digitalMamaID — Pengaruh tersebut membawa tuntutan tersendiri. Publik kini mulai mempertanyakan, sejauh mana figur publik itu menggunakan platformnya untuk bersuara demi kepentingan yang lebih luas.
Perdebatan ini terlihat ketika konten Maudy Ayunda di kanal YouTube-nya, “Mindfulness in The Age of Bad News”, menuai kritik dari warganet. Dalam konten tersebut, Maudy membicarakan pengalamannya merasa kewalahan secara emosional karena terus-menerus terpapar berita negatif dan mengajak audiens lebih selektif mengonsumsi informasi untuk menjaga kesehatan mental.
Pesan tersebut kemudian dipersoalkan karena muncul di tengah berbagai persoalan yang terjadi di republik ini. Masyarakat Indonesia saat ini menghadapi kebakaran hutan dan lahan, bencana, kelangkaan BBM, dugaan korupsi, kekerasan seksual, dan banyak persoalan lainnya.
Sebuah akun Thteads Buitenzorgy memaparkan kritik tajam yang diarahkan kepada Maudy. Ia menolak jika situasi saat ini cukup dilihat sebagai bad news yang perlu dibatasi paparannya, ada persoalan struktural yang terjadi. Hal ini mestinya bisa dipahami dengan mudah oleh Maudy yang alumni Philosophy, Politics, Economics (PPE) Oxford.
“Kamu memutar narasi dari bagaimana kita menuntut pertanggungjawaban atas bad policy ini menjadi bagaimana kita mengelola emosi agar tidak stres membaca bad news. Kamu menggeser fokus dengan sangat agresif; menarik masalah struktural menjadi sekedar masalah individual,” tambahnya.
Maudy sendiri telah menyampaikan permintaan maafnya melalui akun Instagram. “Aku juga sadar bahwa suara, akses, platform, dan berbagai bentuk privilese yang aku miliki membawa tanggung jawab. Dan ada saat-saat ketika aku bisa lebih hadir atau bersuara. Aku akan terus belajar dan berusaha lebih bijak dalam menggunakan ruang dan kapasitas yang aku punya,” tulisnya.
Hal ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Di negara lain pun, seorang penyanyi sekaligus penulis lagu terkenal asal Inggris, Ed Sheeren juga mengalami kondisi serupa. Ed Sheeren kehilangan hampir 500 ribu followers di akun Instagram setelah mengeluarkan rapper Macklemore dari rangkaian ‘Loop Tour’ karena menyuarakan dukungan untuk Palestina.
Perubahan hubungan figur publik dan audiens
Menurut peneliti Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM) Achmed Faiz, sikap kritis masyarakat ini tidak lahir begitu saja melainkan sangat relevan dengan kondisi ekonomi digital dan budaya digital saat ini. Artinya, publik semakin sadar bahwa engagement, likes, dan views merupakan sebuah komoditas ekonomi yang berpengaruh langsung terhadap kekayaan serta nilai dari influencer itu sendiri. Oleh karena itu, masyarakat saat ini tidak lagi melihat influencer atau public figure sebagai manusia tanpa cela.
Menurutnya, fenomena ini membuktikan, masyarakat sudah terliterasi secara digital sehingga mampu memberikan sudut pandang mereka. Misalnya, ketika seorang mega-influencer melakukan kesalahan, masyarakat akan langsung menyadarinya.
Kemudahan akses informasi, menurut Achmed, juga membuat masyarakat hari ini jauh lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, apalagi yang menyentuh langsung kebutuhan hidup mereka. “Sebagai contoh, apa yang disampaikan oleh seorang influencer mungkin secara substansi sudah tepat, namun disampaikan pada konteks waktu dan situasi yang keliru. Kita bisa merefleksikan saat pandemi Covid-19 lalu, ketika itu, masyarakat ditenangkan dengan himbauan untuk bersikap mindful dan sejenisnya. Pada momen tersebut, narasi menenangkan seperti itu tepat karena konteks situasinya mendukung,” jelas dia kepada digitalMamaID, Rabu, 23 September 2026.
Namun, dalam konteks saat ini, di mana situasi ekonomi-politik sedang tidak menentu dan literasi digital masyarakat telah meningkat sehingga informasi sangat mudah dikonsumsi (terlepas dari adanya polarisasi atau hoaks) kondisinya berbeda. Fenomena dan kejadian sosial yang menumpuk setiap hari dan setiap bulan telah mengakibatkan akumulasi kekecewaan publik.
“Kekecewaan yang menumpuk inilah yang menjadi pemantik meluasnya output sikap kritis masyarakat,” tuturnya.
Tuntutan empati
Achmad menilai, tuntutan publik agar influencer ikut peduli terhadap kondisi sosial adalah hal yang sangat wajar dan realistis. Terutama dalam konteks ekonomi-politik, ketimpangan akibat sebuah fenomena, regulasi kebijakan, atau situasi pemerintahan sangat berpengaruh ke kehidupan masyarakat.
“Jangan sampai kita bersikap abai dan skeptis yang akhirnya menumpulkan nalar atau kemampuan berpikir objektif. Jadi apa yang dilakukan (tuntutan publik) sebenarnya wajar karena modal sosial yang dibangun influencer berasal dari perhatian publik dan engagement,” tuturnya.
Ia menambahkan, wujud kepedulian yang realistis bukan berarti menuntut mereka memberikan pendapat secara serampangan. Sebaliknya, para mega-influencer ini diharapkan memanfaatkan platform besar mereka untuk memperluas kesadaran publik.
Bagaimana jika influencer memilih diam?
Dari perspektif sosiologi, Achmed mengatakan bahwa diam atau netral juga merupakan sebuah posisi. Terlebih ketika seorang figur publik berhadapan dengan isu sosial yang berdampak pada kehidupan banyak orang dan telah banyak diberitakan serta didukung data.
“Jadi saya pikir ketika influencer diam, komentator, netizen atau masyarakat luas akan mempertanyakan, mereka akan memiliki sudut pandang apakah diamnya ini bertujuan mengamankan reputasi komersial mereka, atau demi menjaga personalitas tertentu,” jelasnya.
Pertanyaan semacam itu, menurut Achmed, tidak muncul tanpa alasan. Ketika seseorang memutuskan mengikuti seorang influencer, terdapat ekspektasi tertentu yang terbentuk. Besarnya ekspektasi juga dapat berbeda bergantung pada bidang yang dibicarakan influencer tersebut. Influencer yang selama ini berbicara tentang pendidikan atau politik, misalnya, akan menghadapi ekspektasi publik yang berbeda dibandingkan influencer yang fokus pada gaya hidup.
Ketika publik menuntut figur berpengaruh untuk ikut bersuara terhadap persoalan, sesungguhnya publik sedang mempertanyakan bagaimana pengaruh yang telah dibangun dari perhatian dan kepercayaan mereka digunakan ketika masyarakat menghadapi persoalan bersama. [*]






