digitalMamaID — YouTube baru saja merilis fitur baru yang memperbolehkan orangtua membatasi atau memblokir YouTube Shorts, fitur video pendek YouTube yang serupa dengan TikTok dan Instagram Reels.
Fitur ini diluncurkan sebagai bagian dari perluasan kontrol orangtua (parental controls) untuk akun remaja. Tujuannya adalah agar orangtua dapat membantu remaja menonton dengan lebih sadar dan bijak (mindful).
Langkah ini, menurut YouTube dalam laman resminya, berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak perlu dilindungi di dunia digital, bukan dijauhkan dari dunia digital. Oleh karena itu, selama lebih dari sepuluh tahun, YouTube terus mengembangkan produk khusus dengan perlindungan bawaan untuk penonton usia muda.
Durasi waktu yang dapat diatur
Melalui fitur baru ini, orangtua nantinya dapat mengatur durasi waktu remaja dalam menggulir layar Shorts. Bahkan orangtua dapat memblokir akses sepenuhnya karena adanya opsi untuk mengatur durasi waktu hingga nol menit. Fitur ini disebut sebagai yang pertama di industri karena memberikan kendali penuh kepada orangtua atas konsumsi konten video pendek anak mereka.
Pengaturan ini juga fleksibel. Orangtua dapat, misalnya, membatasi YouTube Shorts sepenuhnya saat anak perlu fokus mengerjakan tugas sekolah, lalu memperpanjang durasi menjadi 60 menit ketika sedang bepergian jauh untuk hiburan.
Selain itu, orangtua dengan akun yang diawasi (supervised account) juga dapat mengatur pengingat ‘Waktu Tidur’ dan ‘Istirahat’ untuk menghentikan anak menonton video. Fitur-fitur ini tidak hanya tersedia untuk akun anak dan remaja, tetapi juga dapat digunakan oleh pengguna dewasa yang ingin menetapkan batasan bagi diri mereka sendiri.
Short Video Addiction (SVA) hingga doomscrolling
Meski tidak disebutkan secara eksplisit oleh YouTube, kehadiran fitur pembatasan Shorts ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap Short Video Addiction (SVA) dan fenomena doomscrolling. SVA merujuk pada kondisi kecanduan akibat paparan video berdurasi pendek secara berlebihan. Sementara doomscrolling menggambarkan kebiasaan menggulir konten digital secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas.
Keduanya saling berkaitan karena konsumsi video pendek yang adiktif kerap mendorong perilaku scrolling tanpa henti, membuat pengguna, terutama anak dan remaja, kehilangan kendali atas waktu menonton serta kesadaran terhadap dampak psikologisnya.
Dr. Jeffrey S. Barkin, psikiater klinis dan forensik lulusan Yale University, dalam podcast Raising Me yang dikutip Fox23, ia menjelaskan, video pendek bersifat sangat adiktif karena memicu pelepasan dopamin dalam waktu singkat, sehingga membuat anak sulit berhenti menonton.
“Video pendek sangat adiktif karena menciptakan umpan balik dopamin yang membuat pengguna terikat berjam-jam,” ungkap Barkin.
Barkin menjelaskan bahwa video-video ini biasanya berdurasi sangat singkat, bahkan hanya beberapa detik, namun sangat memicu respons emosional. Paparan emosional yang berulang memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang terkait dengan rasa senang dan penghargaan. Algoritma media sosial kemudian mempelajari respons pengguna dan terus menyajikan konten yang paling menggugah emosi. Proses inilah yang membuat pengguna terjebak dalam siklus tanpa akhir.
“Ketika kita dibombardir dengan rangsangan emosional, otak kita bereaksi. Dan sekarang, saya tahu ini terdengar agak suram terkait istilah brain rot, kita akhirnya memiliki cukup banyak orang yang terpapar video pendek dalam waktu yang cukup lama sehingga saya bisa mengatakan dengan yakin bahwa ada kondisi yang disebut kecanduan video pendek (short video addiction),” jelasnya.
Menurut Dr. Barkin, kini ada cukup banyak bukti ilmiah untuk menyatakan bahwa kecanduan video pendek adalah kondisi nyata. Bahkan, para peneliti sudah bisa mengidentifikasi bagian otak serta gen yang terlibat dalam kecanduan ini dan pola tersebut mirip dengan kecanduan zat adiktif.
Dampak SVA
Paparan video pendek yang berlebihan “membajak” bagian otak yang mengatur perhatian. Anak dan remaja menjadi terbiasa menerima informasi singkat dan instan, sehingga kesulitan menyerap informasi yang lebih panjang dan kompleks.
Banyak pasien Dr. Barkin melaporkan apa yang mereka sebut sebagai “TikTok brain”, kesulitan membaca buku atau artikel panjang, sulit berkonsentrasi, dan mudah terdistraksi. Otak menyesuaikan diri dengan rangsangan dopamin yang tinggi, sehingga membutuhkan stimulus yang semakin besar untuk merasakan kepuasan yang sama.
Akibatnya, perhatian terhadap aktivitas lain seperti membaca, belajar, atau berinteraksi sosial menurun drastis.
Kecanduan video pendek juga berdampak pada regulasi emosi. Anak atau remaja bisa menjadi mudah marah, gelisah, atau frustrasi ketika diminta berhenti menonton. Banyak yang kehilangan kesadaran waktu, berjanji ‘lima menit lagi’ namun berujung berjam-jam.
Dalam praktiknya, kondisi ini kerap berkembang menjadi perilaku scrolling tanpa henti yang lebih luas, yang dikenal sebagai doomscrolling.
Istilah doomscrolling awalnya merujuk pada konsumsi berita negatif tanpa henti, namun dalam perkembangannya juga mencakup konsumsi konten media sosial, termasuk video pendek yang memicu stimulasi berulang dan kehilangan kontrol waktu.
Doomscrolling adalah kebiasaan menggulir konten digital secara terus-menerus dan kompulsif, sering kali tanpa tujuan yang jelas, meski konten yang dikonsumsi menimbulkan rasa lelah, cemas, atau tidak nyaman. Perilaku ini membuat seseorang sulit berhenti, bahkan ketika sadar bahwa aktivitas tersebut tidak lagi memberi manfaat.
Menurut seorang dosen di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School Dr. Aditi Nerurkar, doomscrolling dapat menyebabkan ‘popcorn brain’ yang terjadi ketika kita menghabiskan terlalu banyak waktu online. “Ini adalah fenomena biologis yang nyata, di mana otak terasa seperti ‘meletup-letup’ karena terlalu banyak stimulasi dari internet,” jelas Nerurkar dikutip dari Harvard Health Publishing.
“Akibatnya, menjadi sulit untuk kembali terlibat dengan dunia nyata yang bergerak jauh lebih lambat,” sambungnya.
Lalu bagaimana mengatasinya? Menurut Nerurkar, strategi utamanya adalah batasan digital yang dapat memberi otak dan tubuh untuk menyesuaikan diri kembali ke kondisi normal. Sedangkan Barkin menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberi contoh perilaku digital yang baik dan pentingnya aktivitas non-layar seperti membaca buku.
Dalam konteks inilah, langkah YouTube merilis fitur pembatasan dan pemblokiran Shorts menjadi relevan dan penting. Kebijakan ini dapat dipandang sebagai upaya memberi ‘jeda’ dalam pola konsumsi konten video pendek yang selama ini sulit dihentikan. Dengan adanya intervensi platform ini berpotensi membantu orangtua dan pengguna membangun batasan digital yang selama ini sulit dilakukan melalui kontrol personal.
Tapi perlu diingat ya, Mama, YouTube sejatinya tidak dirancang untuk anak-anak. Anak-anak sebaiknya tetap menggunakan YouTube Kids yang dinilai lebih aman. [*]






