digitalMamaID – Masyarakat Indonesia dengan kultur ramah tamahnya, rupanya bisa jadi jebakan catcalling di ruang publik. Bagaimana cara membedakannya?
Jagad linimasa X kembali riuh pekan lalu saat seorang penggunanya yang merupakan perempuan mengunggah pengalaman kurang menyenangkan berupa catcalling dari laki-laki asing yang ditemuinya di perjalanan saat hendak makan siang. Dari unggahannya, ia menjelaskan, video diambil dalam perjalanan dari memebeli makanan di warteg. Ia mengaku, perbuatan catcalling itu dilakukan oleh orang yang sama saat ia menuju warteg.
Di videonya terlihat seorang laki-laki menyapanya, “Mau ke mana, Kak?” Hanya saja, perempuan ini merasa tidak nyaman dengan tatapan dan gestur dari laki-laki tersebut sehingga ia merasa perbuatan lelaki itu adalah catcalling.
Kejadian ini ramai diperbincangkan netizen, linimasa terbelah dua. Sebagian menilai, perempuan tersebut mengalami catcalling. Dan sebagian besar lainnya menganggap, itu hanya bentuk keramahan biasa dan menilai apa yang dilakukan si perempuan hal yang berlebihan (lebay).
Bisa jadi bukan lebay
Ruang publik kerap diisi dengan interaksi sosial yang dinamis sekaligus kompleks. Di satu sisi, kebudayaan masyarakat Indonesia menjunjung tinggi keramahtamahan. Menyapa orang asing dianggap hal yang lumrah. Di sisi lain, batas antara kesopanan dan tindakan yang mengarah pada pelecehan seksual, seperti catcalling, sering kali kabur.
Ellen Kusuma, pegiat literasi digital dan advokasi isu hak digital termasuk Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dari Digitallytante menjelaskan, catcalling pada dasarnya dapat berwujud kekerasan verbal maupun nonverbal. Bentuknya sangat beragam, mulai dari siulan, sapaan tertentu, hingga gestur fisik yang terjadi di ruang publik dan menimbulkan rasa tidak nyaman atau tidak aman bagi penerimanya.
Subjektivitas dan pengalaman ketubuhan
Dalam kasus pelecehan seksual, elemen subjektivitas dari pihak yang mengalami memainkan peran sentral. Sesuatu dapat dikategorikan sebagai catcalling apabila korban merasa terancam atau tidak nyaman. Kendati demikian, tidak semua sapaan di jalan serta-merta berorientasi pada pelecehan. Dalam konteks budaya lokal, niat murni untuk bersikap ramah kerap hadir tanpa maksud buruk.
Namun, alasan kebudayaan tidak sepatutnya dijadikan pembenaran untuk menginvalidasi perasaan korban. “Kita tidak pernah tahu riwayat atau trauma yang pernah dilalui seseorang. Hal yang bagi sebagian orang dianggap sapaan biasa, bisa jadi memicu rasa sangat tidak aman bagi orang lain,” ujar Ellen.
Sebaliknya, menyapa orang asing juga tidak otomatis menandakan adanya niatan melakukan kekerasan seksual. Ketidakpahaman publik mengenai luasnya ragam bentuk kekerasan seksual membuat sebagian masyarakat belum menyadari dampak tindakan mereka. Ditambah lagi, terdapat perbedaan mendasar antara pengalaman ketubuhan perempuan dan laki-laki saat beraktivitas di ruang publik.
Membedakan sapaan ramah dan catcalling
Mengingat interaksi antarasing tidak memungkinkan seseorang membaca pikiran satu sama lain, bagaimana cara membedakan keramahan biasa dengan catcalling?
Ellen menekankan pentingnya bersikap kritis terhadap bentuk keramahan tersebut. Indikator utamanya terletak pada respons dan niatan.
Jika seseorang menyampaikan sapaan atau gestur, lalu target (korban) menunjukkan bahasa tubuh tidak nyaman atau tidak merespons, tetapi orang tersebut tetap melanjutkan tindakannya, maka hal itu bukan lagi bentuk keramahan biasa. Ada intensi lain yang dipaksakan.
Lalu, keramahan yang wajar umumnya bersifat kontekstual dan netral. Namun, jika sapaan tersebut disertai gestur seperti kedipan mata atau intonasi tertentu, muatannya berubah menjadi godaan yang memosisikan orang lain sebagai objek.
Ellen kemudian membagikan pengalaman saat berjalan bersama rekannya yang berhijab. Seorang pria asing menyampaikan salam (misalnya assalamualaikum) kepada temannya. Bagi Ellen, sapaan ini memanfaatkan norma religius, di mana salam wajib dijawab, untuk memaksa sasaran berhenti dan merespons.
“Tindakan spesifik yang menargetkan perempuan seperti ini menciptakan situasi manipulatif yang memicu rasa tidak nyaman,” katanya.
Catcalling di ranah digital dan langkah mitigasinya
Fenomena catcalling kini tidak terbatas pada ruang fisik, melainkan telah merambah ke dunia maya. Di ranah digital, tindakan ini dapat wujud dalam bentuk teks pada kolom komentar, seperti lelucon seksis atau misoginis yang diunggah saat seseorang membagikan konten.
Sayangnya, opsi penanganan untuk catcalling online masih terbilang terbatas. Standar komunitas di sebagian besar platform media sosial umumnya menggunakan indikator pelanggaran yang sangat kaku (rigid), sementara kasus catcalling sangat bergantung pada konteks dan pengalaman subjektif korban.
Guna menjaga batas aman di media sosial, beberapa langkah mandiri yang dapat dilakukan. Antara lain menghapus komentar yang tidak menyenangkan, menggunakan fitur penyaringan (mute) untuk kata-kata kunci tertentu, atau membatasi atau menutup kolom komentar pada unggahan.
Pada akhirnya, tutur Ellen, kerancuan dalam membaca situasi di ruang publik maupun digital menunjukkan bahwa edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan seksual masih sangat krusial. Pemahaman yang lebih baik tentang batas keramahtamahan, penghormatan terhadap batasan pribadi, serta sensitivitas terhadap pengalaman ketubuhan orang lain menjadi kunci utama dalam menciptakan ruang publik yang aman dan inklusif bagi semua orang. [*]






