Menanam Harapan, Memberdayakan Perempuan: Perjuangan Nenek Eti Lewat Kopi Wanoja

Share

Di usianya yang kini menginjak 72 tahun, Hj. Eti Sumiati masih memancarkan semangat yang menyala. Dia menghabiskan masa mudanya sebagai PNS hingga pensiun di usia 58 tahun pada 2010. Namun, alih-alih menikmati masa tua dengan berdiam diri, Eti justru menemukan panggilannya di tempat yang tak pernah ia sangka, memberdayakan perempuan dari kebun kopi.

Kebun kopi dan Gunung Kamojang seakan menjadi jalan hidup ibu dari empat anak tersebut. Lahir dan tumbuh di kawasan Kamojang di Kecamatan Ibun, Kab. Bandung, ia sempat mengalami pengalaman pahit akibat rusaknya ekosistem hutan.

Saat mengandung anak ketiganya di tahun 1987, Eti sempat terbawa arus banjir bandang yang memporak-porandakan desanya yang merenggut delapan korban jiwa. Tragedi itu menanamkan pemikiran di benaknya, hutan di bagian hulu desanya butuh penataan dan penghijauan.

Puluhan tahun kemudian, pemikirannya terwujud dengan menanam ribuan pohon kopi di hutan Kamojang. Tanaman kopi dikenal memiliki akar yang kuat, cocok untuk menjadi penahan tanah dari erosi sekaligus menjaga cadangan air tanah.

Agar tetap memiliki aktivitas setelah pensiun, perempuan kelahiran 18 Agustus 1954 itu sempat menimba ilmu di sebuah pesantren untuk mencari jati diri. Namun, dua tahun kemudian, ia kembali merasakan kehampaan ketika hari-harinya lebih banyak dihabiskan di rumah. Rasa jenuh pun mulai muncul. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang petani perempuan yang membawa hasil panen kopi ceri (coffee cherry). Pertemuan itu menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya.

Ternyata kopi-kopi itu tidak dijual karena dianggap murah, rasanya pahit jika diolah sendiri. Banyak petani merasa menanam sayur jauh lebih menguntungkan. Tergerak oleh belas kasih dan ingatan akan penataan hutan, Eti nekat mendatangi ibu-ibu tersebut.

“Saya bilang sama ibu itu, sudahlah bu, nanam kopinya dilanjut saja. Nanti hasil panennya saya beli. Padahal saya sama sekali tidak mengerti bisnis maupun budidaya kopi. Tapi saya berani saja dulu. Baru tahun 2012, saya mengambil alih lahan seluas 250 tumbak (sekira 3.500 meter persegi). Lalu saya mendirikan Kelompok Tani Wanoja yang dalam bahasa Sunda berarti perempuan,” katanya saat ditemui di tempat tinggalnya pada akhir Juli lalu.

Langkah awal Kopi Wanoja diwarnai ujian berat. Karena ketidaktahuan, Eti dan kelompoknya pernah memanen seluruh kopi, termasuk buah kopi yang hijau, kuning, hingga merah. Semuanya disatukan. Saat hendak menjual puluhan kilogram kopi pertamanya, seorang pembeli mencemooh mereka. Karung kopinya ditendang, sembari berkata, “Kalau bukan karena Bu Haji, ini enggak akan dibeli karena biji kopinya jelek.”

Eti menangis, tapi tak patah arah. Cemoohan itu ia jadikan bahan bakar untuk belajar. Bersama anaknya, ia menerapkan metode trial and error. Ia membenahi sistem pascapanen dan mulai mengedukasi petani lain perihal memanen cherry kopi yang baik.

Seorang pekerja Kopi Wanoja sedang mengeringkan kopi secara alami dengan memanfaatkan sinar matahari. (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Titik balik tiba pada 2015, ketika kopi hasil olahan Wanoja berhasil menjuarai ajang Kontes Kopi Specialty Indonesia (KKSI). Publik mulai memandang Wanoja dengan kacamata berbeda, kepercayaan pasar pun bertunas.

Perjuangan yang bermula dari penjualan 1–5 kilogram kopi lokal kini melesat ke panggung dunia. Wanoja tidak lagi sekadar menyuplai kafe-kafe di Indonesia, tetapi telah menjelma menjadi eksportir kopi kelas dunia. Beberapa pencapaian mereka antara lain tahun 2015, 2018, 2022 Juara Kontes Kopi Specialty Indonesia. Tahun 2017 Kelompok Tani terbaik tingkat Jawa Barat, tahun 2020 Anugerah pratama indonesia kategori pekebun terbaik dari kementan, dan tahun 2024 juara nasional UMKM Ekspor mandiri.

Sebuah misi kesejahteraan dan kemandirian perempuan

Bagi Eti, Wanoja adalah wadah yang ia sediakan bagi kaum perempuan di sekitar tempat tinggalnya. Keputusannya ini berlandaskan alasan strategis sekaligus emosional. Pengalaman pahit di tahun 2001 saat suaminya wafat, ia sempat merasakan kehilangan pegangan.

“Meski saya juga bekerja, tapi rasanya tetap beda. Perempuan itu harus berdaya, jangan terlalu mengandalkan orang lain. Jangan cengeng. Harus tetap bisa membiayai sekolah anak-anak sampai selesai. Karena itu, saya ingin Wanoja bisa jadi perpanjangan tangan kaum perempuan di sini agar mereka berdaya,” kata Eti.

Menurutnya, perempuan memiliki keuletan luar biasa, apik (rapi), bekerja menggunakan hati, teguh memegang komitmen, serta cepat menyerap dan menyebarkan informasi positif. Sebelumnya, para suami lebih memilih menjadi buruh tani demi upah harian ketimbang menanggung risiko biaya pupuk dan bibit. Sedangkan istri yang kerap menggarap lahan tanpa bayaran.

Tantangan saat ini dalah membentengi pekerja perempuannya agar terhindar dari jeratan hutang. Sudah marak di desa-desa, banyak keluarga terjerat bank emok atau pinjol dengan bunga mencekik. Dia ingin membebaskan kaum perempuan dari lingkaran setan ini melalui lapangan kerja dan edukasi keuangan yang sehat.

“Tapi kami tidak bisa menggurui begitu saja. Kami edukasi melalui sistem kerja. Misalnya, gajian yang tadinya setiap minggu, jadi dua minggu sekali. Karena selalu habis, tidak bisa ditabung. Mulanya gajian pakai uang tunai, eh, sekali habis dipakai belanja konsumtif. Mulai sekarang semua gaji masuk Bank Bjb, jadi ambil uangnya harus pakai ATM. Sedikit banyak memaksa mereka tidak konsumtif dan bisa menabung,” tuturnya.

Pekerja perempuan Kopi Wanoja sedang memilah biji kopi. (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Kini, Kopi Wanoja mempekerjakan sekitar 60 pekerja yang sebagian besar perempuan. Jika pada mulanya semua pekerjanya perempuan, kini sudah ada beberapa laki-laki yang membantu.

Eti berusaha menerapkan manajemen yang memanusiakan manusia. Setiap pekerja memiliki jam kerja mulai pukul 09.00 hingnga pukul 17.00. Dalam sepekan, mereka berhak libur satu hari. Upah dihitung harian. Paling kecil Rp 85.000 per hari. Bahkan, ada pekerja yang sudah mencapai Rp 180.000 per hari.

Eti memberlakukan sistem rolling. Artinya, seluruh pekerja diajarkan proses mulai dari sortir cherry, green beans, pengemasan, hingga membedakan profil rasa (full wash, semiwash). Juga memberlakukan tenaga kerja secara inklusi, contohnya masih dipekerjakannya Mak Ai yang sudah berusia 70 tahun, tetapi ada juga pekerja termuda berusia 22 tahun.

“Saya juga ingin menyekolahkan mereka. Misal untuk yang lulusan SD, didorong untuk ikut penyetaraan ke SMP, dan seterusnya. Bahkan, kalau yang berpotensi, saya ingin menguliahkan mereka agar pintar, jadi pemimpin di masa depan, dan memutus rantai kemiskinan juga,” tuturnya.

Kini, kopi Wanoja sudah menembus pasar internasional. Pencapaian membanggakan di tahun 2024 saat Eti bisa mengekspor 18 ton biji kopi Wanoja senilai Rp 2,5 miliar ke Eropa. Pasar lainnya ke Arab Saudi yang melesat hingga 20 ton lebih secara rutin.

Anggota Kelompok Tani Wanoja sedang memetik kopi di kebun. (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Dia tak pernah menyangka dengan pencapaian itu jika diingat dulu ia harus menangis memohon tetangganya untuk mau membantu mencuci kopi basah, hingga kini produk mereka diakui dunia. Tidak berhenti di situ, pada Agustus 2026, Eti kembali diundang bersama Kementerian Luar Negeri ke Eropa untuk berhadapan langsung dengan parlemen Eropa, media, dan FAO (Food and Agriculture Organization). Ia menjadi anggita delagsi yang memperjuangkan nasib produk kopi organik Indonesia terkait regulasi deforestasi Eropa (EUDR) dan isu geo-location. Karakter Eti yang jujur, berani, dan pantang menyerah menjadikannya juru bicara alamiah bagi petani kecil Indonesia di tingkat global.

Saat ini, pengelolaan manajemen digital dan modernisasi Wanoja telah diserahkan kepada anak-anaknya sebagai penerus. Namun, bagi Nenek Eti, fokus utamanya tidak pernah bergeser dari akarnya, pemberdayaan perempuan.

“Modal kami cuma tiga. Punya kemauan, motivasi yang kuat, dan kejujuran. Ke depannya saya ingin lebih memberdayakan lebih banyak orang lagi,” tuturnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE