Cerita Cici, Barista Difabel yang Pantang Menyerah

Cici, barista difabel di Cafe More, Bandung.
Share

Bising knalpot di luar langsung menghilang begitu kaki melewati pintu geser. “Halo, Kak! Mau pesan apa?” ucap perempuan berbaju belang dan berkerudung hitam. Meski matanya tak mampu melihat jelas, tangannya begitu terampil membuat kopi untuk pelanggan Cafe More. Mari berkenalan dengan Cici, seorang barista difabel di Cafe More.

Sri Ayu Astuti atau yang kerap disapa Cici merupakan salah seorang barista difabel di Cafe More yang terletak di Pusat Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Cici merupakan penyandang disabilitas sensorik low vision. Ia kehilangan penglihatannya, tapi tidak seluruhnya. Penglihatannya tersisi sedikit saja. Tiga tahun terakhir ia bekerja sebagai barista di Cafe More.

Sebelum menjadi barista, perempuan kelahiran Kabupaten Bandung Barat, 21 Agustus 1996 itu sempat bekerja sebagai terapis di beberapa tempat. Setelah dua tahun menggeluti pekerjaan itu, ia kemudian mendaftarkan diri ikut di beberapa pelatihan yang diselenggarakan di Wyata Guna.

Cici sebelumnya pernah bekerja sebagai teravis di beberapa tempat selama 2 tahun. Tetapi seiring berjalannya waktu, Cici mengetahui informasi media sosial mengenai Wyata Guna lalu memutuskan untuk mendaftarkan diri dan mengikuti pelatihan yang ada di Wyata Guna.

Dari hobi jadi profesi

Ia memilih pelatihan menjadi barista, sebutan bagi orang yang mempunyai keahlian khusus untuk membuat espresso. Untuk membuatnya, Cici harus mengoperasikan alat khusus yang bisa mengekstrak kopi. Tidak mudah bagi Cici hingga akhirnya berhasil menjadi seorang barista. Ia mengikuti pelatihan selama empat bulan penuh.

Pelatihannya setiap hari Senin-Jumat, mulai jam 8 pagi sampai 3 sore,” ujar Cici ketika ditemui pada Februari 2024 lalu.

Ketika berhasil merampungkan pelatihan, ia tak langsung dipekerjakan. Selama tiga bulan ia menganggur. Ketika itu pandemi Covid-19 melumpuhkan perekonomian. Bisnis kafe meredup sesaat.

“Sebetulnya saya sudah mengikuti pelatihan disini dari tahun 2015 hanya saja bukan barista,” ujar Cici kala itu. Ia jadi tertarik menjadi barista karena hobi nongkrongnya. Duduk di tempat ngopi membuatnya tertarik mencoba hal baru. Dunia kopi yang wangi. Gayung bersambut, Wyata Guna mengadakan pelatiihan barista untuk disabilitas sensorik netra low vision.

Menurut Cici menjadi barista tidak mudah. Proses pelatihan yang panjang membuat Cici tidak terlalu kaget ketika terjun ke dunia kerja. “Tapi tetap saja sih, di sini baru juga, kan, tempatnya. Jadi harus orientasi mobilitas dulu untuk mengenal barang-barang di sekitar sini,” katanya.

Pahit manis jadi barista difabel

Dengan penglihatan yang terbatas, Cici juga kesulitan membuat membuat latte art. Tapi itu tidak membuat Cici putus asa. Ia malah menjadikannya sebagai tantangan agar terus belajar menguasai dunia perkopian. Ia bahkan bercita-cita memiliki usaha kedai kopi sendiri. 

Selama tiga tahun bekerja, Cici telah merasakan pahit manisnya pekerjaan sebagai barista ini. Ia mulai terbiasa melayani pelanggan yang terburu-buru. Bahkan, ia pernah menghadapi pembeli yang tidak membayar pesanannya.

“Jadi ceritanya pernah beberapa kali open bill. Kami sudah percaya, tapi ternyata enggak bayar. Ada juga pengalaman yang memang minta dilayanin cepat. Kami sudah jelaskan kalau kita punya keterbatasan. Tapi insyaallah kita usahain cepat. Tapi tetap saja enggak mau,” ujarnya.

Nyaris menyerah

Berbagai kesulitan yang ia hadapi sejak pelatihan pernah membuatnya ingin menyerah. Penglihatan yang tidak sempurna membuat proses belajar steaming susu agar sesuai arahan menjadi lebih sulit. Namun instruktur terus meyakinkan untuk tidak berhenti. Benar saja, kini Cici bisa menjadi barista yang mahir.

Saat mulai bekerja, ia dibantu oleh rekan barista sesama penyandang disabilitas sensorik low vision yang sudah bekerja lebih dulu. Hanya butuh satu bulan bagi Cici untuk menyesuaikan diri di Cafe More.

Cici meyakini, tidak ada yang tidak mungkin selagi terus berusaha dan mau mengikuti prosesnya. Setelah mengenal Wyata Guna dan memiliki keterampilan baru, ia merasa hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Saya kan memang di kampung, ya. Jadi enggak update dulu sekolahnya. Saya juga tidak ikut SLB (Sekolah Luar Biasa) dan akhirnya sempat ketinggalan sekolah juga. Tapi alhamdulillah sekarang sudah lebih baik,” ucapnya.

Ia berharap, penyandang disabilitas lainnya juga berkesempatan mendapatkan pekerjaan. Bagaimanapun keterbatasan yang dimiliki, ia tak ingin menyerah. “Jangan menyerah, tetap semangat, dan teruslah berusaha dan ikuti setiap prosesnya,” katanya menutup perbincangan.[*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *