digitalMamaID — Ada luka emosional yang tidak selalu terlihat, tapi diam-diam memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan membangun relasi. Luka ini bisa terbentuk sejak kecil, terutama ketika kebutuhan akan kehangatan, rasa aman, dan validasi tidak terpenuhi dari sosok ibu atau figur pengasuh utama. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai mother wound.
Belakangan, konflik antara Manohara Odelia Pinot dan ibunya dibahas kembali di linimasa. Pernyataan Manohara yang mengungkap relasi penuh tekanan, kontrol, dan luka emosional dengan ibunya memantik perbincangan publik di media sosial. Banyak warganet kemudian mengaitkannya dengan istilah mother wound. Istilah psikologi ini menjelaskan luka emosional yang terbentuk dari hubungan anak dengan ibu atau figur pengasuh utama.
Psikolog dari Bounceback Indonesia, Marchia Dhiya Fathin menjelaskan, mother wound muncul ketika kebutuhan emosional anak seperti kehangatan, rasa aman dan validasi tidak terpenuhi. Akibatnya, tercipta kekosongan emosional yang dapat terbawa hingga dewasa.
“Biasanya kurang menerima kehangatan, tidak ada validasi atau bahkan rasa aman. Kemudian biasanya juga ada nih penekanan seperti harus menyenangkan Ibu agar dicintai. Lalu ada kritik-kritik berlebihan, kontrol. Ini kan biasanya terbangun ketika masa anak-anak yang di mana orang tua masih sangat mengontrol dan saat dewasa pada akhirnya terbawa karena ketika masih kecil jarang divalidasi emosinya,” ungkap Marchia kepada digitalMamaID, Senin, 26 Januari 2026.
Minimnya validasi emosi di masa kecil dapat membuat individu tumbuh dengan perasaan tidak layak dicintai. Hal ini sering termanifestasi dalam perilaku people pleaser, ketakutan akan ditinggalkan secara emosional, baik oleh keluarga atau lingkungan sekitar.
Dalam beberapa kasus, luka ini juga memunculkan konflik dengan figur perempuan. Rasa tidak nyaman yang muncul saat berinteraksi dengan perempuan lainnya dapat berakar dari pengalaman relasional di masa kecil. Pola-pola inilah yang menjadi tanda kemunculan mother wound dalam kehidupan seseorang.
Luka yang diwariskan
Banyak orangtua yang tidak menyadari luka yang dimilikinya selama ini, tanpa sadar ia wariskan kepada anak-anaknya. Menurut Marchia, hal ini kerap terjadi karena peran alam bawah sadar, ketika pola pengasuhan yang dianggap wajar justru menjadi sumber luka bagi anak.
“Memang kadang alam bawah sadar yang bergerak. Nggak sadar bahwa ternyata ini yang menyakiti anak. Sehingga pertanyaan pertama kali yang harus kita cari tahu dari orangtuanya ini adalah adanya self awareness,” jelasnya.
Membangun self awareness pada orangtua bisa dengan mencari tahu dan belajar tentang pola asuh (parenting) yang baik bahkan bisa dimulai sebelum memiliki anak. Orangtua perlu memahami, pola pengasuhan terus berubah seiring waktu. Selain itu, orangtua juga bisa check and recheck pola pengasuhan setiap keluarga. Masing-masing orang punya pola yang berbeda. Akan tetapi, tujuannya tetap yang terbaik bagi anak.
“Jadi memang inti dari semua ini harus ada self awareness dulu. Ketika sebelum melakukan sesuatu kita coba cari tahu dulu ini dampaknya seperti apa sih? Apakah dampaknya positif atau dampaknya negatif. Dari situ, bisa membangun parenting yang jauh lebih baik daripada sebelumnya agar kita tidak menurunkan luka batin yang sama,” lanjutnya.
Berdamai dengan mother wound
Marchia menegaskan, mother wound ini bisa ditangani. “Kita bisa menyembuhkan dan memproses apa yang sudah pernah terjadi di dalam kehidupan kita sehingga menjadi jauh lebih baik,” ungkapnya.
Langkah pertama adalah menyadari keberadaan luka emosional tersebut. Kesadaran ini muncul ketika individu mulai mengenali pola-pola negatif dalam dirinya. Seperti perasaan tidak layak dicintai atau kecenderungan berlebihan untuk menyenangkan orang lain (people pleasure). Dengan menyadari pola dan luka yang ada, seseorang dapat mulai memahami sumber permasalahan yang ada dalam dirinya.
Kedua, reparenting terhadap diri sendiri, yakni dengan memberikan hal yang dulu tidak pernah didapat. Misalnya, tidak pernah mendapatkan afirmasi positif atau tidak pernah tervalidasi atau divalidasi.
“Sekarang kita boleh banget untuk memberikan afirmasi positif untuk diri kita sendiri. Misalnya, sebelum berangkat kerja atau sebelum berkegiatan, dan sebelum tidur juga kita memberikan afirmasi positif. Misalnya berterima kasih sama apa yang kita lakukan hari ini,” katanya.
Memberikan validasi pada diri sendiri juga menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan. Misalnya, dengan mengakui pencapaian yang diraih dan memberi apresiasi atas usaha yang telah dilakukan. Pengakuan sederhana seperti menyadari kemampuan diri dan merayakan kemajuan yang dicapai.
Selain itu, membangun batasan yang sehat juga diperlukan agar seseorang tidak mudah keluar masuk seenaknya dalam hidup kita. “Terakhir kita juga perlu untuk membuat atau melakukan refleksi diri secara konsisten. Mungkin seminggu sekali kita yoga atau hal-hal lain yang bikin kita jadi jauh lebih rileks,” katanya.
Menurutnya, proses berdamai merupakan proses yang berbeda bagi setiap individu. Namun, belajar untuk menerima (acceptance) itu jadi kunci. Belajar menerima masa lalu, pilihan di masa lalu. “Kita belajar untuk menerima bahwa ya memang seperti itu masa lalu kita. Masa lalu itu kita nggak bisa ubah, yang bisa kita ubah adalah masa depan. Sehingga pilihannya adalah apakah kamu mau mengulangi masa lalumu ke anakmu atau memang kamu mau menghentikan (siklus) ini,” pungkasnya. [*]






