Curhat Anonim Lewat Menfess dan Absennya Ruang Digital yang Aman Digital

Ilustrasi diet media sosial. Foto oleh Marot Khobtakhob dari Getty Images untuk Canva Pro.
Share

digitalMamaID – Mama pengguna X mungkin tidak asing bila di beranda muncul cuitan anonim dari akun menfess. Berisi curhatan seperti “pengen balik skripsian lagi boleh nggak, capek banget cari kerja” atau “kerja di perusahaan yg ownernya Gen Z ada tunjangan kesehatan mental. Luv bgtttt.” Walau sekilas tampak sepele, namun kehadiran menfess nyatanya masih sangat populer di kalangan warganet Indonesia. Bagi banyak orang, menfess menjadi ruang alternatif untuk meluapkan keresahan yang sulit disampaikan di ruang publik lain, terutama ketika identitas personal harus dipertaruhkan.

Fenomena ini tak lepas dari lanskap digital Indonesia yang semakin padat. Riset DataReportal mencatat, pada Januari 2025 Indonesia memiliki 143 juta identitas pengguna media sosial. Angka itu setara dengan 50,2 persen dari total populasi. Tingginya proporsi pengguna media sosial ini menegaskan bahwa ruang digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sekaligus membantu menjelaskan mengapa praktik anonim seperti menfess masih menemukan tempat yang luas dan terus diminati di Indonesia.

Dari komunitas kecil hingga budaya digital arus utama

Hasil penelusuran di platform X, fenomena menfess (mention confess) di Twitter—kini X—di Indonesia bermula dari komunitas roleplayer (RP) dan akun parodi sekitar 2015–2016. Saat itu, menfess digunakan sebagai sarana menyampaikan perasaan atau pesan secara anonim antar akun RP, menyerupai konsep “surat kaleng” dalam bentuk digital. Praktik ini masih terbatas di lingkaran tertentu dan belum menjadi bagian dari budaya Twitter arus utama.

Seiring waktu, menfess berkembang dan dikenal publik secara luas sekitar 2018–2020, ditandai dengan munculnya akun autobase yang tidak lagi terbatas pada fandom atau komunitas kecil. Lonjakan popularitas semakin terasa pada era pandemi 2020–2022, ketika keterbatasan interaksi sosial mendorong banyak orang mencari ruang alternatif untuk curhat anonim, berdiskusi, hingga mencari validasi. Sejak saat itu, menfess semakin mengakar dalam budaya digital Indonesia.

Salah satu akun paling populer adalah @tanyarlfes, yang dibuat pada 2018 dan kini memiliki lebih dari 4,9 juta pengikut dengan lebih dari 600 ribu unggahan pesan anonim. Selain @tanyarlfes, akun menfess lain seperti @kdrama_menfess, @collegemfs, dan @schfess juga bermunculan dengan tema yang lebih spesifik, menunjukkan bagaimana praktik ini berkembang mengikuti minat dan kebutuhan audiensnya.

Akun menfess populer @tanyarlfes di X yang berisi berbagai curhat anonim dari pengguna X (Alin Imani/digitalMamaID)

Menfess sebagai simpul penting percakapan digital

Sebuah kajian berbasis Social Network Analysis dari Narra J menunjukkan, akun menfess kerap menempati posisi strategis dalam percakapan di Twitter/X, dengan skor centrality yang relatif tinggi. Centrality adalah ukuran untuk melihat seberapa penting dan berpengaruh posisi suatu akun atau individu dalam sebuah jaringan. Semakin tinggi centrality, semakin besar perannya dalam menghubungkan banyak orang dan mempercepat penyebaran informasi.

Temuan ini menandakan, akun menfess tidak hanya berfungsi sebagai ruang curhat anonim, tetapi juga menjadi simpul penting yang mempercepat sirkulasi opini dan respons publik di ruang digital.

Menfess sebagai “ruang publik mini”

Sekilas, konsep menfess kerap disandingkan dengan platform tanya jawab seperti Ask.fm atau Quora yang sama-sama menghadirkan forum diskusi berbasis pertanyaan dan jawaban. Namun, menurut Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM), perbedaannya cukup mendasar.

“Perihal perbedaan utama ada di sifat anonimitasnya. Kalau Ask.fm maupun Quora basisnya terdesentralisasi dari satu akun ke akun lainnya dengan identitas yang jelas, sehingga otoritas dan pertanggungjawabannya dapat ditelusuri secara tepat sasaran,” ujar Achmed Faiz, Research Coordinator CfDS, kepada digitalMamaID, Jumat, 23 Januari 2026.

Menurutnya, menfess justru menciptakan apa yang disebut sebagai “ruang publik mini”, karena seluruh interaksi tersentralisasi pada satu akun. Informasi yang dibagikan dapat dikonsumsi publik secara luas, sementara identitas pengirim tetap anonim dan sulit dilacak. Kondisi ini membuat mekanisme pertanggungjawaban menjadi tidak jelas dan sangat bergantung pada peran admin sebagai kurator.

Proses ini berkaitan erat dengan kepentingan traffic, yang dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi, sekaligus menjadikan anonimitas sebagai komoditas tanpa selalu mempertimbangkan kerentanan informasi personal pengguna. “Penyebaran informasinya sepenuhnya diserahkan pada admin atau algoritma bot yang mungkin lebih mementingkan traffic yang bisa dikonversi ke nilai ekonomi atau menjadikan anonimitas sebagai komoditas, dibanding kerentanan informasi personal yang ada pada para pengguna,” jelas Achmed.

Mengapa menfess tetap diminati?

Di tengah internet yang semakin terbuka dan meninggalkan jejak digital permanen, menfess justru menawarkan risiko yang relatif lebih rendah bagi penggunanya. “Bagi pengguna internet, hal utamanya adalah karena risiko yang rendah untuk ‘dihakimi’ dan tidak meninggalkan jejak digital,” terang Achmed.

Anonimitas membuat orang lebih berani mengungkapkan hal-hal sensitif yang sulit disampaikan lewat akun pribadi. Di sisi lain, dari sudut pandang pengelola akun, informasi personal dan sensitif tersebut juga memiliki nilai tersendiri. “Bagi admin atau algoritma bot yang diatur oleh pemilik akun menfess, informasi sensitif atau bersifat personal yang dapat dijadikan komoditas menjadi alasan utamanya untuk tetap mengelola atau bahkan mempromosikan menfess sebagai cara atau ruang ‘aman’ untuk berbagi informasi,” lanjutnya.

Kebutuhan akan anonimitas ini juga tercermin dalam riset Pew Research Center. Sebanyak 86 persen responden mengaku pernah menyamarkan aktivitas daring mereka, seperti menggunakan nama samaran atau menghapus jejak digital demi melindungi privasi, meski 59 persen menyadari bahwa anonimitas penuh di internet sulit dicapai. Temuan ini menegaskan, praktik anonim seperti menfess bukan sekadar tren, melainkan respons atas kekhawatiran nyata terhadap jejak digital, pengawasan, dan risiko sosial di ruang publik daring.

Pergeseran cara berinteraksi di ruang digital

Cuitan-cuitan yang dibagikan melalui menfess kerap berisi hal-hal ringan, dari keluh kesah sehari-hari hingga pertanyaan sederhana. Tak jarang muncul anggapan, pengguna menfess tidak memiliki relasi sosial di kehidupan nyata untuk berbagi. Namun CfDS memandang fenomena ini bukan sebagai tanda melemahnya relasi sosial, melainkan sebagai pergeseran cara memaknai dan membangun interaksi di ruang digital.

Contoh cuitan di akun menfess seputar hal-hal sederhana yang terjadi sehari-hari. (Alin Imani/digitalMamaID)

“Pertumbuhan dan minat terhadap menfess mengindikasikan bahwa ruang alternatif ini pada faktanya lebih aman untuk menyebarkan informasi atau menyampaikan pendapat di ruang lainnya. Misalnya, dalam konteks kebebasan berekspresi saat menyampaikan kritik atau opini di ruang media sosial,” ujar Achmed.

Meski kerap dianggap sebagai ruang aman, menfess tetap menyimpan risiko, mulai dari misinformasi hingga penghakiman massal. Karena itu, CfDS menekankan pentingnya literasi digital yang kritis. “Publik perlu berhati-hati terhadap bias, filter bubble maupun dampak echo chamber yang berujung pada misinformasi dan disinformasi atau bahkan untuk menghakimi pihak-pihak tertentu,” jelas Achmed.

Pada akhirnya, maraknya curhat anonim lewat menfess menunjukkan, kebutuhan akan ruang aman di dunia digital masih sangat besar. Selama ruang digital formal belum sepenuhnya mampu menjamin rasa aman dan kebebasan berekspresi, menfess tampaknya akan tetap menjadi pilihan dengan segala manfaat dan kompleksitas yang menyertainya.[*]

Ilustrasi diet media sosial. Foto oleh Marot Khobtakhob dari Getty Images untuk Canva Pro.
Ilustrasi diet media sosial. Foto oleh Marot Khobtakhob dari Getty Images untuk Canva Pro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE