digitalMamaID – Pemadaman listrik yang berulang kali terjadi dalam beberapa pekan terakhir di Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya, kembali menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus menanggung dampaknya. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari di rumah, pemadaman yang kerap berlangsung berjam-jam tanpa pemberitahuan memadai juga menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik yang andal.
Sri Mulyani (33), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergelut di dunia crafting dan digital printing mengaku menyesalkan terjadinya pemadaman listrik ini. Selain menghambat aktivitas produksi, pemadaman tanpa pemberitahuan itu merugikan pelaku usaha yang tengah mengejar tenggat pesanan pelanggan.
“Kita tuh lagi banyak pesanan perpisahan guru, perpisahan kelas, wisuda karena memang produksi gift souvenir custom. Kemarin pas pemadaman pertama tanpa pemberitahuan, orderan lagi numpuk banyak, tiba-tiba mati sampai tiga jam. Kita nggak bisa kerja apapun karena butuh listrik mulai dari printer, mesin press-nya, mesin cutting-nya, semua butuh listrik,” ungkap Sri pada digitalMamaID Senin, 22 Juni 2026.
Akibatnya, saat itu tak ada satu pun pesanan yang bisa ia kirim ketika kurir datang. Pemadaman pertama, pekan lalu, terjadi sekitar pukul 13.00-16.00 WIB, tepat saat proses produksi dan pengiriman sedang berlangsung. Kondisi tersebut membuat sejumlah pesanan pelanggan tertunda.
Waktu produktif hilang
Meski tidak ada pelanggan yang marah, ia tetap harus menjelaskan alasan keterlambatan pengiriman kepada para pembeli. “Ada yang komplain, ada yang nggak. Saya minta maaf dan menjelaskan kalau ada pemadaman listrik sehingga barang belum sempat dikirim,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan pemadaman listrik kembali terjadi, Sri kini memulai pekerjaan lebih awal, yaitu pukul 03.00 dini hari. Keputusan itu diambilnya agar seluruh pesanan dapat selesai tepat waktu. “Saya mulai nge-print dan nge-press dari jam tiga subuh karena takut mati listrik lagi dan nggak kekejar,” katanya.
Salah satu produk yang ia buat ialah mencetak tumbler sesuai desain yang diinginkan pelanggan. Dalam kondisi ramai pesanan, usahanya mampu mencetak antara 50-100 tumbler per hari. Namun, pemadaman listrik membuat waktu produksi berkurang dan mengganggu target penyelesaian pekerjaan.
Meski belum merasakan kerugian materi secara langsung, ia menilai, dampak terbesar dari pemadaman listrik adalah hilangnya waktu produktif. “Kalau kerugian materi langsung belum terlalu terasa. Tapi rugi waktu, itu yang paling terasa. Waktu terbuang sia-sia karena pekerjaan harus berhenti,” tuturnya.
Terkait penyebab pemadaman, ia mengaku sempat mencari informasi melalui media sosial. Ia mencari tahu penyebab pemadaman listrik ini dari media sosial. Beberapa informasi menyebutkan, pemadaman berkaitan dengan kebijakan efisiensi anggaran,selain itu jugadisebabkan kendala pasokan batubara. “Yang disesalkan, kita ini katanya kaya akan batu bara. Tapi kehabisan batubara itu gimana ceritanya?” ujarnya.
Ia pun berharap pemerintah lebih memikirkan masyarakat. “Pemerintah itu banyak-banyak deh mikirin rakyat, jangan maunya ngabisin keringat rakyatnya doang tapi, nggak dipikirin kehidupan rakyatnya,” katanya.
Delapan jam
Hal serupa juga dirasakan Risnha (33), seorang ibu rumah tangga di Bandung. Ia bahkan mengaku mengalami pemadaman listrik hingga dua kali dalam seminggu. “Waktu itu di Riung Bandung terlama sampai delapan jam, selanjutnya tiga jam,” ungkap Risnha.
Akibatnya, menurut Risnha, kegiatan sehari-hari di rumah jadi terganggu, seperti masak nasi, mencuci karena air juga ikut mati. “Sama ada peliharaan ikan, jadi mati juga karena nggak ada sirkulasi,” ungkapnya.
Ia menyoroti minimnya informasi sebelum pemadaman listrik terjadi. Berdasarkan apa yang ia alami juga, ketika listrik akhirnya menyala itupun berlangsung secara bertahap dengan jeda waktu yang lumayan panjang. “Kalau di Riung Bandung kemarin, nyala bertahap, jadi ada yang lima jam mati listrik, ada yang delapan jam,” katanya.
Risnha sendiri mengaku sudah menyampaikan keluhan melalui aplikasi PLN. Namun, respons yang ia terima belum memuaskan. Sekarang ia hanya berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan masyarakat mendapatkan informasi lebih awal apabila pemadaman terpaksa dilakukan.
“Kalau memang harus ada pemadaman, setidaknya diberi informasi terlebih dahulu. Selain itu, durasi dan waktunya juga jangan sampai terlalu lama hingga mengganggu aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Penjelasan PLN
Tidak hanya Bandung, gangguan listrik padam juga terjadi di banyak kota di Pulau Jawa. Dikutip dari CNN Indonesia, dalam konferensi pers terkait pemadaman listrik di Pulau Jawa pada Minggu, 21 Juni 2026, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, gangguan pasokan listrik terjadi akibat dua pembangkit besar milik mitra (Independent Power Producer/IPP) yang mengalami kendala teknis dan sempat keluar dari sistem kelistrikan Jawa-Bali. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan kapasitas daya secara signifikan sehingga sistem tidak berada dalam kondisi normal.
Darmawan juga menyampaikan, setelah gangguan terjadi, PLN melakukan pengaturan beban atau pemadaman bergilir untuk menjaga stabilitas sistem agar tidak terjadi gangguan yang lebih luas. Ia menambahkan bahwa dalam proses pemulihan, salah satu pembangkit yang sempat terganggu berhasil kembali beroperasi dan memperkuat pasokan listrik sehingga kondisi sistem kelistrikan Jawa mulai berangsur membaik.
Kejadian berulang
Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terdapat sejumlah kejadian listrik padam skala besar dalam beberapa tahun terakhir yang berdampak luas terhadap masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Dalam kurun 2019 hingga 2026, kejadian listrik padam menunjukkan pola yang perlu menjadi perhatian serius. Listrik padam Jawa-Bali tahun 2019 berdampak pada sekitar 14,2 juta pelanggan akibat gangguan transmisi SUTET 500 kV Ungaran–Pemalang yang memicu cascading failure pada sistem Jawa-Bali. Pada 2024, mati listrik di Sumatera berdampak pada sekitar 4,3 juta pelanggan akibat gangguan transmisi 275 kV dan hilangnya kestabilan frekuensi sistem interkoneksi. Tahun 2025, Bali kembali mengalami mati listrik akibat gangguan sistem interkoneksi Jawa-Bali. Bahkan pada Mei 2026, Sumatera kembali mengalami listrik padam besar yang berdampak pada sekitar 13,1 juta pelanggan akibat gangguan transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai.
Rangkaian kejadian itu memperlihatkan satu persoalan mendasar, sistem kelistrikan Indonesia masih terlalu bertumpu pada jaringan transmisi besar yang sangat sentralistik. Dalam kondisi normal, sistem ini memang efisien. Namun ketika satu titik terganggu, efek domino sulit dihindari.
Temuan investigasi atas kejadian terbaru semakin menegaskan, sistem kelistrikan perlu diperkuat dan dikelola secara lebih andal.
Oleh karena itu, YLKI mendorong:
- Peningkatan keandalan sistem dan transparansi informasi kepada konsumen
- Evaluasi menyeluruh atas pengelolaan jaringan listrik
- Pemberian kompensasi yang adil, cepat, dan proporsional bagi konsumen terdampak
Konsumen tidak boleh terus menjadi pihak yang menanggung kerugian. Listrik padam, hak konsumen tetap harus menyala. [*]






