Filter Bubbles di Media Sosial yang Berbahaya

Ilustrasi filter bubble
Share

digitalMamaID – Pernahkah Mama menjumpai orang yang ngotot dengan pendapatnya karena merasa sudah mendapat informasi dari media sosial? Tampaknya dia terjebak dalam filter bubble. Apa sih itu?

Berselancar di media sosial menjadi aktivitas rutin hampir semua orang di era modern. Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari sekadar scrolling, membaca artikel, like, share, atau mengomentari suatu postingan.

Tanpa disadari, aktivitas di sosial media  telah diatur sedemikian rupa oleh mekanisme yang disebut algoritma. Algoritma akan terus menampilkan konten yang kemungkinan besar disukai dan akan dikonsumsi oleh masing-masing pengguna sosial media.

Mungkin awalnya nampak memberikan kemudahan karena pengguna disuguhi konten yang sesuai dengan preferensinya. Namun sebenarnya ada dampak negatif berupa filter bubbles. Apa sih itu? Simak penjelasannya ya!

Algoritma menyebabkan filter bubbles

Media sosial dan internet menyuguhkan begitu banyak informasi yang tidak mungkin dikonsumsi secara keseluruhan oleh penggunanya. Algoritma hadir untuk memberikan solusi agar konten atau informasi yang diterima telah dipersonalisasi sesuai dengan apa yang diminati oleh pengguna.

Masalahnya, algoritma akan menempatkan pengguna sosial media dalam filter bubbles atau gelembung penyaring. Dikutip dari GCF Global, istilah filter bubbles ditemukan oleh seorang praktisi internet, Eli Pariser. Filter bubbles dapat dijumpai di mesin pencarian maupun media sosial.

Saat berada dalam filter bubbles, algoritma yang selama ini hanya menyuguhkan informasi yang disukai akan mengisolasi pengguna media sosial dari informasi yang tidak atau belum diminati. Artinya, seseorang berpotensi kehilangan informasi yang sebenarnya penting dan dibutuhkannya.

Data yang digunakan untuk mempersonalisasi yang mengakibatkan munculnya filter bubbles ini berasal dari berbagai sumber, termasuk riwayat pencarian pengguna, pilihan penjelajahan, dan interaksi sebelumnya dengan halaman web.

Menyebabkan echo chamber

Hampir semua pengguna internet atau media sosial akan masuk dalam filter bubbles. Contoh mudahnya saat kamu membuka explore di Instagram, kamu pasti menemukan konten yang Mama suka kan?

Hal itu terjadi karena algoritma Instagram telah melakukan tracking tentang topik yang sering kamu cari, riwayat, serta interaksi yang dilakukan. Dengan begitu, Mama akan menjadi betah terus berselancar di Instagram.

Mekanisme algoritma membuat pengguna internet atau sosial media mungkin tidak menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam filter bubbles.Padahal jika terus berlanjut, seseorang dapat mengalami fenomena echo chamber.

Echo chamber adalah fenomena ketika seseorang hanya ingin menerima informasi atau pendapat yang mencerminkan atau memperkuat pendapat mereka sendiri. Akibatnya seseorang hanya mau memegang kuat perspektifnya sendiri dan sulit untuk berdiskusi secara terbuka.

Sebagai contoh saat masa kampanye Pemilu 2024, saat seseorang sudah menjatuhkan pilihannya pada salah satu pasangan calon, ia akan cenderung mencari informasi dengan tone positif  mengenai pilihannya tersebut. Saat algoritma sudah membacanya, maka konten seperti itulah yang akan lebih sering muncul di sosial medianya.

Akibatnya ia akan berpegang pada pendapatnya bahwa pilihannya adalah yang terbaik dan sulit untuk menerima informasi mengenai pasangan calon lain. Bahkan tidak jarang menimbulkan pertengkaran di kolom komentar.

Selain itu, dampak lainnya adalah mengisolasi seseorang secara intelektual. Artinya seseorang merasa bahwa informasi yang mereka sukai adalah yang paling benar, sedangkan informasi yang berseberangan adalah salah. Kondisi ini dapat membentuk individu yang anti kritik.

Menghindari filter bubbles

Filter bubbles dapat menjadi masalah serius bagi kemampuan seseorang dalam menerima informasi serta membentuk opini. Meskipun hamper tidak mungkin dihindari, kita dapat mengurangi efek dari filter bubbles.

Cara yang dapat dilakukan antara lain dengan rajin menghapus browsing history, membaca artikel dari beberapa sumber sehingga menghindari bias, serta memperluas topik informasi yang dikonsumsi.

Dengan menyadari efek gelembung filter, bersikap kritis terhadap konten yang kita konsumsi, dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki sudut pandang berbeda, kita dapat membantu memastikan bahwa kita tidak dimanipulasi oleh algoritma. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID