Belajar dari Aurelie Moeremans, Broken Strings dan Luka Child Grooming yang Perlu Kita Pahami

Broken Strings, Aurelie Moermans
Share

digitalMamaID — Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans membuka pengalaman pahit yang selama bertahun-tahun ia simpan sendiri. Ia menjadi korban child grooming ketika usianya baru 15 tahun. Pelakunya adalah seorang dewasa dengan usia hampir dua kali lipat darinya.

Kisah memilukan Aurelie remaja itu dituturkan dengan jujur dalam sebuah buku daring berjudul Broken Strings. Buku ini ia bagikan secara gratis melalui akun Instagram pribadinya. Bukan untuk mencari sensasi, melainkan agar bisa dibaca oleh siapa pun. Harapannya sederhana, sekaligus penting. Semoga tidak ada lagi “Aurelie-Aurelie kecil” lain yang mengalami nasib serupa.

Menuliskan kembali pengalaman traumatis tentu bukan perkara mudah. Ada bagian-bagian ingatan yang ingin ia kubur rapat, karena terlalu menyakitkan—bahkan menjijikkan—untuk dihadapi ulang. Namun luka yang dulu hanya dipeluk sendirian oleh Aurelie kecil, kini diurai satu per satu: kata demi kata, baris demi baris, dengan kehati-hatian yang terasa di setiap halaman.

Bahkan sejak pembuka, Aurelie memberi peringatan kepada pembaca:

“Baca perlahan. Berhenti kalau perlu. Keselamatanmu lebih penting daripada menamatkan satu bab.”

Peringatan itu bukan sekadar pemanis pembuka. Ia lahir dari pengalaman nyata yang membekas di tubuh dan ingatannya—tentang bagaimana relasi manipulatif bisa menghancurkan rasa aman seorang anak.

Memahami child grooming

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa untuk mendekati anak atau remaja dengan membangun relasi dan kepercayaan. Tujuannya untuk eksploitasi seksual maupun emosional.

Psikolog anak dan remaja Gisella Tani menjelaskan, manipulasi biasanya dimulai dengan menjalin hubungan “khusus” agar anak merasa aman dan percaya. Polanya beragam, bisa menggunakan identitas palsu atau memanipulasi usia agar terasa relate, memberi hadiah, menunjukkan perhatian berlebihan (love bombing), memanfaatkan status sosial atau profesi, hingga perlahan masuk ke kehidupan keluarga korban.

“Ia membawakan camilan untuk adikku, sesuatu yang manis untuk mamaku, tidak pernah datang dengan tangan kosong. Ia tahu cara melipat dirinya ke dalam sebuah keluarga seakan itu naluri.” (Broken Strings, hal. 18)

“Ia juga mulai menemaniku bekerja, menunggu berjam-jam di lokasi syuting seolah ia tidak punya urusan lain. Pada awalnya kubilang pada diri sendiri itu manis… Tetapi di bawah kenyamanan itu ada sesuatu yang lebih berat yang belum bisa kuberi nama. (Broken Strings, hal. 19)

Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku biasanya mulai mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya. Teman, keluarga, atau orang-orang yang sebelumnya menjadi sumber dukungan, hingga korban merasa hanya bisa bergantung pada pelaku.

“Semakin sering ia ada, semakin kecil dunia di luar. Aku berhenti mengirim pesan kepada teman, berhenti pergi keluar kecuali untuk bekerja. Ia memenuhi hari-hariku dan pikiranku.” (Broken Strings, hal. 22)

Menurut Gisella, relasi ini kemudian berkembang dengan pola ancaman, pemerasan, manipulasi, dan eksploitasi relasi kuasa.

“Jika relasi ini telah terbentuk, pelaku dapat melakukan tindakan penganiayaan yang sudah direncanakan, seperti kekerasan seksual atau bentuk eksploitasi lainnya,” ujar Gisella kepada digitalMamaID, Kamis, 15 Januari 2026.

Dalam Broken Strings, relasi manipulatif yang dibangun tokoh Bobby akhirnya memaksa Aurelie remaja masuk ke dalam ikatan pernikahan. Ancaman pembunuhan terhadap orangtuanya menjadi alat tekan yang nyaris tak memberinya pilihan.

“Aku menatapnya, waspada. Ia tersenyum tipis. ‘Aku akan bunuh orang tuamu, ikat kepala mereka ke mobilku dan seret di jalan’.” (Broken Strings, hal. 90)

Ketika respons publik mulai berubah

Peristiwa ini terjadi hampir 13 tahun lalu. Saat itu, orangtua Aurelie sempat mencoba menghubungi Komnas Perlindungan Anak dan media. Namun, respons yang diterima sangat berbeda dibandingkan ketika kisah ini kembali muncul lewat buku Aurelie di tahun 2026.

Menurut Gisella, perubahan respons publik ini tidak lepas dari meningkatnya literasi dan kesadaran masyarakat.

“Pemahaman masyarakat tentang child grooming, hak-hak anak, perlindungan anak, serta relasi sehat dan tidak sehat kini jauh lebih baik,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa grooming masih bisa terjadi, baik secara langsung maupun melalui ruang digital. Orangtua tetap perlu waspada.

Tanda-tanda anak dan remaja jadi korban child grooming

Tanda-tandanya memang tidak selalu mudah dikenali, tetapi menurut Gisella, beberapa hal berikut patut menjadi perhatian orangtua:

  1. Menerima hadiah atau perhatian berlebihan dari seseorang.
  2. Mendapatkan uang atau barang dengan sumber yang dirahasiakan.
  3. Menjalin relasi khusus dengan orang yang jauh lebih tua atau memiliki status/profesi tertentu.
  4. Perubahan perilaku drastis: mudah marah, murung, prestasi menurun, menarik diri dari lingkungan sosial.
  5. Menggunakan bahasa atau menunjukkan perilaku bernuansa seksual di luar kewajaran.
  6. Menyimpan rahasia besar terkait aktivitas offline maupun online.
  7. Muncul tanda-tanda gangguan kesehatan mental.

“Jika orang tua menemukan tanda-tanda tersebut, dekati anak dengan empati. Hindari menyalahkan atau menggurui agar anak merasa aman untuk bercerita,” kata Gisella.

Mencegah child grooming

Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan orangtua:

  1. Bangun relasi pengasuhan yang hangat, konsisten, dan penuh kelekatan emosional.
  2. Ajarkan dan contohkan relasi yang sehat: setara, saling menghargai, komunikatif.
  3. Diskusikan perilaku manipulatif serta perbedaan antara rahasia baik dan rahasia buruk.
  4. Informasikan akses perlindungan yang bisa dihubungi anak jika merasa tidak aman.

Jika anak sudah terjebak, dukungan apa yang dibutuhkan?

Untuk membantu korban keluar dari relasi berbahaya, dukungan yang dibutuhkan antara lain:

Bagi korban:

  1. Membantu membangun kembali rasa berharga dan keyakinan bahwa selalu ada jalan hidup lain.
  2. Menegaskan bahwa kekerasan yang dialami bukan kesalahan korban.
  3. Menghubungkan korban dengan orang dewasa atau lingkungan yang aman dan dapat dipercaya.

Bagi orang terdekat:

  1. Menjadi pendengar yang konsisten dan tidak menghakimi.
  2. Membantu mengakses layanan bantuan atau pendampingan.
  3. Menghubungi profesional atau pihak berwenang bila diperlukan demi keselamatan korban.

Broken Strings bukan hanya tentang luka masa lalu Aurelie Moeremans, tetapi tentang banyak anak dan remaja yang pernah atau masih terjebak dalam relasi manipulatif tanpa benar-benar memahami apa yang terjadi pada mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa penyintas membutuhkan empati dan perlindungan, bukan penghakiman. Bagi orang tua, ini adalah ajakan untuk lebih hadir dan mendengar. Dan bagi siapa pun yang pernah mengalami hal serupa, semoga kisah ini menjadi pengingat: kamu tidak sendirian, dan selalu ada jalan menuju pemulihan. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE