Mengubah Mindset Pelaku UMKM terhadap Talenta Digital

Share

digitalMamaID — Mengubah sudut pandang pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi langkah penting dalam menghadapi era transformasi digital. Talenta digital seharusnya tidak lagi dianggap sebagai biaya tambahan, melainkan investasi strategis yang dapat membantu usaha bertahan, berkembang, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Transformasi digital kini menjadi kebutuhan pelaku UMKM agar usaha tetap relevan di tengah perubahan pasar. Namun, tantangan dalam proses digitalisasi tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan akses teknologi semata. Salah satu hambatan terbesar justru terletak pada cara pandang pelaku usaha terhadap talenta digital yang sering kali masih dianggap sebagai beban biaya.

Menurut Quratul Ain selaku Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, masih banyak pelaku UMKM di Kalimantan Tengah memiliki kecenderungan bekerja sendiri. Mereka belum menyadari pentingnya kolaborasi dengan talenta digital untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha. Salah satu faktor yang membuat pemanfaatan talenta digital di kalangan UMKM belum familiar karena belum ada titik temu antara talenta digital muda dengan pelaku usaha. “Saat ini masih ada gap antara pelaku usaha dan talenta digital. Keduanya masih berjalan sendiri-sendiri,” ujar Ain saat ditemui digitalMamaID usai Workshop Keuangan Digital dan Strategi Media Sosial di Palangka Raya, Senin, 2 Maret 2026.

Kesenjangan talenta digital dan pelaku UMKM

Ai menilai di tengah kebutuhan digitalisasi yang semakin besar, terdapat kesenjangan yang cukup nyata antara talenta digital muda dan pelaku UMKM di daerah. Banyak anak muda memiliki keterampilan di bidang digital seperti desain grafis, pengelolaan media sosial, pembuatan konten, keuangan, hingga pemasaran digital. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tersambung dengan kebutuhan nyata pelaku usaha.

Di sisi lain, banyak pelaku UMKM yang sebenarnya membutuhkan dukungan digital untuk mengembangkan usaha mereka, tetapi belum mengetahui bagaimana menemukan atau bekerja sama dengan talenta digital muda. Akibatnya, kedua pihak berjalan sendiri-sendiri. Anak muda mengembangkan keterampilan digital tanpa terhubung dengan sektor usaha riil, sementara pelaku UMKM tetap menjalankan usahanya secara mandiri tanpa dukungan keahlian digital yang memadai.

Sebagian besar dari mereka berperan sebagai pemilik usaha (owner) yang sebenarnya dapat lebih fokus pada pengembangan produk, kualitas layanan, serta strategi usaha. Namun dalam praktiknya, mereka masih harus mengerjakan hampir seluruh aspek operasional sendiri, mulai dari produksi, pemasaran, hingga administrasi usaha. Pemilik usaha tidak harus selalu merekrut pegawai tetap untuk menjalankan proses digitalisasi. Saat ini banyak talenta digital yang bekerja secara fleksibel, seperti freelancer yang menawarkan jasa pembuatan konten, pengelolaan media sosial, hingga desain promosi dengan tarif yang relatif terjangkau.

Skema kolaborasi ini memungkinkan pemilik usaha tetap fokus pada pengembangan produk dan strategi bisnis, tanpa harus terbebani dengan biaya gaji tetap setiap bulan. Dengan memanfaatkan talenta digital secara kolaboratif, UMKM dapat meningkatkan visibilitas usaha, memperluas jangkauan pasar, sekaligus mempercepat proses transformasi digital secara lebih efisien. “Inginnya membuka mindset UMKM bahwa bisa kok kolaborasi dengan anak-anak muda, kita ingin menjembatani antara keduanya,” tambah Ai yang merupakan founder komunitas pengembangan talenta digital, Narai Coder.

Pahami digitalisasi sebagai investasi

Salah satu langkah penting dalam mendorong digitalisasi UMKM adalah mengubah cara pandang pelaku usaha terhadap teknologi dan tenaga ahli digital. Digitalisasi tidak seharusnya dipandang sebagai pengeluaran mahal, melainkan sebagai investasi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional usaha.

Pemanfaatan fitur sederhana seperti pesan otomatis, katalog digital, hingga pengelolaan media sosial secara lebih terarah dapat membantu pelaku usaha menjangkau konsumen lebih luas sekaligus memperkuat identitas merek. Dalam jangka panjang, dukungan talenta digital juga dapat membantu UMKM mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Literasi digital dan keuangan masih jadi tantangan

Di tengah kebutuhan digitalisasi yang semakin besar, kemampuan literasi digital pelaku UMKM masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak pelaku usaha, khususnya perempuan, yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan usaha mereka.

Hal ini juga terlihat dari pengelolaan keuangan usaha. Dalam kegiatan pendampingan yang diselenggarakan Narai Coder dan Komdigi di Palangka Raya, sebagian besar pelaku UMKM baru mulai mencoba pencatatan keuangan digital. Bahkan masih banyak yang sebelumnya belum memiliki pencatatan usaha secara manual. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang lebih tertata.

Narasumber menyampaikan materi pada kegiatan Workshop Keuangan Digital dan Strategi Sosial Media untuk pelaku UMKM perempuan di Palangka Raya, Senin, 2 Maret 2026

Selain itu, keterbatasan akses terhadap mentor atau pendamping di bidang digital juga menjadi kendala. Informasi dan pelatihan sering kali belum menjangkau seluruh pelaku UMKM secara merata, terutama di daerah-daerah di luar pusat kota.

Sofia Amanda, pemilik usaha makanan ringan di Palangka Raya mengaku saat ini sudah mulai menggunakan digitalisasi untuk usahanya meski hanya mengandalkan tutorial dari channel You-Tube. “Saya sudah mencoba promo lewat media sosial dan sedikit-sedikit membuat konten juga, tapi untuk laporan keuangan memang masih manual.” kata Sofia.

Perempuan sebaai tulang punggung UMKM

Dominasi perempuan dalam sektor UMKM sebenarnya membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan talenta digital, khususnya dari kalangan anak muda. Menurut data, lebih dari 70 persen pelaku UMKM di Kalimantan Tengah merupakan perempuan dengan rentang usia yang beragam, mulai dari anak mudah hingga lansia. Kondisi ini menempatkan perempuan pada posisi strategis sebagai penggerak utama ekonomi daerah. daerah. Sementara itu lebih dari 64 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan yang menjadi penggerak utama perekonomian hingga menyerap lebih dari 117 juta tenaga kerja atau sekitar 97 persen dari total lapangan kerja nasional.

Namun di balik besarnya peran tersebut, banyak pelaku UMKM perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengadopsi teknologi digital. Selain literasi digital yang masih perlu ditingkatkan, banyak pelaku usaha yang masih terlalu fokus pada operasional sehari-hari sehingga strategi pemasaran digital dan pengembangan bisnis belum menjadi prioritas.

“Program pendampingan yang dilakukan melalui kolaborasi Komdigi dan Narai Coder ini berupaya menjawab tantangan tersebut melalui edukasi dan pendampingan berkelanjutan. Program ini mencakup peningkatan literasi keuangan digital, strategi pemasaran digital, serta penguatan branding usaha agar pelaku UMKM lebih siap menghadapi ekosistem ekonomi digital,” tambah Ai.

Narai Coder merupakan komunitas non-profit yang berfokus pada pengembangan minat, bakat, dan kompetensi di bidang teknologi informasi di Provinsi Kalimantan Tengah. Komunitas ini menjadi wadah bagi pegiat, pembelajar, dan profesional teknologi untuk belajar, berbagi pengetahuan, serta membangun kolaborasi dalam bidang digital dan pemrograman. Komunitas ini memiliki tujuan untuk memperkuat ekosistem teknologi di daerah dengan meningkatkan keterampilan anggota dalam pengembangan perangkat lunak dan teknologi digital, sekaligus menghubungkan talenta lokal dengan peluang di industri teknologi nasional maupun global. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE