digitalMamaID — Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran akan dampak lingkungan dari industri tekstil telah meningkat. Banyak orang mulai memahami, membeli pakaian baru setiap kali ada diskon atau promo tanggal kembar membuat pakaian di lemari semakib menumpuk. Tidak sering digunakan, bahkan nyaris tak tersentuh. Akhirnya sampah pakaian jadi semakin banyak!
Mempraktikkan gaya hidup minimalis bisa mengatasi masalah ini. Gaya hidup minimalis bisa diterapkan dengan cara berhenti membeli pakaian, mendonasikan yang sudah tidak lagi terpakai, memperbaiki pakaian yang rusak, dan mendaur ulang pakaian yang tidak lagi digunakan.
Mungkin bagi sebagian orang mulai menerapkan hidup minimalis tidak mudah, bahkan cenderung ragu dan hanya sekadar wacana. Namun berbeda dengan Nada Arini, seorang ibu pegiat eco-conscious yang berkomitmen menjalani sustainable living. Ia ingin hidup lebih ramah lingkungan seperti menggunakan baju dan benda berulang, memilah sampah, belanja memakai wadah untuk mengurangi plastik sekali pakai, dan masih banyak lagi.
Tertampar realita
Kesadaran itu lahir bukan tanpa sebab. Kunjungan ke Bantargebang jadi tamparan bagi Nada. Ia melihat realitas yang selama ini tak terlihat. Di sana, ia menyaksikan langsung gunungan sampah. Ia melihat bagaimana kehidupan masyarakat Bantargebang setiap hari berdampingan dengan sampah-sampah tersebut.
“Saat aku ke Bantargebang, aku tidak menggunakan pengaman apapun. Nggak boleh pakai masker juga, jadi bener-bener merasakan apa yang dirasakan masyarakat di sana, mencium bau yang sama, dan mengobrol dengan mereka,” ujar Nada saat jadi pembicara di Talkshow Temu Perempuan Minimalis 2026 — Living with Less Textle Waste: From Buying to Recycling. Acara yang diselenggarakan oleh Minimalist Moms Indonesia ni digelar di Sekolah Murid Merdeka (SMM) Pesanggrahan, Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.
“Aku ngobrol sama ibu-ibu yang lagi nyuapin anaknya makan dan lalat itu ada dimana-mana,” imbuhnya.

Setelah mengobrol dengan warga setempat, Nada menyadari ternyata mereka juga memiliki harapan yang sama. Ingin agar anak-anak mereka kelak tidak hidup di lingkungan yang bau sampah, sehat, pintar dan sukses.
“Nah, dari situ aku langsung tobat. Aku jadi punya motivasi. Aku nggak mau mencelakai orang lain,” ungkapnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Nada mulai menerapkan gaya hidup minimalis, sadar dan lebih bijak dalam mengonsumsi ataupun membeli barang. Bahkan untuk membeli pakaian pun, Nada memikirkannya masak-masak. Bagaimana caranya agar membeli satu pakaian namun bisa berfungsi untuk di segala acara, acara santai, formal, atau dipakai di rumah.
“Jadi kalau mau beli, aku harus pikirin ini baju bisa aku pakai ke mana aja. Harus multiple biar nggak makan tempat,” ujarnya.
Mari memulai
Tentu saja mengubah kebiasaan lama yang sudah melekat karena hidup nyaman, lingkungan bersih, ekonomi tercukupi, kemudian beralih pada kebiasaan baru butuh usaha dan kerja sama denan keluarga, termasuk suami dan anak-anak.
Pertama-tama, kata dia, mulai dengan mengurangi isi pakaian dalam. Kemudian lanjut dengan alat-alat masak dan juga perabotan rumah, termasuk mainan anak-anak. Saat pertama kali melepas barang-barang tersebut, mungkin akan timbul perasaan kehilangan, rasa sayang. Namun ia percaya, perasaan itu hanya sementara dan setelahnya akan lupa.
“Saya memiliki cara untuk membuat hidup saya lebih sederhana, yaitu dengan memperkecil tempat penyimpanan. Lemari saya di rumah hanya setengah saja, sehingga saya tidak bisa menumpuk banyak barang,” ujar Nada.
Sehingga ketika ada barang yang tidak ada tempatnya, ia akan menyingkirkan barang tersebut bukan justru menambah tempat.
“Setelah menerapkan hidup minimalis, hidup menjadi lebih ringan, pikiran nggak banyak, duit hemat,” ucapnya.

Menabah nilai barang bekas
Aisyah Wanna, pendiri Bersih-Bersih Lemari, turut berbagi pengalamannya mengubah gaya hidup menjadi lebih minimalis dan sadar lingkungan. “Aku sudah tidak membeli pakaian baru lagi sejak 6 tahun yang lalu dan aku nggak malu kalau pakai baju berulang-ulang. Aku ingin mengurangi limbah tekstil dan memanfaatkannya dengan baik,” ujar dia.
Aisyah kemudian mulai menggandeng teman-teman disabilitas untuk memanfaatkan pakaian-pakaian lama agar memiliki value kembali. Misalnya mengubah baju bekas menjadi tas laptop, dompet, dan lain sebagainya.
“Kita ingin membuktikan pada masyarakat bahwa disabilitas juga bisa berdaya dan pakaian bekas juga bisa diolah kembali dan menjadi barang yang benar-benar baru,” ujar Aisyah.
Selain talkshow, Temu Perempuan Minimalis 2026 ini juga diisi dengan berbagai kegiatan lainnya. Mulai workshop, pasar tukar, dropbox, kids activity, dan sustainability bazaar. [*]







One thought on “Temu Perempuan Minimalis 2026 Bangun Kesadaran Mengurangi Sampah Pakaian”
Pingback: E-book "Wear Wisely, Live Fully": Berpakaian dengan Bijak, Memulai Perubahan dari Rumah - digitalMamaID