Minggu kemarin, aku menonton “Pangku”, film besutan Reza Rahadian yang sedang banyak diperbincangkan. Ceritanya yang mengangkat perjuangan ibu tunggal buat keluar dari kemiskinan struktural, sangat bagus menurutku dan aku bilang teman-teman supaya nonton juga. Namun, salah satu temanku berseloroh “Ah, males, gak relate.”
Awalnya aku tertawa dan menganggap pernyataannya lucu karena aku tahu dia hanya berkelakar. Tapi, setelah dipikir-pikir, kata-katanya mengandung kesenjangan sosial yang mirisnya tak pantas dibilang lucu sama sekali.
Sebagai gambaran, teman sekantorku ini memang tajir. Dari kecil hingga dewasa sudah berkecukupan tak pernah kekurangan. Sehari-hari menggunakan barang branded dari kepala hingga kaki. Liburan ke luar negeri sudah menjadi agenda tahunan wajib baginya. Ia bahkan tak perlu berusaha menonjol dalam karirnya karena mungkin pekerjaan hanyalah selingan kegiatan hariannya.
Kehidupan elit itu tentu saja sangat berbanding terbalik dengan keseharian Tika, tokoh utama dalam film Pangku. Sebagai ibu tunggal, ia harus banting tulang bekerja apapun dari buruh sawah hingga pembuat kopi yang harus bersedia dipangku dan diraba-raba oleh para sopir truk yang mampir ke warungnya. Itupun masih belum cukup buat kebutuhan sehari-hari. Liburan baginya cukup ke pantai terdekat yang tak membuatnya merogoh kocek sepeserpun. Bekerja baginya bukan pilihan, tapi kebutuhan.
Kehidupan temanku dan Tika yang sangat berbeda membuatku tertegun menyadari bahwa gap di negeri ini memang begitu besar adanya. Walau Tika hanya sosok di film, aku yakin itu adalah gambaran realistis kaum kelas bawah yang jumlahnya bahkan lebih banyak dari kaum temanku yang kaya raya itu.
Di saat orang seperti temanku sedang galau memilih venue pernikahannya antara di kapal pesiar atau di hotel bintang lima, ada orang seperti Tika yang bingung harus beli beras atau telur karena uangnya yang hanya cukup beli salah satu.
Ketika temanku mengeluh lelah setelah bekerja dan dijemput sopir pribadinya, ada Tika yang mendorong gerobak mie ayamnya sendirian setelah diusir oleh istri dari lelaki yang ia cintai.
Keduanya sama-sama galau dan lelah walau dalam level yang sangat jauh berbeda. Di tahap ini, aku cukup mengerti pernyataan temanku tentang kemiskinan struktural. Tentu saja kegalauan dan kelelahan tokoh Tika tak ada hubungannya sama sekali dengan hidupnya. Bahkan mungkin ia akan berpikir bahwa film itu terlalu dibuat-buat dengan penderitaan yang baginya tak nyata.
Padahal, cuplikan kehidupan Tika cuma sepersekian persen dari struggle yang dihadapi 23.36 juta rakyat miskin di Indonesia (Data BPS, September 2025). Aku jadi mikir, pantas saja para pemangku negeri ini juga seolah menutup mata akan kesusahan rakyat yang mungkin telah menggunakan suaranya untuk memilihnya. Karena mereka tak pernah relate sama sekali dengan kehidupan kelas bawah yang cuma mereka temukan di film. Mereka tidak pernah mendengar cerita ini di dunia nyata. Atau mungkin tidak peduli, karena mereka juga punya masalah yang mungkin menurut mereka lebih penting.
Sebenarnya, kaum kelas atas tak perlu repot-repot memiskinkan diri mereka untuk tahu struggle kelas bawah. Cukup dengan menumbuhkan perasaan yang kian langka di zaman sekarang: empati.
Perasaan ini tidak akan muncul begitu saja, jika kita tidak mau membuka hati dan pikiran untuk menerima informasi yang bahkan tidak ada hubungannya sama hidup kita. Semakin banyak terekspos dengan hal-hal di luar bubble mereka, semakin terasah hati kecil mereka untuk sadar bahwa kehidupan ini tidak berputar hanya di kalangan mereka.
Sayangnya, kemampuan untuk menumbuhkan empati ini sepertinya hanya hinggap di kaum menengah yang levelnya berada di tengah-tengah mereka. Masalahnya, empati saja tidak cukup untuk menyebrangi kesenjangan ini. Dan kalau pun kita punya power, kemungkinan kita pun akan lupa dengan perasaan empati hanya karena kita merasa sudah naik level.
Contohnya banyak: aktivis zaman dulu yang biasanya menyuarakan ketidakadilan, tiba-tiba denial sama peristiwa amoral setelah punya jabatan. Atau ada pemimpin yang dulunya rakyat biasa, hobi blusukan, menjadi penguasa tamak yang bahkan tak segan mengubah aturan setelah mencicipi tampuk kekuasaan.
Jangankan mereka yang sudah di atas angin, banyak dari kita, yang juga masih punya titel “rakyat jelata” acuh sama penderitaan atau perjuangan orang lain, hanya karena tak berdampak sama hidup kita. Cuma sedikit beruntung karena punya privilege sedikit aja, kita merasa punya hal buat merendahkan martabat sesama rakyat.
Tapi, kalau ditilik dari sejarahnya, kehilangan empati ini memang hasil dari sistem kapitalis yang udah berabad mengakar dan rule the way the world works. Sistem ini juga jadi aktor utama terjadinya gap jauh antara si kaya dan si miskin. Kalau menurut Buku Reset Indonesia, kesenjangan ini udah gak bisa dihilangkan, unless 1 generasi dimusnahkan dulu, lalu bikin sistem yang baru from scratch.
Walau sepertinya masih hal yang impossible mengubah sistem ini demi keselarasan hidup para manusia, tapi kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap the way the world works.
Firda Iskandar






