Angka Pernikahan Terus Menurun, Menikah Jadi Pilihan yang Butuh Kesiapan

Ilustrasi angka pernikahan
Share

digitalMamaID – Dalam 10 tahun terakhir, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya tren yang konsisten; angka pernikahan di Indonesia terus menurun. Pada 2014, tercatat sebanyak 2.110.776 pernikahan, lalu mengalami penurunan sekitar 30 % di angka 1.478.302 pernikahan di tahun 2024. 

Berdasarkan laporan Statistik Pemuda Indonesia 2025 terbitan BPS, jumlah pemuda di Indonesia diperkirakan mencapai 66,83 juta jiwa atau 23,50 % persen dari total penduduk. Di angka ini, komposisi pemuda laki-laki dan perempuan relatif seimbang, dengan rasio jenis kelamin 105,70, yang berarti terdapat sekitar 106 pemuda laki-laki untuk setiap 100 pemuda perempuan. Dari sisi wilayah, 53,80 % pemuda masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, menunjukkan ketimpangan sebaran demografi yang belum banyak berubah.

Sementara itu, dari aspek status perkawinan, mayoritas pemuda Indonesia pada 2025 belum menikah. Data BPS mencatat 71,04 % pemuda berstatus belum menikah, sedangkan yang sudah menikah hanya 27,92 %, dan sekitar 1,04 persen berstatus cerai hidup atau cerai mati. 

Dominasi pemuda yang belum menikah memperkuat tren penundaan pernikahan di kalangan generasi muda, seiring perubahan prioritas hidup, tantangan ekonomi, dan dinamika sosial yang kian kompleks. Penurunan angka pernikahan kerap dikaitkan dengan faktor ekonomi, perubahan gaya hidup, hingga meningkatnya usia menikah, namun di balik angka-angka tersebut tersimpan pula pergeseran cara individu memaknai pernikahan, yang semakin dipengaruhi oleh realitas sosial dan ekonomi yang dihadapi saat ini.

Menunda pernikahan sebagai proses mengenal diri

Menunda pernikahan yang dipilih banyak anak muda saat ini, salah satunya Faiza (34). Ia mengakui saat ini memandang fase hidupnya sebagai proses mengenal diri dengan utuh. “Sedang berada di fase mengenal diri lebih dalam, menyembuhkan luka, dan berusaha nyaman dengan diri sendiri, memperbaiki self-esteem, dan membekali diri dengan ilmu dan hal baru,” ujarnya pada digitalMamaID, Selasa 27 Januari 2026.

Ia meyakini, fase ini membuatnya lebih fokus pada ketenangan dan pertumbuhan personal, alih-alih mengejar target hidup yang ditentukan oleh standar sosial. 

Usia juga membuat Faiza lebih matang saat memilih pasangan. Hal ini membuatnya tidak menutup diri dan lebih selektif. “Semakin matang usia semakin mencari seseorang dengan kriteria yang tidak banyak tetapi bisa mengisi satu sama lain, selain asal usulnya, ya,” lanjutnya. Walau dalam prosesnya, ia mengaku kadang ada keraguan soal kesiapan emosional dan kepercayaan.

Sebagai pribadi yang terencana, penghasilannya sebagai guru yang tidak terlalu tinggi cukup menjadi perhatiannya sebelum memutuskan menikah nanti. Usaha yang saat ini dilakukannya adalah menabung dan sesekali terpikirkan untuk mencari pekerjaan sampingan untuk mendapat angka yang diinginkan. Namun, hal itu tidak menjadikan halangannya untuk menikah. “Bukan seberapa yang dihasilkan tapi seberapa kita dapat mengaturnya agar memiliki mindset sehat tentang kestabilan ekonomi,” jelas Faiza. 

Pernikahan, tekanan sosial, dan makna bahagia

Walau Faiza sudah berdamai dengan dirinya, tak bisa dipungkiri tekanan untuk segera menikah sering muncul dari keluarga besar, bukan dari lingkungan pekerjaan dan pertemanan. Ia melihat kebanyakan memang tidak mengerti permasalahannya dan hanya penasaran. 

Ia menyadari bahwa standar yang digunakan keluarga sering kali tidak selalu selaras dengan realitas yang ia jalani. “Standar yang mereka gunakan tentunya standar mereka yang mungkin memandang semua orang harus menikah pada umur tertentu sehingga kadang memandang kasihan atau aneh (bagi yang belum menikah-red),” ungkapnya. 

Menghadapi situasi tersebut, ia memilih merespons dengan santai, minta didoakan tanpa menjelaskan alasannya. “Karena dengan mereka tidak berhati-hati saat bertanya artinya mereka tidak benar-benar peduli juga,” lanjutnya.

Faiza melihat hidup yang cukup dan bahagia tidak selalu identik dengan status pernikahan. “Cukup dan bahagia saat aku dapat melewati setiap harinya dengan mindful, tetap berbaik sangka pada Allah, memiliki kendali diri, tanpa penyesalan, tanpa merasa kesepian, tanpa keraguan, tenang dan penuh rasa syukur terhadap baik buruknya hal yang terjadi dalam keseharian,” ujarnya optimis. 

Meski demikian, ia menegaskan, pernikahan tetap ada dalam rencana hidupnya namun tidak ia jadikan satu-satunya tujuan utama. Oleh karena itu Faiza ingin mempersiapkan diri secara menyeluruh. “Saat ini bukan melihat pernikahan sebagai tujuan utama agar tidak merasa jatuh ketika belum tercapai,” ujarnya. Ia memilih memaknainya sebagai bagian dari ibadah dan kebaikan hidup yang setara dengan kebaikan lainnya.

Kencangnya informasi di media sosial yang memuat konflik rumah tangga atau perselingkuhan juga tidak membuatnya menghindari pernikahan. “Tidak, hanya membuat lebih waspada dan aware soal marriage issues yang mungkin akan dihadapi,” katanya. Justru, hal tersebut memperdalam kesadarannya akan makna pernikahan. Bahwa pernikahan mesti dipupuk dan dipelihara. Dalam proses refleksi diri yang sedang ia jalani, isu-isu tersebut ia jadikan bahan pembelajaran untuknya kelak nanti saat menikah. 

Lebih sadar dan selektif

Meski angka pernikahan menurun, psikolog Bounceback Indonesia, Marchia Dhiya Fathin, M.Psi., Psikolog, menegaskan, generasi muda tidak serta-merta menolak pernikahan. “Sebenarnya banyak banget sih yang seperti itu juga. Apalagi untuk anak-anak Gen Z ini, aku kadang juga amazed. Tapi sebenarnya masih banyak juga anak-anak yang waktu itu kayak di umur range 20 sampai 25 pun ada gitu yang mau menikah semuda itu saat ini gitu,” katanya.

Namun, ia juga mencatat meningkatnya individu yang datang dengan beban emosional masing-masing. “Walaupun memang jauh lebih banyak yang datang dengan membawa baggage-nya masing-masing gitu ya.” Di sisi lain, ada pula yang memilih menikmati hidup lajang. “Tapi ada juga yang bahkan sudah berumur 35-an and then mereka enjoy dengan kehidupannya pun ada,” ujarnya.

Media sosial dan pergeseran cara memandang pernikahan

Menurut Marchia, paparan media sosial yang masif tak bisa dimungkiri turut membentuk persepsi publik terhadap pernikahan. Konten konflik rumah tangga, perselingkuhan, hingga perceraian yang dengan mudah menjadi viral dapat mempengaruhi cara seseorang melihat komitmen jangka panjang.

Ia menambahkan, paparan tersebut bisa memicu ketakutan dan trauma kolektif. “Kalau sekarang kamu lihat coba di media sosial, orang selingkuh langsung di-blow up. Sehingga untuk banyak orang yang memang tidak bisa membatasi dirinya dari paparan media sosial itu pasti berpengaruh banget,” lanjutnya. Kondisi ini, menurutnya, berujung pada pergeseran nilai terhadap pernikahan.

Kepercayaan dan kesiapan mental

Seiring bertambahnya usia, tak bisa dimungkiri seseorang bisa menjadi semakin selektif dalam memandang relasi. Seperti yang dialami Faiza ketika dia menjadi semakin selektif sehingga terkadang memiliki trust issue terhadap relasi. 

Marchia menilai, kondisi ini kerap terjadi pada individu yang memiliki refleksi diri tinggi, tetapi juga berpotensi terjebak dalam hubungan yang dipaksakan jika tidak disadari. “Banyak sekali orang-orang yang terjebak karena memang hubungannya sudah bertahun-tahun atau karena tuntutan sosial,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa harapan pasangan akan berubah sering kali menjadi sumber masalah. “Harapan berubahnya ini nih yang suka jadi blunder atau suka jadi boomerang,” katanya.

Bagi Marchia, kesiapan mental dan kejelasan tujuan menjadi pondasi penting dalam pernikahan. Setelah mengetahui tujuannya, hal ini dapat menjadi pegangan dalam menghadapi dinamika rumah tangga. “Ada kan orang yang mau nikah karena ibadah, plus minusnya telan aja gitu,” tuturnya.

Penurunan angka pernikahan yang tercatat oleh BPS bisa dibaca sebagai perubahan sosial yang lebih luas. Bukan sekadar menunda, tetapi menata ulang makna pernikahan agar lebih sehat secara emosional dan spiritual. Dalam konteks ini, menikah bukan lagi perlombaan usia, melainkan pilihan sadar yang dipersiapkan dengan matang baik secara mental, emosional, dan nilai. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE