digitalMamaID – Kita sering mendengar stigma “Percuma kuliah tinggi tapi jadi ibu rumah tangga.” Stigma ini seolah ingin mengatakan, menjadi ibu rumah tangga yang melakukan kerja-kerja perawatan tidak membutuhkan persiapan, pengetahuan, atau bekal pendidikan. Padahal, proses mencetak anak yang berkualitas justru dimulai dari rumah, bahkan sejak dalam kandungan.
Secara ekonomi, keberadaan ibu rumah tangga juga berkontribusi besar karena menghemat pengeluaran domestik. Jika dialihkan kepada tenaga kerja lain, seperti asisten rumah tangga atau pengasuh, akan membutuhkan biaya tidak sedikit. Belum lagi, jam kerja ibu rumah tangga tidak pernah benar-benar selesai. Jauh melampaui batas jam kerja profesi formal.
Konten harmless Angel soal IRT dan almamater kampusnya
Stigma tersebut dijawab secara terbuka dan satir oleh Artiyana Angeliza (Angel), konten kreator ibu rumah tangga (IRT) asal Semarang. Pada awal Desember 2025, ia mengunggah konten berjudul “Buat apa kuliah kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga?” Dalam video tersebut, Angel yang merupakan alumni sebuah perguruan tinggi negeri, memperlihatkan jas almamaternya dengan bangga. Ia tampil dengan ciri khasnya: daster lusuh, wajah polos dan ekspresinya yang unik. Angel memberi pesan bahwa pendidikan tinggi tidak akan luntur ketika perempuan memilih atau berada di ranah domestik.
View this post on InstagramA post shared by UNDIP STORY || SEPUTAR UNIVERSITAS DIPONEGORO (@undip.story)
Konten ini mendapat banyak respons. Sebagian besar positif, terutama dari sesama ibu rumah tangga yang merasa terwakili. Namun, sebagian lain justru menilai Angel “merendahkan” profesi IRT karena personanya yang selalu tampil lusuh dan terlihat lelah. Kritik tersebut, alih-alih diambil pesannya. Mereka justru terjebak pada penampilan, sebuah ironi yang kerap dialami perempuan.
Jumat, 30 Januari 2026, Angel kembali mengunggah video serupa dengan perubahan signifikan. Konten aslinya di awal Desember lalu sudah ia hapus. Jas almamater biru tuanya diganti merah, logo kampus ia tutup. Tak lama berselang, ia membagikan tangkapan layar pesan dari pihak fakultas almamaternya yang menyarankan agar konten asli diturunkan. Rupanya kampus menyatakan keberatan atas penggunaan jas almamater dalam video tersebut. Permintaan ini memperlihatkan kegagalan membaca konten sebagai kritik sosial dan ekspresi personal alumni.


Tangkapan layar itu kemudian viral di berbagai platform media sosial. Banyak pihak menyayangkan intervensi kampus terhadap konten alumni yang tidak sedikit pun menjelekkan institusi. Namun, sebagian komentar publik kembali bergeser ke persoalan persona Angel yang dianggap kurang elegan, bukan pada pesan yang ia sampaikan. Saat ini, konten asli IRT yang dibuat Angel hanya tersisa dalam unggahan ulang akun Instagram @undip_story.
Kampus sebagai “menara gading”
Dr. Hariati Sinaga, S.Sos., M.A, dosen Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), melihat respons kampus soal konten Angel justru menunjukkan jarak antara institusi pendidikan dan realitas sosial alumninya.
“Kalau kita dengar sepintas, yang pertama muncul adalah bagaimana kampus itu jadi seperti menara gading. Wilayah yang sepertinya berjarak dengan masyarakat sekitarnya,” ujarnya kepada digitalMamaID, Selasa, 3 Februari 2026.
Ia mengingatkan, perguruan tinggi memiliki mandat tridarma: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, sikap defensif terhadap ekspresi alumninya terasa ironis. “Aneh ketika ada seorang ibu konten kreator yang pakai jas almamaternya sendiri, tapi justru dipersoalkan. Itu sudah memberi kesan adanya ivy tower yang berjarak dengan masyarakat,” tambahnya.
Ibu rumah tangga tidak dianggap profesi
Hariati menilai, kasus Angel mencerminkan cara pandang masyarakat, termasuk institusi pendidikan yang masih belum mengakui kerja-kerja perawatan sebagai sebuah profesi. “Kembali lagi kita melihat bahwa profesi ibu rumah tangga tidak dilihat sebagai profesi. Seolah hanya kelompok pekerja tertentu yang layak menggunakan jas almamater,” ujarnya.
Pandangan ini menunjukkan adanya standar sosial yang membatasi pengakuan profesional hanya pada kerja yang berlangsung di ruang publik dan formal. Dalam struktur masyarakat patriarkis, kerja domestik kerap diremehkan karena dianggap tidak membutuhkan keterampilan khusus dan tidak memiliki nilai ekonomi. Padahal, peran ibu rumah tangga mencakup kerja mendidik, merawat, hingga mengelola emosi, yang menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan kehidupan sosial dan pembentukan generasi berikutnya.
Hariati juga menyinggung adanya pembagian nilai ruang yang bersifat hierarkis. “Ada hierarki ruang, di mana pendidikan di sekolah dianggap lebih tinggi dibandingkan pendidikan di rumah. Padahal ini tidak bisa dipisahkan,” katanya.
Pendidikan di rumah sering ditempatkan sebagai kerja informal sehingga nilainya dianggap lebih rendah, meskipun institusi pendidikan sendiri secara normatif menekankan pentingnya peran keluarga dalam pembentukan karakter anak. Kontradiksi ini memperlihatkan bagaimana kerja ibu rumah tangga sebagai aktor utama pendidikan domestik tetap tidak diakui sebagai profesi yang bernilai karena berlangsung di ruang informal dan tidak menghasilkan keuntungan ekonomi secara langsung.
Tubuh perempuan dan kontrol institusi
Dalam konten aslinya, Angel memperlihatkan kebanggaannya menjadi ibu rumah tangga (IRT) dengan latar pendidikan sarjana sambil memperlihatkan jas almamaternya. Namun, unggahan tersebut justru berujung pada permintaan penurunan konten dari pihak kampus. Bagi Hariati, langkah ini memperlihatkan bagaimana kampus memandang apa yang ditampilkan Artiyana sebagai sesuatu yang tidak memiliki daya jual. “Kampus seperti mereproduksi ketimpangan hierarki demi marketing kampusnya,” ujarnya.
Hariati menilai, kontrol tersebut berpotensi menjadi bumerang bagi citra kampus di mata publik, khususnya calon mahasiswa yang memiliki ibu yang menjalani kerja-kerja perawatan seperti IRT. “Calon mahasiswa bisa berpikir, ‘kalau saya kuliah di sana, treatment-nya ke ibu rumah tangga seperti itu,’” katanya.
Apalagi di posisi tersebut, Angel adalah alumni dan tidak punya lagi hubungan apa-apa dengan kampus. Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kontrol institusi dan standar sempit tentang perempuan ideal; terdidik, rapi, dan produktif secara ekonomi.
“Kalau sampai kampus melakukan hal demikian (intervensi penurunan konten-red)itu luar biasa. Enggak terlihat apa untungnya,” ujarnya. Dalam konteks ini, kampus dinilai masih gagal melihat kerja domestik dan peran ibu rumah tangga sebagai bagian penting dari kehidupan sosial yang layak dihormati.
Internalisasi patriarki oleh perempuan
Banyak kritik yang diarahkan pada konten Angel berasal dari sesama perempuan, termasuk ibu rumah tangga. Banyak yang merasa tidak terwakili oleh persona lelah dan “berantakan” yang ditampilkan Angel. Sebagian melihat sebagai penghinaan terhadap profesi IRT.
Hariati melihat fenomena ini sebagai bentuk internalisasi nilai patriarkis dan banyak perempuan gagal mendapat poin dari video tersebut; kerja perawatan perempuan dan beban gandanya, kritik sosial terhadap sistem patriarki, image IRT yang rendah.
“Perempuan juga menginternalisasi nilai patriarkis, bahwa ibu rumah tangga itu bukan profesi yang penting,” tuturnya. Ia menilai, masyarakat mempunyai bayangan ideal tentang perempuan terdidik; rapi, terorganisir, produktif secara ekonomi, yang dianggap tidak selaras dengan realitas ibu rumah tangga yang multitugas dan kelelahan.
Ilusi media sosial
Representasi ibu rumah tangga di media sosial yang diberikan oleh banyak konten kreator atau influencer perempuan dan ibu juga tidak bisa dilepaskan dari faktor kelas sosial. Banyak konten menampilkan ibu yang tampak rapi, seimbang, dan produktif, tanpa memperlihatkan dukungan tak terlihat di baliknya. “Sering kali kita tidak tahu ada ART, ibu mertua, ada orang lain yang membantu. Itu tidak pernah ditampilkan,” ujar Hariati.
Standar ini menciptakan ilusi dan tekanan baru, terutama bagi ibu dari kelas menengah ke bawah yang mengerjakan seluruh kerja perawatan sendiri.
Secara struktural, kerja perawatan memang belum diakui. International Labour Organization (ILO) mencatat perempuan melakukan lebih dari tiga perempat kerja perawatan tidak berbayar di dunia, dengan nilai ekonomi sangat besar namun tidak masuk perhitungan PDB. Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan partisipasi angkatan kerja perempuan masih tertinggal, salah satunya karena beban domestik dan perawatan.
Apa yang dialami Angel dan banyak ibu rumah tangga lain di luar sana menunjukkan, stigma terhadap ibu rumah tangga bukan persoalan individu lagi, melainkan persoalan sistemik, yang berkaitan dengan gender, kelas, dan cara masyarakat memaknai nilai sebuah pekerjaan. [*]






