapi juga masa depan yang lebih baik. Masa depan di mana mereka bisa memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, dan berkembang di negara yang mampu mendukung potensinya.

Hal ini menjadi salah satu buah pembahasan yang relevan dalam “Book Talk & Discussion: Energy Justice and the Future of Indonesia: Upcoming Chapters We’re Writing for Our Children” yang diselenggarakan oleh BBB Book Club, Senin, 27 Juli 2026 di Jakarta.

Dalam diskusi tersebut, Gita menjelaskan, selama sekitar 30 tahun terakhir, pendapatan per kapita Tiongkok meningkat hingga sepuluh kali lipat. Sebaliknya, negara-negara Asia Tenggara rata-rata hanya meningkat sekitar 2,7 kali lipat. Menurutnya, kesenjangan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah persoalan yang selama ini belum terselesaikan.

Ia kemudian menguraikan sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian jika Indonesia ingin membangun sumber daya manusia yang mampu bersaing di masa depan.

Pendidikan harus jadi prioritas

Negara yang ingin maju harus menempatkan pendidikan sebagai fondasi pembangunan. Namun, investasi pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun sekolah atau menyusun kurikulum. Gita menekankan bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru.

“Mau nggak mau kita harus investasi di kualitas guru. Selama 90% kepala rumah tangga itu tidak memiliki pendidikan S1, guru memegang peran yang sangat penting,” paparnya.

Di Indonesia sendiri, perekrutan talenta terbaik di bidang pendidikan belum menjadi prioritas. Selain itu, besarnya insentif finansial di sektor swasta dan dunia usaha membuat lembaga akademik sulit bersaing dalam menarik tenaga pengajar berkualitas. Di saat yang sama, keterbatasan anggaran pemerintah juga membatasi upaya mendatangkan talenta dari luar negeri.

Daya saing perlu terus ditingkatkan

Gita membandingkan jumlah izin usaha yang diterbitkan di berbagai negara. Menurutnya, Tiongkok mampu menerbitkan sekitar sepuluh izin usaha untuk setiap seribu orang dewasa, sementara rata-rata negara Asia Tenggara hanya sekitar satu izin usaha. Indonesia bahkan masih berada di bawah angka tersebut hanya 0.3 bisnis per 1000 penduduk usia kerja.

Data tersebut menunjukkan, inovasi dan kewirausahaan masih menghadapi berbagai tantangan.

Merit harus lebih diutamakan daripada patronase

Banyak negara masih memilih seseorang berdasarkan kedekatan, patronase atau loyalitas, bukan berdasarkan kemampuan. “Teknokrasi itu sudah menjadi spesies yang terancam punah. Meritokrasi juga sudah menjadi spesies yang terancam punah,” tutur Gita.

Menurutnya, Indonesia perlu memperbanyak talenta yang memiliki kompetensi, akuntabilitas dan integritas agar siapa pun yang terpilih memimpin tetap memiliki kapasitas yang baik.

Pertumbuhan harus dirasakan lebih merata

Menurutnya, pembangunan di banyak negara Asia Tenggara masih terpusat di kota-kota besar. Akibatnya, talenta dari daerah berpindah ke pusat ekonomi, sementara daerah kehilangan banyak sumber daya manusianya.

Kondisi ini kemudian memperlebar kesenjangan pendapatan maupun kesejahteraan. Oleh karena itu, pembangunan perlu memberi kesempatan yang lebih setara bagi setiap orang, di mana pun mereka tinggal.

Investasi terbaik dimulai dari guru

Di penghujung diskusi, Gita menegaskan, investasi pada sumber daya manusia harus dimulai dari pendidikan. Namun, menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak akan tercapai tanpa meningkatkan kesejahteraan para guru.

“Tanpa reformasi gaji guru maka saya tidak melihat Indonesia akan meraih masa keemasan. Pendidikan hanya bisa diarahkan ke arah yang benar jika kita memberikan kompensasi yang baik terhadap guru,” ucapnya.

Ia bahkan mengajak peserta membayangkan sebuah eksperimen kebijakan. Bagaimana jika Indonesia mulai merekrut satu juta guru terbaik dan memberikan kompensasi sebesar Rp30 juta per bulan? Meski membutuhkan anggaran sekitar Rp360 triliun per tahun, Gita meyakini investasi tersebut akan menghasilkan dampak jangka panjang yang jauh lebih besar bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Saya yakin kalau kita bisa merekrut guru yang berkualitas, satu juta guru, kita bisa mempertanggungjawabkan itu,” ujarnya.  Pendekatan tersebut dapat dilakukan secara bertahap hingga menjangkau lebih banyak guru di seluruh Indonesia.

Jadi, Apa yang akan kita tinggalkan pada anak-anak kita setelah kita tiada? Mungkin jawabannya bukan hanya harta, tetapi juga keberanian untuk ikut mengawal masa depan bangsa. Sebagai orangtua, kita dapat terus belajar dan mendorong kebijakan yang berpihak pada pendidikan, kesejahteraan guru, dan pembangunan sumber daya manusia. Dengan ikut mendorong lahirnya kebijakan yang lebih baik, kita tidak hanya membangun masa depan anak kita sendiri, tetapi juga masa depan seluruh generasi berikutnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE