digitalMamaID — “Eipstein File” memantik kegelisahan publik. Bukan sekadar arsip kejahatan, tetapi menunjukkan bagaimana kekerasan seksual bekerja dalam relasi kuasa yang timpang.
Belakangan beberapa kumpulan dokumen, termasuk email, catatan kontak, dan korespondensi, yang diduga memperlihatkan hubungan antara Jeffrey Epstein dengan sejumlah pejabat, tokoh berpengaruh, dan elite dunia beredar di internet. Eipstein File memicu perhatian publik karena dianggap membuka kemungkinan adanya jejaring kekuasaan yang lebih luas di balik kasus eksploitasi seksual Epstein. Pertanyaannya kemudian, siapa saja yang mengetahui, membiarkan, atau bahkan terlibat secara tidak langsung? Meski sebagian keabsahan isinya masih diperdebatkan, Eipstein File menunjukkan bagaimana pengaruh politik serta ekonomi dapat membungkam kejahatan serius selama bertahun-tahun. Kasus ini bisa disimak lewat film dokumenter Netflix Jeffrey Epstein: Filthy Rich.
Kekerasan seksual adalah salah satu bentuk kriminalitas yang dampaknya jauh lebih luas daripada luka fisik. Ketika pedofilia, grooming, dan bentuk eksploitasi seksual lainnya terjadi terutama terhadap anak dan remaja, dampaknya tidak hanya berupa pengalaman traumatis sesaat, tetapi meninggalkan bekas psikologis yang mendalam seumur hidup.
Gambaran itu terlihat dalam film dokumenter Netflix Jeffrey Epstein: Filthy Rich. Para penyintas yang pernah menjadi korban eksploitasi seksual Epstein saat remaja, berusaha melanjutkan hidup dengan trauma mendalam. Mereka menggambarkan rasa jijik, malu, dan perasaan “kotor” yang menempel lama setelah kekerasan itu berlalu. Meski dokumenter ini berfokus pada satu kasus besar, pola grooming dan relasi kuasa yang dipakai Epstein juga sering muncul dalam kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak dan remaja di berbagai tempat.
Masalahnya, kekerasan seksual pada anak bukan isu kecil. UNICEF mencatat sekitar 650 juta anak dan perempuan pernah mengalami kekerasan seksual di masa kanak-kanak, termasuk kekerasan kontak maupun non-kontak seperti eksploitasi dan kekerasan verbal. Angka ini setara dengan sekitar 1 dari 5 perempuan di seluruh dunia yang pernah mengalami kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun.
Kehilangan nilai diri
Menurut Psikolog Tika Dwi Ariyanti, S.Psi., M.Psi., trauma yang dialami korban kekerasan seksual, terutama yang terjadi berulang atau dalam relasi kuasa, sering berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih kompleks daripada Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD). Kondisi ini dikenal sebagai complex PTSD atau trauma kompleks.
Istilah trauma kompleks diperkenalkan oleh psikiater dan peneliti Amerika, Judith Lewis Herman, yang banyak menulis tentang trauma dalam riset dan buku-bukunya. Konsep trauma kompleks kini juga diadopsi dalam International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11) oleh WHO.
Tika menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara trauma sekali kejadian dan trauma kompleks seperti dalam pola grooming. Trauma sekali kejadian bisa muncul sebagai mimpi buruk atau flashback yang spesifik pada satu peristiwa. Namun trauma kompleks cenderung jauh lebih luas karena berlangsung lama, berulang, dan terjadi dalam relasi kuasa.
“Trauma kompleks bisa mempengaruhi regulasi emosi, juga cara memandang diri sendiri, kehilangan rasa aman dan mengalami trust issue,” jelasnya pada digitalMamaID, Rabu, 11 Februari 2026.
Meminjam penjelasan dari buku The Body Keeps The Score karya Bessel van der Kolk, Tika mengungkapkan, trauma kompleks tidak hanya tersimpan sebagai ingatan, tapi sampai mempengaruhi sistem saraf dan tubuh.
“Itu sebabnya kalau kita lihat gejala seperti malu yang menetap, padahal kejadiannya pas kecil tapi kok malunya tetap ada sampai dewasa. Sulit percaya, merasa sudah rusak, kotor, nggak suci secara pribadi,” lanjutnya.
Mengapa korban tidak langsung bertindak?
Kita sering mendengar, banyak korban kekerasan seksual “tidak melawan” saat pelecehan terjadi, atau baru berani bicara bertahun-tahun kemudian. Dalam pandangan publik, respons bahaya sering disederhanakan hanya menjadi melawan atau lari. Padahal, tubuh manusia punya mekanisme bertahan hidup yang jauh lebih beragam.
“Di dalam psikologi trauma ada kurang lebih empat respons trauma. Selain fight dan flight, ada juga freeze dan fawn,” kata Tika.
Menurutnya, respons freeze membuat korban seperti membeku dan tidak bisa melakukan apa pun, sementara respons fawn adalah pola penyesuaian diri demi bertahan hidup di bawah ancaman. Ketika korban berada dalam situasi mengancam, tubuh mereka tidak sedang “memilih” untuk diam, melainkan otomatis masuk ke mode bertahan hidup.
“Karena sebenarnya emang nggak ada orang yang pengin mengakhiri hidup dengan cara sia-sia. Jadinya lebih baik bertahan,” jelas Tika.
Mekanisme ini terjadi begitu cepat, bahkan sebelum korban sempat memikirkan langkah rasional apa yang harus dilakukan. Ia menerangkan bahwa pada saat ancaman terjadi, ada bagian otak yang bisa “mati sementara” untuk fungsi penilaian rasional. Hal inilah yang sering membuat korban tampak tidak melawan, tetap datang, atau baru bicara bertahun-tahun kemudian.
Dari luar, respons ini memang sering terlihat membingungkan, bahkan dianggap “tidak masuk akal”. Namun Tika menegaskan bahwa hal itu justru masuk akal secara psikologis karena merupakan strategi bertahan hidup. American Psychological Association (APA) juga menjelaskan bahwa respons semacam ini bukan tanda persetujuan, tetapi reaksi bawah sadar terhadap ancaman ekstrem.
Trauma bonding: ikatan yang menjebak
Dalam dokumenter Jeffrey Epstein: Filthy Rich terlihat bagaimana Epstein melakukan grooming dan eksploitasi seksual kepada banyak remaja perempuan dengan pola memberikan fasilitas dan hadiah untuk menjerat mereka. Serupa juga dengan yang dialami Aurelie Moremans yang dia tuangkan dalam memoir pribadinya Broken Strings, soal grooming yang ia hadapi saat remaja. Tika menjelaskan, dalam relasi kuasa, pelaku kerap tidak memulai dengan kekerasan terbuka.
“Orang-orang yang kurang perhatian seringkali lebih cepat jatuh sebagai korban,” ungkapnya.
Pelaku biasanya membangun kedekatan lewat perhatian, hadiah, uang, dan validasi, terutama pada remaja atau anak yang sedang rentan secara emosional. Dari situlah, korban perlahan mulai menurunkan batasan diri karena kebutuhan emosionalnya seperti “dibayar” dengan sesuatu yang tampak manis.
Masalahnya, ketika pola ini berlangsung terus-menerus, korban akhirnya berkompromi dengan hal-hal yang sebenarnya tidak layak ia terima. Dalam psikologi, kondisi ini bisa membentuk trauma bonding, yaitu ikatan emosional yang muncul dalam relasi yang merugikan. Situasinya makin kompleks pada remaja karena perkembangan otak mereka belum matang.
“Sistem emosi dan reward atau penguatan itu berkembang lebih cepat dibanding bagian otak yang mengatur penilaian risiko dan kontrol impuls yang berada di prefrontal cortex,” jelasnya.
Akibatnya, remaja bisa lebih mudah memaknai perhatian dan hadiah dari figur berkuasa sebagai sesuatu yang positif dan aman, meski sebenarnya ada eksploitasi. Pada titik ini, korban bisa terjebak tanpa merasa itu kekerasan di awal, hingga pola tersebut terbawa dan berdampak panjang sampai dewasa.
Luka yang dibawa sampai dewasa
Dampak kekerasan seksual, terutama yang terjadi saat korban masih anak-anak atau remaja, sering tidak berhenti ketika peristiwanya selesai. Tika menegaskan bahwa trauma semacam ini kerap meninggalkan efek jangka panjang yang luas.
Dampaknya bisa muncul dalam bentuk gangguan self-esteem, gangguan kesehatan mental, hingga pola relasi yang tidak aman. Korban bisa mengalami depresi, menarik diri, serangan cemas, PTSD, hingga disosiasi. Namun selain itu, ada dampak yang lebih halus tapi mendalam: krisis kepercayaan, sulit membangun relasi intim, dan kecenderungan memendam cerita karena takut dianggap membuka aib.
“Yang rusak memang bukan hanya rasa aman terhadap dunia, tapi yang lebih parah lagi adalah hubungan dengan dirinya sendiri,” ungkap Tika.
Bahkan ketika korban sudah berada di situasi yang lebih aman, tubuh dan emosinya masih bisa bereaksi seolah bahaya itu belum berlalu. Karena itu, pemulihan trauma membutuhkan proses yang serius dan komprehensif, bukan sekadar menunggu waktu.
Pemulihan yang berlapis
Pemulihan psikologis korban akan jauh lebih kompleks ketika kasus melibatkan jaringan besar dan pelaku berkuasa. Hal ini karena setiap korban punya pengalaman dan penghayatan yang berbeda, sehingga pendekatan tidak bisa disamaratakan.
Tika menjelaskan, meski pemulihan kolektif bisa membantu korban merasa tidak sendirian, dalam jangka panjang proses individual tetap dibutuhkan. Dalam literatur trauma, pemulihan yang sehat hampir selalu melibatkan beberapa hal sekaligus: dukungan sosial yang aman, terapi berbasis trauma, dan validasi pengalaman korban.
“Aku sampai saat ini belum pernah ketemu sama pelaku pembuat trauma yang datang mau minta sembuh. Biasanya yang datang itu memang korban,” ungkapnya.
Di sisi lain, ketika kasus berujung ke ranah hukum, prosesnya harus ekstra hati-hati karena pelaku sering menggunakan kekuatan yang besar, termasuk uang. “Harus hati-hati, harus pakai ahli hukum yang memang paham bahwa ini kasus lain daripada yang lain,” jelas Tika.
Pemulihannya jelas bukan proses instan, tetapi bertahap dan berlapis: membangun ulang rasa percaya, memastikan korban merasa aman, sampai mengembalikan pemahaman bahwa korban tidak pernah layak menerima kekerasan. Dalam konteks ini, semua dukungan—dukungan keluarga, terapi, validasi, maupun keadilan—harus berjalan beriringan.
Tika juga mengingatkan soal sorotan media yang bisa menjadi pedang bermata dua. Publikasi dapat memberi validasi, tetapi paparan berlebihan dan hilangnya kontrol atas cerita pribadi bisa memicu retraumatisasi. Karena itu, yang paling penting dari sudut pandang kesehatan mental adalah memastikan korban tetap punya kendali atas dirinya sendiri, merasa aman, dan mendapat dukungan sosial yang konsisten agar ia bisa menjalani hidup sehari-hari dengan lebih tenang. [*]






