digitalMamaID — Merayakan Hari Ibu bisa dilakukan dengan berbagai hal sederhana, termasuk memberikan sedikit ruang untuk diri sendiri bisa bernapas dan menikmati hari dengan lenggang tanpa rasa bersalah. Kesibukan sebagai ibu sering kali membuat lupa, sejatinya tubuh mereka pun berharga dan menuntut perhatian.
Dalam rangka memperingati Hari Ibu Nasional, “Wardah Mother’s Day” mengajak para ibu berdiskusi tentang menyeimbangkan peran dalam keluarga, pekerjaan, hingga pentingnya memberi ruang pada diri sendiri agar dapat terus bertumbuh dan berkembang.
Fakta menunjukkan, banyak ibu mengalami burnout akibat tekanan fisik dan mental dari multi peran mereka sebagai pekerja profesional, istri, dan ibu rumah tangga. Minimnya apresiasi dan dukungan dari pasangan hingga ekspektasi yang terlampau tinggi kerap membuat ibu mengalami kelelahan mental. Belum lagi tidak banyak ibu yang menyediakan waktunya untuk diri sendiri, berujung pada kelelahan ekstrem yang semakin hari semakin menggerogoti.
Praktisi parenting sekaligus CEO & Co-Founder Parentalk, Nucha Bachri mengatakan, seorang ibu seringkali memikirkan banyak hal demi segala urusan di rumah tangga bisa berjalan dengan baik. Bahkan ketika sedang beristirahat atau berdoa sekalipun, pikirannya penuh dengan pertanyaan Besok anak pakai seragam apa? Pulang les jam berapa? Baju kerja suami sudah disiapkan belum ya? Besok masak apa ya? Ulang tahun anak dua minggu lagi apa ya yang harus disiapin? dan masih banyak lagi yang berputar-putar memenuhi isi kepala.
“Ibu tuh punya multi peran bukan cuman peran ganda ya, di kantor sebagai pekerja, di rumah peran kita macam-macam menjadi istri, menjadi ibunya anak-anak kita, menjadi anaknya ibu kita. Kadang-kadang hal inilah yang membuat para ibu atau para perempuan lelah, karena banyak sekali perannya,” ujar Nucha dalam acara Talkshow bersama Wardah untuk memperingati Hari Ibu Nasional di kawasan Jakarta Selatan, Selasa, 23 Desember 2025.
“Jadi kita merayakan hari ini bukan cuma ibu tapi juga perempuan, kita semua memiliki perjuangannya masing-masing, mau itu konten kreator, pekerja kantor, pekerja lepas, teman-teman media. Kita menjalankan peran kita masing-masing dengan we choose our own battle,” tambahnya.

Bukan soal keseimbangan
Menurut Nucha, baik ibu pekerja di kantor maupun ibu yang full time di rumah memiliki beban dan tantangannya masing-masing. Bahkan ketika seseorang menyebutkan work-life balance, faktanya untuk mencapai keseimbangan yang sempurna antara karir dan keluarga hampir mustahil.
“Kalau kita mencari keseimbangan, yang ada kita malah stres, nggak akan ada yang benar-benar bisa 50:50 seimbang gitu, itu sulit. Menjadi ibu bukan lagi tentang keseimbangan tetapi integrasi. Ada proses saling memberi antara pekerjaan dan anak. Situasi ini tidak selalu kaku, harus fleksibel karena ada momen ketika anak menuntut perhatian penuh, sementara pekerjaan juga menuntut tanggung jawab,” jelasnya.
Pada kehidupan sehari-hari, banyak ibu yang mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk kebahagiaan pasangan dan anak-anak sehingga lupa dengan kebahagiaannya sendiri. Ibu sering dipersepsikan sebagai sosok yang kuat, sabar, dan selalu siap. Ibu adalah sosok yang memastikan segala kebutuhan rumah terpenuhi, segala urusan berjalan lancar, makanan tersedia, rumah rapi, anak dan suami terurus, tapi lupa mengurus dirinya sendiri.
Kerja kognitif yang terus menerus memikirkan orang lain seringkali menjadi menyebabkan ibu mengalami mental load. Jika beban mental ini dibiarkan dan berlangsung terus menerus, maka akan berdampak pada kesehatan fisiknya, seperti sakit kepala, GERD, hingga depresi.
Oleh karena itu, untuk membebaskan ibu dari mental load dan burnout, ada beberapa hal yang bisa ibu lakukan.
Menerima dan berdamai dengan diri sendiri
Tidak sedikit seorang ibu yang terperangkap dalam masa lalunya yang dianggap lebih baik sebelum dia menjadi seorang ibu, sehingga dia menolak berdamai. Akibatnya perasaannya akan selalu penuh membanding-bandingkan kehidupannya saat ini dengan masa lalunya.
Menurut Wardah Brand Representative, Rahma Dina Safitri jika seorang ibu terus menerus terjebak dengan dirinya di masa lalu dan tidak mau berdamai, maka menghambat pertumbuhan pribadi dan kemampuan untuk sepenuhnya terlibat dalam masa kini.
“Jadi mari kita berdamai dengan diri sendiri, mulai sekarang aku akan hidup menjadi diri aku sendiri di saat ini. Aku tidak ingin aku terjebak di masa lalu atau aku tidak akan menuntut aku seperti aku di masa lalu. Dengan seperti itu aku merasa oh ya sudah mari kita jalani, mari kita syukuri,” kata Dina.
Komunikasi terbuka dengan pasangan
Jangan menahan beban mental sendirian, ketika merasa lelah karena pekerjaan maupun urusan rumah coba untuk menyampaikannya secara terbuka dengan pasangan. Diskusikan secara jujur apa yang dibutuhkan, apakah hanya butuh teman sebagai pendengar atau meminta bantuan dalam membagi pekerjaan rumah sehari-hari.
“Teman-teman aku nanya ‘kenapa sih aku bisa selalu melakukan ini-itu?’ Ya karena aku memang suka sharing sama suami aku. Aku suka cerita apapun ke dia. Jadi aku merasa ketika sudah semuanya aku luapkan, aku pun akan full kembali di pekerjaan aku, dan full kembali aku sebagai seorang ibu,” ujar Dina.
Meluangkan waktu untuk diri sendiri (me time)
Salah satu cara untuk mengatasi burnout adalah menyadari serta mengakui bahwa tubuh sedang merasa lelah dan frustasi. Mengakui kondisi ini bukan berarti gagal menjadi seorang ibu, melainkan tanda bahwa ibu juga manusia biasa membutuhkan ruang dan waktu untuk pulih.
Berhenti sejenak dari rutinitas harian dan membiarkan tubuh mengisi ulang energi atau recharge bukanlah sebuah dosa. Ibu bisa me time berlibur seorang diri, pergi ke salon, makan makanan favorit, mengobrol dengan teman, mengobrol dengan pasangan, atau sekadar beristirahat di kamar tanpa harus merasa bersalah.
“Setiap dari kita pasti punya cara menyenangkan diri sendiri. Jadi esensinya bukan tentang pergi ke mana atau dengan siapa, tapi apa sih yang benar-benar kita sukai yang menurut kita menyenangkan sehingga kita ter-recharge lagi energinya,” kata Nucha.
Turunkan ekspektasi dan kerjasama dengan pasangan
Menetapkan standar terlalu tinggi ketika mengurus anak dan rumah tangga dapat menimbulkan tekanan tersendiri. Adakalanya ibu perlu memberikan kepercayaan pada pasangan untuk mengambil alih sejenak pekerjaan itu dan memberikan ruang buat ibu untuk beristirahat.
“Ketika aku umroh, aku benar-benar menyerahkan semua urusan rumah dan anak-anak pada suami. Nggak ada lagi ingin mengontrol jadwal les anak, besok dia harus pakai seragam ini, semua itu kayak nyangkut di otak kita tapi benar-benar saya serahkan semuanya, dan ternyata oh ini yang saya butuhkan. Nggak ngobrol, nggak ada anak-anak, fokus ibadah dan bengong di depan ka’bah ternyata benar-benar membuat aku recharge lagi,” ujar Nucha. [*]






