digitalMamaID – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) harus bijak dan dibatasi. Server AI ternyata menyedot air bersih dalam jumlah besar setiap kali menjawab prompt. Di ranah riset, sebagian insinyur mulai melambat dalam pengembangannya karena ada prediksi teknologi ini bisa ‘membunuh’ manusia.
Belum lama ini pengguna media sosial diramaikan dengan tren membuat prompt AI demi menghasilkan foto atau video dengan gaya 1980-an. Lucu, sih, seperti nostalgia masa lalu. Sehingga dalam 24 jam saja, sudah jutaan orang mengikuti tren ini.
Sayangnya, dalam sekali membuat foto dengan AI, ada jutaan kubik air bersih yang dihabiskan untuk mendinginkan servernya. Apalagi jika membuat video. Disadur dari tayangan Youtube televisi India CNBC-TV18, sebuah riset dilakukan Studio Hugging Face yang berkolaborasi dengan Carnegie Mellon University. Disebutkan, untuk menghasilkan 1 foto AI membutuhkan sekitar 40 ml air bersih.
Butuh banyak sumber daya energi
Tak hanya itu, pembuatan satu gambar AI generatif memerlukan daya komputasi tinggi, memakan energi antara 0,01 hingga 0,29 kWh per gambar. Energi ini setara dengan mengisi daya penuh ponsel pintar. Pusat data AI bisa digambarkan sebagai sosok raksasa yang selalu haus air. Ribuan kartu grafis (GPU) yang bekerja keras menghasilkan panas luar biasa, sehingga membutuhkan sistem pendingin berbasis air dalam jumlah masif agar server tidak meleleh.
Teknologi AI tampak bersih di permukaan. Padahal, Microsoft meningkatkan konsumsi airnya sebesar 34% hanya dalam satu tahun. Dan ke depannya permintaan akan AI terus meningkat. Akun Insatgram Daily Profit Zone melaporkan, para ahli memperkirakan infrastruktur AI akan menggunakan lebih dari 1 triliun liter air setiap tahunnya pada tahun 2028.
Percakapan yang terdiri dari 20 hingga 50 pertanyaan dengan AI menghabiskan sekitar 500 ml air bersih. Kita mungkin mengira sedang menggunakan alat gratis. Padahal, kita sedang membayarnya dengan sumber daya paling krusial bagi planet bumi.
Pendorong krisis lingkungan
Laman resmi PBB merilis laporan, jika sektor AI kini menjadi salah satu pendorong utama krisis lingkungan global. Studi terbaru dari United Nations University (UNU) mengungkapkan, ekspansi AI yang sangat pesat tidak hanya memicu emisi karbon, tetapi juga menguras sumber daya alam mendasar seperti air dan tanah, serta menciptakan ketimpangan sosial-ekonomi global.
Pusat data yang menopang AI diproyeksikan mengonsumsi 945 TWh listrik per tahun pada 2030, hampir tiga kali lipat gabungan konsumsi listrik Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria. Selain itu, jejak air AI diperkirakan setara dengan kebutuhan harian 1,3 miliar orang, sementara jejak lahannya berpotensi melebihi 14.500 km² atau dua kali luas Jakarta.
Meskipun perhatian publik berfokus pada proses pelatihan, atau penggunaan sehari-hari, perilaku itu justru menyumbang 80–90% dari total konsumsi energi. Lainnya, infrastruktur AI diperkirakan menghasilkan hingga 2,5 juta ton limbah elektronik per tahun pada 2030, yang risikonya paling besar ditanggung negara berpenghasilan rendah.
Lebih dari 90% kapasitas komputasi AI global terkonsentrasi di Amerika Serikat dan Tiongkok, sementara lebih dari 150 negara tidak memiliki infrastruktur memadai. Banyak negara terpaksa menanggung dampak lingkungan tanpa merasakan manfaat ekonominya.
Rektor UNU sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal PBB Tshilidzi Marwala menegaskan jika dunia perlunya pembentukan ekosistem AI yang bertanggung jawab melalui transparansi, efisiensi tata kelola energi, air, dan lahan oleh pemerintah, serta pilihan penggunaan yang lebih bijak dari masyarakat.
Peluang memusnahkan manusia
Yang juga ramai di awal September 2026 adalah pengunduran diri Jacob Coxon, peneliti AI dari Anthropic, memicu gelombang kekhawatiran publik. Bahwa laju pengembangan AI frontier dinilai berisiko mengancam keberlangsungan hidup manusia.
Dilansir dari laman CNBC, Coxon yang juga pernah bekerja di OpenAI, menuduh kedua perusahaan tersebut berlomba secara tidak bertanggung jawab menuju pengembangan superintelligence yang mampu melakukan Recursive Self-Improvement atau peningkatan diri secara mandiri tanpa campur tangan manusia. “Potensi AI bisa melampaui kemampuan manusia, meretas sistem, dan menguasai sumber daya,” ujarnya dalam unggahan di akun X pribadinya.
Pernyataan itu didukung oleh Evan Hubinger, pemimpin tim alignment (penyelarasan) Anthropic. Dia memperkirakan peluang AI memusnahkan manusia mencapai lebih dari 10% dalam satu dekade ke depan. Hubinger mengonfirmasi bahwa industri saat ini belum memiliki rencana atau jalur yang jelas untuk menyelesaikan masalah alignment pada tingkat superintelligence.
Pengembangan AI diperlambat
Kepala Ilmuwan OpenAI, Jakub Pachocki, turut menyerukan perlambatan pengembangan AI secara sukarela. Dia juga menyatakan pentingnya koordinasi internasional, mengingat belum ada perusahaan yang berhasil memecahkan masalah pemantauan keselamatan pada skala maksimum.
Sikap kompak juga ditunjukkan pimpinan OpenAI (Sam Altman), Anthropic (Dario Amodei), dan Elon Musk. Juga dilaporkan laman CNBC, ketiganya secara terbuka menyerukan perlambatan laju pengembangan frontier AI.
Altman memaparkan dua skenario utama di mana perkembangan AI dapat berujung buruk. Pertama hilangnya kendali manusia atas masa depan kepada AI. Kedua, pemusatan kekuasaan yang berlebihan pada satu individu atau perusahaan saja.
“Tekanan persaingan nasional tidak boleh dijadikan pembenaran atas tindakan gegabah. Meskipun mendukung pengawasan dan keterlibatan auditor independen, “mengatur laju” riset bukan berarti “menghentikan total” inovasi,” katanya.
Di ranah sosial media, Threads misalnya, sudah banyak netizen yang menyuarakan bijak menggunakan layanan AI. Meski tidak dapat disebut gelombang anti-AI, tetapi suara netizen ini diharapkan menjadi pagar kecil untuk tidak sembarangan menggunakan AI.
Akun Threads rezki.warni misalnya, berpendapat jika AI masih penting digunakan untuk membantu keberlangsungan manusia karena kontribusinya pada studi iklim hingga regenerasi sel. “Aku pribadi seneng AI bantuin UMKM buat jualan lebih lancar. Menurutku kita semua bisa mulai menggunakan AI secara sadar dan bertanggung jawab. Seperti juga kesadaran kita menggunakan plastik. Ikutan tren atau iseng edit foto, bisa direm. Kasih ruang buat ilustrator, buat kreatifitas kita sendiri, buat intelektual kita,” tuturnya.
Di sisi lain, Rezki mempromosikan viorant.ai sebagai sebuah “infrastruktur deployment AI”. Didirikan oleh suaminya, Vivien Roggero, di tahun ini, visinya adalah ‘civilized intelligence’. “Maksudnya adalah dengan kemajuan AI, Viorant adalah sistem yang bisa mengelola, melacak, memindahkan kecerdasannya supaya tetap dalam kelola manusia. “So we can start using AI for things that really matter”, ujarnya. [*]






