Pengetahuan dan Pengalaman Perempuan di Balik Pemberian ASI

Motherlab
Share

digitalMamaID – ASI selama ini kerap dipahami sebatas nutrisi bagi bayi. Namun lewat program Motherlab: When Art Meets Science, ASI dipahami lebih luas lagi, sebagai pengetahuan tubuh, pengalaman emosional, sekaligus isu sosial yang sarat makna. Didukung oleh Japan Foundation, program ini berkolaborasi dengan seniman Jepang Mei Homma yang digelar di NuArt Sculpture Park, menghadirkan workshop anak, pemutaran film dokumenter, hingga diskusi.

Menggandeng Mei Homma, seorang seniman asal Jepang, Motherlab menghadirkan kegiatan workshop anak “What is Sound?” dilanjutkan pemutaran dan diskusi film bertajuk Mother’s Milk: Body, Care and Knowledge. Mother’s Milk – Floating Cell into Offspring

Ilmu pengetahuan dan ASI

Film berdurasi 12 menit karya Mei Homma ini berjudul “Mother’s Milk – Floating Cell into Offspring”. Film ini merekam pengalaman menyusui dari perspektif yang lain, film ini mengajak penonton memahami kompleksitas proses menyusui dan mengungkap keajaiban menyusui itu sendiri dari sisi sains.

Mei sendiri mengaku punya banyak mengalami kesulitan dalam menyusui. “Jadi ketika ngobrol dengan peneliti sains, saya memahami bahwa ASI itu 100 persen baik. Tapi prosesnya tidak mudah. Karena itu saya ingin menggabungkan cerita bukan hanya dari sisi sains, tapi juga dari pengalaman para ibu, bukan hanya pengalaman saya sendiri,” ungkap Mei saat diskusi, Sabtu 14 Februari 2026.

Mei pun mewawancarai ibu-ibu menyusui. Hasil pembelajaran dan pengalaman kolektif itu kemudian disusun menjadi skrip film dengan narasi yang lebih personal. Mulai dari puting lecet, rasa sakit karena gigitan bayi, hingga penggambaran emosi ibu saat menyusui yang bahagia sekaligus lelah dan sakit.

Film ini juga membuka sisi lain ASI dari perspektif sains. Ilmuwan tengah mengembangkan penelitian untuk menelusuri potensi ASI yang selama ini jarang diketahui publik.

Sel punca (stem cell) selama ini dikenal dapat diambil dari sumsum tulang, tali pusat, dan embrio. Namun, peneliti tengah mempelajari bagaimana sel punca juga bisa diambil dari ASI. Jika penelitian ini berhasil, maka ASI bisa menjadi sumber sel punca yang lebih mudah dan bermanfaat untuk mengatasi berbagai penyakit.

Dalam film juga dijelaskan bahwa jika prosesnya berhasil, sel punca dari ASI justru lebih mudah bekerja. Sel punca sendiri memiliki peran penting dalam dunia medis karena kemampuannya berkembang menjadi berbagai jenis sel lain, sehingga dimanfaatkan dalam terapi regeneratif. Terapi ini berpotensi digunakan untuk penanganan berbagai penyakit.

“Jadi sebenarnya badan (ASI) kita tuh banyak potensi,” ujar Mei.

Mei Homma saat memandu workshop anak “What is Sound?” di NuArt Sculptur Park, Bandung, Sabtu, 14 Februari 2026.
Mei Homma saat memandu workshop anak “What is Sound?” di NuArt Sculptur Park, Bandung, Sabtu, 14 Februari 2026.

Keberhasilan menyusui

Meski manfaat ASI demikian besar, proses menyusui bisa sangat menantang. Lalu bagaimana agar proses menyusui ini dapat berkelanjutan dan berhasil?

Konselor Menyusui dan PMBA AIMI Jawa Barat Ananda Bulan menekankan, salah satu kunci keberhasilan menyusui adalah kondisi psikologis ibu. “Pertama, perlu kita ketahui dulu kalau produksi ASI itu berpengaruh dengan hormon oksitosin atau yang biasa kita kenal itu hormon kasih sayang. Jadi dengan hormon kasih sayang itu produksi ASI kita akan berjalan sesuai dengan kebutuhan bayi,” jelas Bulan.

Kedua, peran support system untuk selalu menenangkan ibu. Adanya sistem dukung yang kuat akan meredakan tantangan-tantangan yang dihadapi. Seluruh support system ini meyakini, ASI ibu cukup untuk bayinya. Sehingga ibu bisa fokus menyusui. Seringkali ibu tidak percaya diri karena persediaan ASI tidak banyak. Padahal, indikator kecukupan ASI tidak diukur dari stok ASI di freezer, melainkan kurva pertumbuhan bayi di Kartu Menuju Sehat (KMS).

“Kalau misalnya KMS-nya sudah sesuai kurva, berarti proses menyusui Ibu aman. ASI cukup untuk bayinya. Jadi tetap harus menenangkan ibunya. Intinya itu ya,” katanya.

Peran Ayah: mendengar dan melindungi

Koordinator Informasi dan Edukasi @id_ayahasi sekaligus Co-Founder @ayahasibandung, Veby Mayfriandi menyadari, peran ayah dalam proses menyusui seringkali direduksi, padahal justru krusial.

“Kemudian apa yang harus saya (ayah) lakukan? Mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan,” kata Veby.

Menurut Veby hal paling mendasar yang dapat dilakukan ayah untuk mendukung proses menyusui adalah mendengarkan. Ia pun sengaja mengulang kata “mendengarkan” karena peran ini kerap dianggap sepele, padahal sangat penting.

Ia menjelaskan, setelah menikah, banyak perempuan secara tidak sadar menjadi terisolasi dari lingkar sosialnya. Aktivitas dan ruang geraknya menyempit karena kehidupan rumah tangga, sementara di saat yang sama perempuan memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran setiap hari.

Dengan mendengarkan, ayah dapat membangun komunikasi yang sehat tanpa harus menerka-nerka kebutuhan istri. Hal-hal sederhana, seperti rasa pegal atau kelelahan, kerap terabaikan bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak tersampaikan.

Karena itu, keterampilan mendengarkan bahkan menjadi materi khusus dalam kelas Ayah ASI. Veby menilai, dari proses mendengarkan inilah ayah dapat memahami peran selanjutnya mulai dari mencari informasi yang benar hingga menjadi pelindung bagi ibu dari tekanan dan nasehat keliru di sekitarnya.

“Jadi intinya mendengarkan dulu karena setelah itu bisa mengerti dan bisa melakukan apa yang dibutuhkan. Jadi mendengarkan, membuka mata dan telinga lebih lebar karena dari situ akhirnya akan tercetus ‘Oh, saya harus menjadi pelindung nih,’ katanya.

Regulasi

Diskusi ini juga menyinggung soal kebijakan yang mendukung ibu menyusui. Para pembicara sepakat, menyusui bukan semata urusan domestik, melainkan isu struktural. Bulan menekankan pentingnya regulasi yang tidak hanya ada di atas kertas, tetapi dijalankan secara konsisten, mulai dari rumah sakit hingga fasilitas kesehatan di tingkat komunitas.

Veby menambahkan, negara perlu memberi ruang bagi ayah untuk terlibat lebih jauh, salah satunya lewat perpanjangan cuti ayah. “Laki-laki umumnya ya tidak dididik untuk bagaimana membesarkan anak. Jadi ketika ada istrinya melahirkan, ya cutinya jangan cuma 3 hari, 10 hari. Kami butuh waktu untuk belajar, kami butuh waktu untuk menyesuaikan ritme, mengubah pola pikir, menyesuaikan segala hal gitu,” ujarnya.

Lewat Motherlab, ruang refleksi dibuka bahwa di balik keajaiban biologis ASI, ada tubuh ibu yang bekerja keras, emosi yang bergejolak, serta sistem sosial dan kebijakan yang menentukan keberhasilan menyusui.

Bermain dengan suara

Peserta workshop anak “What is Sound?” bersama orangtua berfoto bersama di NuArt Sculpture Park, Bandung, 14 Februari 2026.

Motherlab menghadirkan workshop anak “What is Sound?” Yang juga dipandu oleh Mei Homma. Anak-anak diajak untuk mempelajari apa itu suara dengan mencermati gelombang suara. Setelah itu, anak diajak membuat alat musik bersama-sama.

Kegiatan ini semakin meriah dengan keikutsertaan beberapa keluarga dari komunitas masyarakat Jepang yang tinggal di Bandung.

Motherlab digagas oleh Digital Queen, sebuah wadah pemberdayaan perempuan dan keluarga yang dibuat oleh digitalMamaID. Editor in Chief digitalMamaID, Catur Ratna Wulandari mengatakan, seni merupakan medium belajar yang menyenangkan untuk anak, juga dewasa. Di program ini, anak bisa bermain sambil belajar. Orangtua pun bisa mendapat pengetahuan dan pengalaman baru. “Semoga setelah ini, keluarga bisa menjadi support system yang kuat bagi ibu,” kata Ratna. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE