Fatherless, Bagaimana Ayah Bisa Absen dari Keluarga?

Ilustrasi fatherless
Share

digitalMamaIDFatherless atau absennya ayah dalam pengasuhan menjadi masalah serius dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Perkembangan mental anak bisa terganggu.

Fatherless bisa terjadi karena situasi yang beragam. Mulai dari kesibukan ayah yang tugas utamanya sebagai pencari nafkah, hingga perspektif keliru karena menganggap pengasuhan anak hanyalah tugas ibu.

Hal ini bisa berdampak pada kondisi mental anak. Bagi anak perempuan ayah adalah sosok cinta pertamanya, sebagai pelindung dan teman bercerita. Bagi anak laki-laki, ayah adalah figur yang bertanggung jawab dan menjadi contoh bagi dirinya kelak.

Jika kehadiran ayah baik secara fisik maupun perannya tidak ada dalam pertumbuhan dan perkembangan anak maka mereka (anak perempuan dan laki-laki) akan merasa kehilangan jati dirinya. Bisa jadi mereka akan mencari sosok lain yang bisa menjadi figur baginya.

Psikolog Anak Efni Indrianie mengungkapkan, jika ditinjau dalam konteks budaya dan keseharian masyarakat di Indonesia, ada paradigma yang terbentuk bahwa ayah bekerja dan ibu yang mengurus anak-anak. Paradigma ini terbentuk dalam kurun waktu yang lama, sejak dulu dan melekat dalam budaya.

“Hal ini yang membuat peran ibu menjadi lebih dominan dalam pengasuhan anak,” katanya kepada digitalMamaID, Senin, 21 Juni 2023.

Namun, hal itu mulai berubah sejak ilmu parenting di Indonesia berkembang. Peran ayah dan ibu menjadi lebih seimbang. Meski begitu, hal itu tidak terjadi pada semua keluarga di Indonesia. “Ayah adalah figur pelindung untuk anak dan ibu figur yang merawat,” ucapnya.

Ia mengatakan, kehadiran sosok ayah sebagai pelindung sangat dibutuhkan. Penghayatan tentang figur pelindung ini semakin berkurang pada keluarga fatherless.

“Untuk anak laki-laki mereka akan kurang belajar tentang bagaimana sebaiknya menjadi laki-laki, bagaimana suatu saat menjadi figur pelindung. Pada anak perempuan bisa jadi ia mencari figur lain untuk mendapatkan proteksi,” ujarnya.

Waktu bersama yang berkualitas

Fatherless tidak hanya terjadi pada keluarga yang ayah ibunya berpisah. Long distance marriage atau hubungan jarak jauh pada perkawinan bisa berpotensi melahirkan keluarga fatherless. Maka itu, Efni menekankan, pentingnya membangun hubungan dekat antara ayah dan anak dengan memiliki waktu bersama yang berkualitas atau yang biasa dikenal dengan quality time.

“Lalu memperhatikan intensitas dalam komunikasi agar kehadiran ayah selalu ada untuk anak,” tuturnya.

Meskipun secara fisik jauh, lanjutnya, jika sang ayah intens berkomunikasi dengan anak melalui video call dengan anak yang masih balita, atau mengirim pesan jika anak sudah dewasa dengan  menggunakan ponsel.

“Pastikan ayah selalu ada saat anak butuh, menjadi teman curhat dan lainnya sehingga anak tidak merasa ditinggal. Saat ayah pulang ke rumah pun pastikan ayah hadir seratus persen menciptakan waktu berkualitas dan penuh kehangatan dengan anak,” ungkapnya.

Fakta tentang fatherless di Indonesia

Kezia Raraseta Djawa dan Tri Kurniati Ambarini dalam jurnalnya Pengaruh Self-Esteem Terhadap Agresi Pada Remaja Dengan Father-Absence menuturkan, sebuah survei mengatakan Indonesia menjadi negara fatherless ketiga terbesar, seperti yang disebutkan oleh Menteri Sosial Republik Indonesia saat itu, Khofifah Indar Parawansa.

Fatherless atau father-absence artinya tidak hanya berarti sekadar ketiadaan ayah secara fisik, akan tetapi ketidakhadiran peran dan figur ayah dalam kehidupan anak. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh penjuru dunia seperti yang diutarakan oleh psikolog National Hospital Surabaya, Cicilia Evi.

Selaras dengan hal tersebut, terdapat beberapa fakta yang menyebabkan hilangnya peran ayah di Indonesia yakni tingkat perceraian yang meningkat menjadi 14% di tahun 2014, serta hukum tradisional pernikahan Indonesia tahun 1974 yang membagi posisi ayah hanya sebagai penyedia kebutuhan ekonomi, sementara ibu yang berperan untuk mengurus rumah dan merawat anak.

Pembagian kaku akan tugas pria dan wanita ini yang juga membuat pria terbatas untuk memasuki dunia perempuan sehingga mungkin kebahagiaan pribadi yang dapat dimiliki seorang ayah dalam mengurus anak menjadi hilang. Pembagian itu membuat seolah tugas perempuan sebagai ibu adalah sepenuhnya untuk merawat anak, sementara ayah sebagai penyedia ekonomi saja.

Hal lain yang membuat peran ayah tidak optimal adalah keragaman kategori ayah yang menimbulkan konflik tersendiri. Salah satunya adalah laki-laki yang menjadi ayah pada usia usia remaja.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dari 700.000 laki-laki yang menikah, 3,17% nya adalah ayah yang masih remaja. Mereka menjadi ayah ketika masih sangat muda, masih sekolah, dan masih bergantung dengan orangtua mereka sendiri. Hal ini berdampak pada ketidaksiapan mereka dalam berperan sebagai ayah. [*]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *