Mama Jangan Panik! Ini 5 Tips Menangani Tantrum Anak dengan Tenang

Ilustrasi tips mengatasi tantrum
Share

digitalMamaID — Pernahkah Mama mengalami anak tiba-tiba menangis keras, berteriak, atau berguling di lantai karena keinginannya tidak dituruti? Momen seperti ini sering kali membuat orangtua panik, apalagi jika terjadi di tempat umum. Tak jarang, kita langsung membujuk, memarahi, atau bahkan menyerah demi menghentikan tangisannya.

Tenang, Mama tidak sendirian. Banyak orangtua mengalami hal serupa. Kabar baiknya, tantrum merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak yang dapat dihadapi dengan cara yang tepat.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) melalui HealthyChildren.org, tantrum merupakan cara anak mengekspresikan rasa frustrasi ketika mereka belum mampu mengungkapkan keinginan atau emosinya dengan kata-kata. Fase ini paling sering terjadi pada usia 1–4 tahun, saat kemampuan mengendalikan emosi dan berkomunikasi masih berkembang.

Hal senada juga disampaikan dokter spesialis anak dr. Meta Hanindita, Sp.A(K) melalui unggahan reels di Instagram. Ia menjelaskan, saat anak sedang tantrum, orangtua tidak perlu ikut terpancing emosi. Sebaliknya, kehadiran orangtua yang tenang akan membantu anak merasa lebih aman dan perlahan belajar mengelola emosinya.

Lalu, bagaimana cara mengatasi anak tantrum? Berikut beberapa tips menangani tantrum anak yang direkomendasikan para ahli.

Mengapa anak tantrum?

Anak yang tantrum bukan berarti ia nakal atau sengaja membuat orangtua kesal. Justru, kondisi ini merupakan bagian dari proses belajar mengelola emosi. Pada usia balita, kemampuan anak untuk mengontrol rasa marah, kecewa, atau frustrasi masih berkembang. Di sisi lain, kemampuan berkomunikasi mereka juga belum sepenuhnya matang sehingga emosi sering kali diekspresikan melalui tangisan, teriakan, atau perilaku agresif.

Beberapa kondisi yang dapat memicu tantrum pada balita antara lain: lapar atau haus, mengantuk, kelelahan, perubahan rutinitas, merasa frustrasi, serta keinginan yang tidak terpenuhi. Dengan memahami penyebab tantrum anak, Mama dapat memberikan respons yang lebih tepat tanpa terburu-buru menghakimi perilakunya.

5 tips menangani tantrum anak

Menghadapi anak yang sedang tantrum memang menguji kesabaran. Namun, dengan respons yang tepat, momen ini justru dapat menjadi kesempatan untuk mengajarkan anak mengenali dan mengelola emosinya.

1. Tetap tenang

dr. Meta Hanindita, Sp.A(K) mengingatkan orangtua untuk tidak ikut terpancing emosi saat anak tantrum. Menurutnya, kehadiran orangtua yang tenang akan membantu anak merasa lebih aman. Rekomendasi serupa juga disampaikan AAP yang menjelaskan bahwa orangtua perlu menjadi contoh dalam mengelola emosi karena anak belajar dari respons yang mereka lihat.

2. Pastikan anak berada di tempat yang aman

Masih menurut AAP, keselamatan anak harus menjadi prioritas selama tantrum. Jika anak mulai melempar barang, memukul, atau berisiko melukai dirinya sendiri maupun orang lain, orangtua dianjurkan memindahkan anak ke tempat yang aman dan menjauhkan benda-benda yang dapat membahayakan. Langkah ini bertujuan melindungi anak, bukan sebagai bentuk hukuman.

3. Validasi perasaannya

UNICEF melalui panduan Positive Parenting Tips for Babies and Children Ages 0–5 menyarankan orangtua untuk membantu anak mengenali emosinya. Salah satu caranya adalah dengan memvalidasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, “Mama tahu kamu sedang marah,” atau “Kamu kecewa karena mainannya harus disimpan, ya?” Pendekatan ini membantu anak merasa dipahami sekaligus belajar mengenali emosinya.

4. Tetap konsisten dengan aturan dan ajak anak berbicara setelah tenang

AAP mengingatkan agar orangtua tidak langsung memenuhi semua keinginan anak hanya untuk menghentikan tantrum. Jika penyebab tantrum adalah keinginan yang memang tidak boleh dipenuhi, tetaplah konsisten dengan aturan yang telah dibuat.

Setelah emosi anak mereda, Mama dapat mengajaknya berbicara mengenai apa yang dirasakan dan mengajarkan cara yang lebih tepat untuk menyampaikan keinginannya. Saat anak sudah tenang, ia akan lebih mudah menerima arahan dibandingkan ketika emosinya sedang memuncak.

5. Bangun hubungan yang hangat dan berikan apresiasi

Menurut UNICEF, pengasuhan yang penuh kasih (positive parenting) berperan penting dalam membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi. Membangun hubungan yang hangat melalui komunikasi positif, rutinitas yang konsisten, dan perhatian penuh kepada anak dapat membuat mereka merasa aman sehingga lebih siap menghadapi rasa kecewa atau frustrasi.

UNICEF juga menekankan pentingnya memberikan perhatian pada perilaku positif anak. Karena itu, jangan lupa memberikan pujian ketika anak berhasil meminta sesuatu dengan sopan atau mampu menenangkan dirinya. Kalimat sederhana seperti, “Mama bangga kamu bisa tenang,” dapat membantu memperkuat perilaku positif yang ingin dibangun.

Kapan orangtua perlu waspada?

Meski tantrum merupakan bagian normal dari tumbuh kembang anak, orangtua tetap perlu memperhatikan frekuensi dan intensitasnya. Konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog apabila tantrum berlangsung lebih dari 15–20 menit hampir setiap kali terjadi, masih sangat sering setelah usia 5 tahun, atau disertai perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Jika Mama merasa tantrum semakin sering, sangat intens, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari keluarga, jangan ragu mencari bantuan profesional. Penanganan sejak dini dapat membantu menemukan penyebabnya sekaligus memberikan strategi yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Menghadapi anak tantrum memang menguras energi dan kesabaran. Namun, dengan menerapkan tips menangani tantrum anak secara konsisten, Mama tidak hanya membantu meredakan ledakan emosi saat itu juga, tetapi juga membekali anak dengan kemampuan mengelola emosi yang akan bermanfaat hingga ia dewasa. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE