digitalMamaID – Marketplace di Indonesia menaikkan struktur biaya layanan yang berdampak langsung pada penjual. Naiknya biaya admin marketplace ini memaksa pelaku usaha melakukan berbagai perubahan.
Katadata mencatat, platform seperti TikTok Shop, Shopee, dan Tokopedia menaikkan biaya komisi atau biaya admin yang mulai berlaku pada 2026 dengan skema yang dapat berubah berdasarkan kategori produk dan program penjualan yang diikuti seller. Dampak penyesuaian biaya admin marketplace ini mulai terasa hingga ke strategi penjualan sejumlah brand. Fenomena brand yang mulai mengurangi ketergantungan pada marketplace juga mulai terlihat di media sosial. Salah satunya disampaikan oleh brand fesyen M231 melalui unggahan di akun Instagram @m231official pada 11 Mei 2026. Dalam unggahan tersebut, M231 menyebut banyak brand mulai mengarahkan pelanggan untuk berbelanja melalui website resmi mereka sendiri.
Dorong pelanggan belanja ke website resmi
M231 menjelaskan, langkah tersebut bukan semata-mata untuk meninggalkan marketplace, melainkan sebagai upaya menjaga kualitas produk di tengah meningkatnya berbagai biaya yang ditanggung penjual. Mereka menyebut biaya yang terus naik mencakup biaya admin, komisi platform, program promo, gratis ongkir, hingga biaya logistik dan retur.
Dalam unggahan itu, M231 juga memaparkan rincian potongan yang dinilai cukup besar. Pada salah satu marketplace, total potongan disebut bisa mencapai sekitar 22,75 persen yang terdiri dari biaya administrasi kategori, mall fee, program promo dan gratis ongkir, serta biaya proses pesanan. Sementara di marketplace lain, total potongan mencapai sekitar 20,75 persen, belum termasuk kebijakan baru terkait biaya pengiriman dan retur yang ikut ditanggung penjual.
Kondisi tersebut membuat M231 mulai memperkuat penjualan melalui website resmi mereka. Brand tersebut menilai penjualan lewat website bukan hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga cara untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan serta menjaga pengalaman belanja yang lebih nyaman.
Kenaikan biaya marketplace tekan pelaku usaha
True to Skin juga merasakan dampak serupa akibat kenaikan biaya administrasi marketplace. Melalui media sosialnya, co-founder True to Skin, Cliffton menyampaikan, tahun 2026 menjadi periode yang cukup berat bagi perusahaan. Perlambatan ekonomi, persaingan antarmerek yang dinilai semakin tidak sehat, hingga situasi global seperti konflik di Timur Tengah disebut turut memberikan dampak langsung terhadap bisnis mereka. Kondisi tersebut menyebabkan harga bahan baku dan kemasan meningkat hingga hampir 30 persen.
Di saat yang sama, para pelaku usaha juga menghadapi kenaikan biaya layanan dari platform marketplace. True to Skin mengungkapkan, TikTok kembali menaikkan fee yang berlaku mulai 1 Mei 2026. Kenaikan ini dinilai cukup signifikan dan semakin membebani seller, terutama pada komponen biaya layanan dan logistik. Dalam kebijakan terbaru, seller diwajibkan ikut menanggung biaya pengiriman, termasuk ongkos kirim ke pembeli dan biaya retur barang kembali ke seller. Biaya retur disebut dapat mencapai sekitar Rp5.000 per arah, sementara biaya logistik tambahan berkisar Rp3.000. Jika terjadi proses kirim sekaligus retur, maka beban biaya yang ditanggung seller bisa meningkat hingga dua kali lipat.
Dari promo hingga website mandiri
Mayoutfit juga menyuarakan keresahan serupa terkait kenaikan biaya admin marketplace yang dinilai semakin membebani pelaku usaha. Melalui media sosialnya, Mayoutfit menyebut persoalan tersebut sebenarnya telah lama menjadi pembahasan internal bersama tim, terutama karena biaya yang terus meningkat dianggap mulai tidak sehat bagi keberlangsungan bisnis. Kondisi itu mendorong brand fashion tersebut mengajak pelanggan untuk mulai beralih berbelanja melalui website resmi Mayoutfit.
Menurut Mayoutfit, harga produk di website dapat dijual lebih murah karena tidak terbebani berbagai biaya administrasi marketplace. Sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan yang beralih ke platform mandiri, Mayoutfit juga menawarkan sejumlah promo, mulai dari diskon Rp30.090 hingga program buy 1 get 1. Melalui unggahannya, Mayoutfit turut mengajak pelanggan bersama-sama mendukung pengembangan website brand sebagai alternatif belanja yang dinilai lebih menguntungkan bagi penjual maupun pembeli.
Keresahan terhadap tingginya biaya marketplace tidak hanya dirasakan oleh brand besar. Pelaku usaha kecil dan UMKM juga mulai merasakan beban serupa, terutama akibat potongan biaya yang dinilai semakin besar.
Grup WhatsApp dan penjualan offline jadi pilihan UMKM
Penjual buku asal Yogyakarta, Tiwi (37) mengaku, biaya admin marketplace saat ini terasa sangat tinggi. Menurutnya, total potongan dari platform bahkan bisa mencapai lebih dari 20 persen.
“Biaya admin besar sekali, lebih dari 20 persen dari marketplace,” ujarnya pada digitalMamaID, Kamis, 21 Mei 2026.
Meski aktif berjualan online, Tiwi mengatakan sejak awal usahanya memang tidak bergantung penuh pada marketplace. Oleh karena itu, kenaikan biaya admin marketplace tidak terlalu memengaruhi kondisi usahanya secara langsung. “Tidak begitu pengaruh karena fokus jualannya tidak di marketplace,” ujarnya.
Namun demikian, ia menilai berbagai kenaikan biaya di marketplace tetap berdampak pada pola usaha para penjual. Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha harus mengubah strategi penjualan mereka.
Tiwi juga menilai, marketplace saat ini tidak lagi terlalu menguntungkan bagi penjual kecil dan UMKM. Ia melihat keuntungan yang diperoleh semakin kecil dibanding berbagai biaya yang harus ditanggung penjual.
Fenomena hengkangnya sejumlah seller dan brand dari marketplace juga mulai ia lihat dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, tingginya potongan admin menjadi salah satu alasan utama. “Potongan admin sudah tidak masuk akal,” katanya.
Menurut Tiwi, kondisi tersebut justru semakin memperkuat pilihannya untuk mengembangkan jalur penjualan di luar marketplace. Ia lebih memilih fokus membangun penjualan melalui grup WhatsApp dan penjualan offline yang dinilai lebih fleksibel dan tidak terlalu membebani usaha kecil.
Di tengah kenaikan biaya marketplace, sejumlah pelaku usaha mulai kembali mengandalkan penjualan langsung, komunitas pelanggan, dan kanal offline. Pola ini perlahan mendorong kembali interaksi jual beli yang lebih dekat antara penjual dan pembeli, sekaligus memperkuat dukungan terhadap produk lokal di luar ekosistem platform digital. [*]






