Hari Bumi: Stop Buang Minyak Jelantah ke Saluran Air!

Hari bumi mengelola minyak jelantah
Share

digitalMamaID – Momentum Hari Bumi jadi pengingat, persoalan lingkungan tidak selalu datang dari limbah besar. Di dapur rumah tangga, minyak jelantah yang kerap dianggap sepele ternyata masih banyak dibuang sembarangan karena minimnya akses pengelolaan yang mudah dan berkelanjutan.

Sri Mulyani (33), ibu rumah tangga, mengaku masih bingung mengelola minyak jelantah di rumah. Di lingkungannya sudah tidak ada lagi pihak yang rutin mengambil limbah tersebut, sehingga ia memilih cara paling praktis: membuangnya ke selokan.

“Dulu sempat ada yang keliling minta minyak jelantah, tapi nggak rutin. Sekarang sudah lama nggak ada yang ambil,” ujarnya kepada digitalMamaID, Senin, 20 April 2026.

Sri Mulyani mengaku tidak terlalu sering menggoreng, sehingga minyak yang dibuang biasanya tidak sampai semangkuk. Ia biasa memakai minyak hingga dua atau tiga kali selama masih terlihat bersih. Namun, minyak bekas menggoreng ikan biasanya langsung dibuang karena baunya menyengat.

Kondisi serupa dialami Ririn (34). Karena tidak tahu harus menyalurkan minyak jelantah ke mana, ia memilih memasukkannya ke plastik lalu membuangnya bersama sampah rumah tangga.

“Di sini nggak tahu ada yang ngumpulin jelantah. Jadi biasanya diplastikin, terus dibuang bareng sampah,” ujarnya.

Ririn mengatakan minyak yang dibuang biasanya sekitar setengah mangkuk. Ia menegaskan tidak pernah membuangnya ke saluran air. Bahkan, sisa minyak di piring dan alat masak selalu dibuang lebih dulu ke tempat sampah sebelum dicuci.

Menurut Ririn, di wilayahnya sempat ada pengumpulan minyak jelantah, tetapi hanya berjalan dua atau tiga kali lalu berhenti. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan informasi dan minimnya sistem pengumpulan yang konsisten membuat minyak jelantah tetap berakhir di tempat sampah atau saluran air.

Kumpulkan minyak jelantah

Berbeda dengan keduanya, Ratna (44) sudah setahun terakhir rutin mengumpulkan minyak jelantah. Minyak bekas memasak ia tampung di jeriken untuk kemudian dijemput pengepul.

“Bahaya banget kalau dibuang di saluran air. Minyak lama-lama menggumpal dan bikin mampet. Kalau dibuang ke tanah atau sungai juga bisa merusak lingkungan,” ujarnya.

Ratna meyakini kebiasaan ini harus dimulai dari rumah. Meski terlihat kecil, jika dilakukan banyak orang, dampaknya bisa besar, terutama dalam momentum Hari Bumi.

Hal senada disampaikan Fina (35), seorang guru. Ia tidak membuang limbah rumah tangga sembarangan karena menyadari minyak jelantah dapat mencemari tanah dan air. Di sekolah tempatnya mengajar, edukasi soal minyak jelantah bahkan menjadi bagian dari kegiatan lingkungan.

Melalui program “Sedekah Mijel”, para siswa diajak mengumpulkan minyak jelantah setiap Kamis. Program itu dijalankan oleh kader lingkungan sekolah bernama Kloropil. Minyak yang terkumpul kemudian disalurkan kepada Noovoleum dan hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan lingkungan di sekolah.

“Tantangan terbesarnya sebenarnya soal konsistensi,” ujar Fina. “Kita harus melawan rasa malas, jijik, dan mau meluangkan waktu untuk memilah sampah.”

Fina juga rutin memilah sampah di rumah. Menurutnya, sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar kondisi tempat pembuangan akhir saat ini. Karena itu, kebiasaan memilah sejak dari rumah penting agar sampah yang dikirim ke TPA berkurang.

Ratna menambahkan, ibu rumah tangga memegang peran penting karena menjadi “manajer” di rumah.

“Dari memasak sampai mengelola sampah, kalau kita punya kebiasaan baik, anak-anak juga ikut belajar. Dampaknya bisa panjang ke generasi berikutnya,” katanya.

Dampak yang sering tidak disadari

Minyak jelantah masih sering dianggap limbah dapur biasa. Padahal, jika dibuang ke wastafel, saluran air, atau tanah, dampaknya bisa serius.

Co-founder Plastavfall Solution, Bea Bethari mengatakan, kebiasaan membuang minyak ke wastafel masih sangat umum. Padahal, minyak yang mengalir ke saluran air akan membentuk kerak lemak di pipa dan drainase.

“Banyak yang menganggap sepele, padahal ketika dibuang ke sink, minyak itu membentuk kerak dan bisa menyumbat saluran,” ujarnya.

Limbah tersebut akhirnya mengalir ke sungai hingga laut. Akibatnya, pencemaran tidak hanya terjadi di sekitar rumah, tetapi juga merusak ekosistem perairan dan mengancam biota laut.

Tanah pun bisa terdampak. Minyak jelantah yang dibuang ke pekarangan atau meresap dari saluran air akan menempel lama di lapisan tanah dan sulit terurai. Dampaknya, pori-pori tanah tertutup sehingga air sulit meresap. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat tanah menjadi keras dan meningkatkan risiko banjir.

Selain itu, minyak jelantah menghambat pertumbuhan tanaman karena air dan unsur hara tidak bisa terserap dengan baik. Tanaman perlahan akan mati. Kandungan kimia dalam minyak juga mengganggu mikroorganisme baik di dalam tanah, sehingga tanah kehilangan kesuburannya.

Kerusakan ini akan sangat berpengaruh bagi masyarakat yang mengandalkan air tanah sebagai sumber air bersih. Sebab, minyak jelantah juga berpotensi mencemari air tanah.

Menurut Bea, minyak jelantah lebih berbahaya dibandingkan limbah organik karena sulit terurai dan berbentuk cair, sehingga lebih mudah menyebar. Bahkan, setiap satu ton minyak jelantah yang tidak dikelola diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 2,8 ton emisi CO2e.

“Karena itu, hal yang terlihat sepele sebenarnya bermasalah,” kata Bea.

Bisa diolah dan bernilai ekonomi

Bea menjelaskan, minyak jelantah sebetulnya masih bisa dimanfaatkan. Langkah pertama adalah menyimpannya di wadah tertutup dan memastikan tidak tercampur air atau sampah lain. Setelah itu, minyak bisa disetor ke bank sampah atau pengepul resmi.

“Coba cek di wilayah masing-masing apakah sudah ada fasilitas pengumpulan,” ujarnya.

Minyak jelantah paling sering dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Namun, dalam skala rumah tangga, limbah ini juga bisa diolah menjadi sabun atau aromaterapi.

Melalui program bank sampahnya, Plastavfall Solution juga menerima minyak jelantah dari masyarakat untuk kemudian dikelola.

Selain lebih aman bagi lingkungan, minyak jelantah juga memiliki nilai ekonomi. Menurut Bea, Indonesia menghasilkan sekitar tiga hingga empat juta kiloliter minyak jelantah setiap tahun. Jika dikelola dengan baik, limbah ini bukan hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan.

“Daripada dibuang, sebenarnya minyak jelantah bisa jadi tambahan pemasukan,” ujarnya.

Perubahan perilaku masih jadi tantangan

Meski kesadaran mulai tumbuh, tantangan terbesar tetap terletak pada perubahan perilaku. Banyak orang masih menganggap sampah akan hilang begitu dibuang, padahal hanya berpindah ke TPA.

“Ngomongin pilah sampah itu sebenarnya ngomongin perubahan kebiasaan. Dan itu tidak mudah,” kata Bea.

Selain rendahnya kesadaran, minimnya fasilitas pengumpulan juga membuat masyarakat kesulitan menyalurkan minyak jelantah yang sudah mereka pisahkan.

Karena itu, Bea menilai pengelolaan minyak jelantah membutuhkan kerja sama banyak pihak. Pemerintah perlu menyediakan regulasi, infrastruktur, dan fasilitas pengumpulan yang mudah diakses. Sektor swasta dapat berperan melalui program CSR, edukasi, dan inovasi pengolahan limbah. Sementara masyarakat tetap memegang peran penting dengan mulai memilah sampah dan tidak membuang minyak sembarangan.

Dalam momentum Hari Bumi, Bea mengajak masyarakat memulai dari langkah paling sederhana: tidak lagi membuang minyak jelantah ke wastafel.

“Simpan dulu, lalu salurkan ke pengepul resmi atau bank sampah. Dan jangan lupa, bagikan informasi ini ke orang lain supaya semakin banyak yang sadar,” pungkasnya. (Mabruroh, Penny Yuniasri) [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE