Buku Fisik di Tengah Gelombang Digitalisasi

Anak-anak membaca buku fisik.
Share

digitalMamaID – Anak-anak berusia 12 tahun ke bawah adalah digital native. Menjadi sebuah pertanyaan apakah buku digital menjadi jembatan antara meningkatkan minat baca dan kesukaan mereka pada gawai? Namun, unsur sensori membuat buku fisik juga tetap menarik.

Windy Ariestanty, penggagas Patjar Merah, sebuah inisiatif yang berfokus pada literasi dan akses terhadap buku mengatakan, pentingnya regenerasi pembaca usia dini, remaja dan keluarga di era digital saat ini. Regenerasi pembaca adalah sebuah petualangan untuk merawat dan mewariskan kecintaan membaca.

“Minat baca dan kecintaan terhadap buku bisa berkelanjutan jika kecintaan pada aktivitas membaca itu yang dirawat. Bahwa pembaca punya peranan signifikan untuk terlibat dalam regenerasi kecintaan terhadap aktivias membaca. Ketika sudah cinta dan membudaya maka eksosistem buku akan lebih sehat,” ujar Windy dalam Webinar Peran Buku Fisik dan Buku Digital dalam Meningkatkan Minat Baca Anak, Rabu, 20 Maret 2024 yang diselenggarakan oleh Sekolah Tetum Bunaya.

Webinar Peran Buku Fisik dan Buku Digital dalam Meningkatkan Minat Baca Anak
Webinar Peran Buku Fisik dan Buku Digital dalam Meningkatkan Minat Baca Anak.

Empat pilar kecintaan membaca

Menurut dia, terdapat empat pilar utama yang berperan untuk memunculkan kecintaan dan minat membaca yaitu: pembaca, penulis, penerbit dan jaringan distribusi yaitu orang-orang yang mempertemukan buku dengan pembaca. Jaringan distribusi ini berperan penting dalam menghubungkan buku dengan pembaca melalui cara-cara alternatif, tidak hanya sekedar transaksi.

Windy menilai bahwa yang terjadi saat ini bukanlah minat literasi orang Indonesia yang rendah. Melainkan akses terhadap bacaan dan ruang belajar yang terbatas dan belum merata.

”Akses literasi yang merata dan setara adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Hingga saat ini isu distribusi buku itu belum mampu diselesaikan Indonesia sebagai negara kepulauan,” ujar dia.

Bahkan baginya, kemunculan buku digital saat ini pun belum dibarengi dengan akses internet yang merata di Indonesia. Namun, hal tersebut bukanlah halangan bagi para pegiat literasi di daerah. Sebab banyak aktivasi kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan untuk mendekatkan buku kepada masyarakat dan anak-anak.

Berdampingan dengan buku

Windy menjelaskan beberapa inisiatif kegiatan yang dilakukan Patjar Merah untuk mendekatkan akses terhadap buku kepada masyarakat dan membuatnya tidak berjarak serta menyenangkan. Misalnya saja menciptakan pasar dan festival buku di tempat-tempat tidak terduga, seperti reruntuhan bangunan, gudang mati, dan lorong kota yang dekat dengan masyarakat. Lalu ada jelajah dan petualangan di pasar buku sebagai aktivitas interaktif dengan melibatkan anak-anak. Selain itu juga menjadikan ruang bebas membaca di setiap sudut, baik di perpustakaan, taman kota, maupun angkutan umum. Sehingga orang terbiasa dengan aktivitas membaca di ruang publik.

“Kegiatan seperti itu seharusnya dilakukan secara bersama-sama, masif, serta berkelanjutan. Sehingga kita tidak lagi menganggap bahwa buku itu hanya ada di gedung mewah seperti mall tapi ada di mana-mana dan menjadi sebuah kebutuhan,” ujarnya.

Dia mencontohkan sebuah daerah di Kota Ambon terdapat toko buku kecil di dalam toko kelontong. Baginya hal tersebut merupakan sebuah upaya nyata mengenalkan buku pada siapapun yang tengah melakukan belanja harian. Selain itu, Windy mencontohkan sebuah desa dalam kastil di Portugis memiliki jumlah buku yang beredar jauh lebih banyak dari jumlah penduduknya. Di desa tersebut buku dijual berdampingan dengan penjual daging maupun sayuran.

“Buku di sana itu sudah seperti kebutuhan sehari-hari. Harapan kami adalah seperti itu. Buku menjadi kebutuhan harian bukan tersier,” kata perempuan yang selalu membawa KBBI dalam setiap perjalanannya.

Buku fisik tidak pernah usai

Windy mengaku bahwa sepuluh tahun lalu dia berpikir bahwa industri buku akan usai masanya. Namun itu tidak terjadi dan justru sebaliknya. Berdasarkan temuannya, pada masa pandemi tahun 2020 pertumbuhan buku cetak seluruh dunia mencapai 300 persen, sementara pertumbuhan buku digital sebesar 20 persen.

“Pandemi tiba-tiba memberikan satu wajah baru bagaimana insdusri buku ternyata industri anomali. Semua ramalan orang tentang buku cetak akan segera selesai tidak terbukti hingga hari ini,” ucapnya.

Tren ini menunjukkan bahwa orang-orang mencari aktivitas dan pengalaman nyata pada saat sebagian besar kehidupan beralih ke dunia online. Salah satunya yaitu dengan membaca buku.

Windy percaya bahwa pengalaman sentuhan dan keterlibatan seluruh panca indera dalam proses membaca memunculkan kerinduan pada aktivitas membaca buku fisik.“Dengan membaca buku fisik daya fokus dan konsentrasi akan lebih terlatih untuk meningkatkan pemahaman, juga merangsang imajinasi dan kreativitas, serta memberikan pengalaman sensorik dan motorik ditambah dengan interaksi dan keterlibatan orangtua menjadi pengalaman yang penting bagi tumbuh kembang anak,” tambahnya.

Sama baiknya

Windy meyakini bahwa buku digital adalah keniscayaan di masa depan. Keberadaannya bukan untuk dibenturkan dengan buku fisik. Baginya membaca apapun dalam bentuk apapun adalah sama baiknya. Masing-masing memiliki memiliki nilai, manfaat dan tantangannya sendiri. “Bukan tentang medium bacanya, melainkan bagaimana merawat kecintaan kepada membaca,” katanya.

Menurut Windy, tantangan buku fisik terletak pada distribusi dan aksesnya terutama dalam jarak yang jauh. Untuk buku digital, tantangannya adalah mempertahankan fokus dan konsentrasi si anak saat menggunakan perangkat digital tersebut. DIa juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam kegiatan membaca anak, baik buku digital maupun fisik, untuk menumbuhkan kecintaan membaca.

Orang tua mengakrabkan diri dengan digital

Windy meyakini peran aktif orangtua atau pendamping mengenalkan dan mendekatkan buku pada anak dengan cara yang menyenangkan menjadi modal kecintaan anak terhadap aktivitas membaca. Karena buku adalah alat pertama berinteraksi antara orangtua dan anak. Dia menyarankan sebelum mengenalkan anak pada buku digital, sebaiknya orang tua sudah terbiasa mencermati dan mengakrabkan diri dengan format digital tersebut.

“Orang tua perlu merasa nyaman dengan format membaca digital untuk bisa membimbing anak-anak melalui transisi dari buku fisik ke digital. Juga mesti mengenali dulu tahapannya sebagai pendamping. Di mana bisa terhubung dengan anak lewat buku digital, gagapnya di mana, kagoknya di mana, sebelum masuk ke dalam tahapan membaca anak-anak itu sendiri,” katanya.

Windy juga menyebutkan peralihan buku fisik ke digital tidak mengurangi peran orangtua, melainkan mengubahnya.

Orangtua harus mengeksplorasi dan memahami di mana mereka dapat terlibat ketika anak berinteraksi dengan buku atau perangkat digital.

Windy juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar industri untuk menciptakan kegiatan literasi yang menarik dan berkelanjutan. Ia percaya bahwa buku adalah sarana terhubung bukan hanya sekedar teks. Kolaborasi dengan berbagai sektor akan membuat kegiatan literasi yang inovatif dan menarik dapat tercipta lebih merata di wilayah. Selain itu, pentingnya melibatkan anak dalam membuat sebuah kegiatan akan menumbuhkan partisipasi aktif dan minat mereka. Sehingga kecintaan akan kegiatan membaca pun akan terus tumbuh.

Mama lebih suka membaca buku fisik atau digital, nih? Apapun jawabannya, upaya menanamkan kecintaan membaca harus terus dilakakun. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID