digitalMamaID — Kasus Hantavirus kembali menjadi sorotan dunia setelah munculnya varian Andes Hantavirus di kapal MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde. Wabah ini mendapat perhatian internasional setelah tiga penumpang, pasangan asal Belanda dan seorang warga negara Jerman dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut. Meski Hantavirus umumnya menyebar melalui hewan pengerat liar, varian Andes diketahui memiliki kemampuan penularan antarmanusia walau jarang terjadi.
Andes Hantavirus sendiri merupakan salah satu turunan Hantavirus yang banyak ditemukan di kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru-paru yang berpotensi fatal. Berbeda dengan sebagian besar jenis Hantavirus lain yang hanya menular dari hewan ke manusia, varian Andes dapat menular antarmanusia melalui kontak erat, dengan masa inkubasi berkisar antara empat hingga 42 hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan risiko pandemi global dari wabah ini masih rendah karena penularannya memerlukan kontak erat dalam waktu lama. Dalam konferensi pers 7 Mei 2026 lalu, WHO memastikan situasi masih terkendali meski sejumlah penumpang dan tenaga medis kini dipantau ketat di beberapa negara. Hingga kini tercatat delapan kasus terkait wabah tersebut. Lima di antaranya telah dikonfirmasi sebagai Andes Hantavirus melalui pemeriksaan laboratorium.
Sejumlah pasien kini masih menjalani perawatan intensif di berbagai negara. WHO menyebut seorang pasien yang dirawat di ICU Afrika Selatan mulai menunjukkan perbaikan kondisi. Dua pasien lain yang dievakuasi ke Belanda berada dalam kondisi stabil. Sementara satu kasus baru dikonfirmasi di Zurich, Swiss, setelah seorang penumpang secara sukarela melapor dan menjalani perawatan di Geneva University Hospitals.
Paparan awal berasal dari sebelum naik kapal
Menurut WHO, sumber paparan utama diduga berasal dari perjalanan sebelum naik kapal. Dua kasus pertama, pasangan Belanda diketahui sempat melakukan perjalanan pengamatan burung ke Argentina, Chile, dan Uruguay, termasuk ke wilayah yang dikenal sebagai area endemik virus Andes.
WHO pun bekerja sama dengan pemerintah Argentina untuk melacak pergerakan pasangan tersebut sebelum menaiki kapal. Argentina disebut memiliki pengalaman panjang menangani wabah virus Andes, termasuk wabah besar di Epuyén pada 2018 yang menyebabkan 34 kasus dan 11 kematian.
Andes Hantavirus menjadi perhatian karena berbeda dari sebagian besar jenis Hantavirus lain. Virus ini diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan, seperti hubungan keluarga, pasangan intim, atau tenaga medis yang merawat pasien secara langsung.
WHO juga menegaskan virus ini tidak menyebar seperti COVID-19 atau influenza. Penularan tidak terjadi melalui udara di ruang terbuka dan membutuhkan kontak erat dalam waktu lama. “Risiko bagi masyarakat umum tetap rendah,” ujar WHO dalam konferensi pers tersebut.
Sebanyak 12 negara telah menerima pemberitahuan resmi melalui mekanisme International Health Regulations (IHR), yakni Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, St. Kitts & Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.
Saat ini proses pengurutan genom virus sedang dilakukan di beberapa laboratorium internasional, termasuk Geneva University Hospitals, NICD Afrika Selatan, dan Institut Pasteur Dakar. Hingga kini belum ditemukan mutasi yang dianggap mengkhawatirkan.
Belum tersedia antivirus maupun vaksin khusus untuk Andes Hantavirus. Penanganan pasien berat masih mengandalkan perawatan suportif di ICU, termasuk bantuan ventilator dan terapi penunjang lainnya.
WHO memperkirakan masih mungkin muncul kasus tambahan mengingat panjangnya masa inkubasi virus. Namun organisasi itu menekankan kondisi saat ini belum mengarah pada ancaman wabah besar.
Dr. Tirta: Kuncinya jangan jorok
Meningkatnya perhatian publik terhadap wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius ikut memunculkan berbagai reaksi di media sosial. Salah satunya datang dari dokter sekaligus influencer kesehatan Tirta Mandira Hudhi atau yang lebih dikenal sebagai dr. Tirta.
Lewat unggahannya di Threads dan X, dr. Tirta meminta masyarakat tidak panik berlebihan terhadap Hantavirus, terutama karena virus ini umumnya berasal dari tikus dan penularannya antarmanusia sangat terbatas.
“Nggak usah panik soal Hantavirus, asalkan kamu nggak kemproh dan jorok. Wong virusnya aja biasanya nongol di tikus,” tulisnya.
Menurutnya, langkah pencegahan Hantavirus sebenarnya cukup sederhana, yakni menjaga kebersihan diri dan sanitasi lingkungan. Ia juga menekankan bahwa Andes Hantavirus berbeda dengan COVID-19 karena penularan antarmanusia membutuhkan kontak dekat dalam waktu lama. Karena itu, ia menilai kemungkinan virus ini berkembang menjadi pandemi global sangat kecil.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tidak ikut panik hanya karena pemberitaan yang ramai di media sosial. “Intinya stop heboh sendiri. Solusinya cuma jaga kebersihan diri, jaga sanitasi, dan hindari bepergian ke tempat berisiko,” tulis dr. Tirta.
Sebagai langkah antisipasi juga, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan. Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni menegaskan terus memperkuat kesiapsiagaan nasional. “Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” ujar dr. Andi.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas.
“Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta,” pungkasnya.
Tips mencegah Hantavirus
Berikut beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan hantavirus:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
- Menutup makanan agar tidak terpapar tikus
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area kotor atau banyak kotoran tikus
- Menghindari tempat dengan sanitasi buruk atau populasi tikus tinggi
- Rajin mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah
Jadi Mama tidak perlu panik menghadapi kabar soal Hantavirus. Penting diingat untuk tetap menjaga kebersihan rumah, makanan, dan lingkungan sekitar. [*]






