Ketika Kerja Domestik Kalah Pengakuan dibanding Cuan Affiliate

ilustrasi kerja domestik ibu rumah tangga
Share

Pernah saya lihat sebuah utas ibu rumah tangga di Threads yang bilang kalau ia sering enggan datang ke reuni sekolah, karena takut ditanya “Sibuk apa?”. Alasannya, mereka segan kasih jawaban “Sibuk di rumah aja, ngurus rumah.”, takut dibalas dengan senyum simpatik yang bisa diartikan sebagai “Oh, nganggur ya?”. Utas itu mendapat komentar setuju dari ibu-ibu lain.

Di kali lain, saya mendapat curhatan seorang teman yang memutuskan untuk resign dari kantornya dua tahun lalu untuk mengurus anak. Dia bilang sering merasa left behind bahkan minder karena “menganggur”.

Saya sempat menyanggah, bahwa ia tidak menganggur, karena… ibu rumah tangga mana sih, yang bisa menganggur? Pekerjaan domestik yang harus dikerjakan di rumah tuh kan selalu menggunung dan nggak habis-habis ya?

Tapi dia menjawab “Kan nggak punya gaji.”

Baiklah. Di mata sistem kapitalisme, dunia ini memang simpel sekaligus kejam, kita baru disebut produktif kalau aktivitas kita menghasilkan uang.

Kalau enggak, berarti kita itu nganggur aka nggak ngapa-ngapain di rumah. Seolah-olah baju bisa melipat diri sendiri, piring bisa mencuci diri sendiri, anak-anak bisa tumbuh besar, sehat, dan saleh secara autopilot.

Padahal, ibu rumah tangga itu sebenarnya melakukan apa yang disebut unpaid care work alias pekerjaan pengasuhan tak berbayar. Nilai ekonominya raksasa, tapi gengsi sosialnya sering kali dianggap nol besar.

Stigma “ibu rumah tangga itu nganggur” inilah yang dimanfaatkan dengan sangat cantik oleh industri digital dengan melahirkan sebuah mantra baru: “Mengubah hobi jadi cuan!”

Dulu, masak atau bikin kue adalah sarana melepaskan lelah atau mengekspresikan sayang pada keluarga. Sekarang?

“Kenapa nggak dijual aja, Bun? Buka PO deh.”

Dulu, skincare-an, dandan, dress up dan menata rumah itu aktivitas personal. Sekarang?

“Sayang banget nggak di-share ke TikTok, sekalian taruh link affiliate Shopee-nya, Bun!”

Tiba-tiba, waktu rehat ibu yang tersisa sedikit dikomodifikasi. Fenomena affiliate marketing misalnya, sering dibungkus narasi manis: “Iseng-iseng berhadiah sambil momong anak pas tidur siang.”

Padahal, realitasnya tak sebercanda itu. Demi komisi yang sering kali hanya beberapa persen, ada mental load yang menguras energi dan pikiran: riset barang yang lagi tren, editing video, mikirin caption ber-SEO, hingga memantau algoritma yang perubahannya bikin pusing kepala. Belum lagi tekanan mental ketika video sepi penonton, lalu kita mulai mempertanyakan nilai diri sendiri.

Di sisi lain, memang kita tidak bisa menutup mata bahwa di tengah meroketnya harga beras, biaya sekolah, dan tagihan dapur, side hustle bukan lagi sekadar gaya-gayaan demi dipuji “ibu berdaya” di media sosial. Bagi banyak keluarga, komisi affiliate atau jualan kue pre-order adalah napas penyambung hidup dan penjaga agar dapur tetap ngebul.

Ketika gaji suami tidak bisa mengejar harga-harga kebutuhan in this economy, tambahan dari rumah adalah pilihan paling masuk akal bagi ibu yang tidak bisa meninggalkan anak demi kerja kantoran.

Untuk kasus ini, ibu terkesan berdaya dan produktif karena menghasilkan uang, tapi pada saat yang bersamaan, ia pun menanggung apa yang disebut sosiolog Arlie Hochschild sebagai double burden atau beban ganda.

Ibu dituntut mengurus rumah tanpa upah, tetapi di saat yang sama didorong untuk tetap produktif dan “cari cuan” dari layar gawai. Bahkan waktu tidur siang anak, yang dulu bisa menjadi jeda untuk selonjoran dan memulihkan tenaga, kini dirampas oleh tuntutan algoritma. Seolah-olah tidak boleh ada satu menit pun yang terlewat tanpa menghasilkan sesuatu. Kapitalisme berhasil masuk hingga ke dalam kamar tidur kita, membajak istirahat, momen langka dan sakral (haha!) seorang ibu.

Sejatinya, tidak ada yang salah dengan mencari uang tambahan dari rumah. Perjuangan para ibu yang memutar otak demi menyokong ekonomi keluarga adalah hal luar biasa yang patut diacungi empat jempol.

Juga tidak ada yang salah jika seorang ibu, atas kesepakatan internal keluarga, fokus menjadi ibu rumah tangga seutuhnya tanpa mencari uang lagi. Me-manage dan melakukan pekerjaan rumah tangga bukanlah hal kecil yang bisa diremehkan begitu saja.

Yang perlu kita perbaiki adalah cara pandang masyarakat dan cara kita memvalidasi diri sendiri.

Sudah saatnya kita berhenti mengecilkan peran IRT hanya karena pekerjaan mereka tidak mengeluarkan struk gaji di akhir bulan. Dan sudah saatnya kita berhenti merasa bersalah hanya karena memilih untuk tidak ikut-ikutan tren hustle culture digital.

Jadi, untuk para Ibu: jika siang ini anak tidur dan kamu memilih untuk ikut tidur berdampingan dengannya alih-alih bikin video affiliate, it is completely valid. Rehatmu adalah hak, bukan bentuk kemalasan.

Bagaimana denganmu, Bun? Kalau anak lagi tidur, kamu tim ikutan leyeh-leyeh atau tim cari cuan?

 

Oktarina Prasetyowati (Okke)

IG @mamamolilo

Blog http://jurnalperimenopause.substack.com

 


Cerita Mama berisi cerita yang ditulis oleh pembaca digitalMamaID seputar pengalamannya saat bersentuhan dengan dunia digital, baik saat menjalankan perannya sebagai individu, istri, ibu, pekerja, maupun peran-peran lain di masyarakat. Kirimkan cerita Mama melalui email [email protected] atau [email protected] dengan subyek [Cerita Mama].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE