Hindari Adultisme, Jangan Remehkan Pendapat Anak Muda

Ilustrasi adultsime
Share

digitalMamaID — Pernahkah Mama menyepelekan pendapat anak hanya karena mereka masih kecil? Atau mungkin mengabaikan ide anak dengan anggapan bahwa mereka belum cukup umur untuk paham? Situasi seperti itu merupakan contoh dari adultism atau adultisme.

Dilansir dari Groundbreaker Therapy, adultisme adalah suatu bentuk prasangka berdasarkan usia yang memprioritaskan suara dan otoritas dewasa daripada anak muda. Sederhananya, adultisme ini sikap yang menganggap orang dewasa selalu lebih benar atau lebih penting dibanding anak dan remaja hanya karena faktor usia. Akibatnya, pendapat, perasaan, atau pengalaman anak sering dianggap kurang valid dan tidak terlalu didengar.

Sedangkan dalam Psychology Today, adultisme dijelaskan sebagai sikap meremehkan atau menindas anak dan remaja hanya karena mereka lebih muda. Banyak orang sebenarnya pernah mengalami adultisme sejak kecil, tapi jarang menyadarinya karena dianggap normal.

Kalimat-kalimat ‘anak kecil jangan ikut campur’ atau ‘kamu belum cukup umur untuk mengerti’, kelihatannya biasa, tapi lama-lama bisa membuat anak merasa suaranya tidak penting. Anak jadi belajar, orang dewasa selalu lebih benar, sementara mereka harus diam dan patuh. Akibatnya, saat besar nanti mereka bisa tumbuh jadi orang yang takut bicara, sulit percaya diri, atau terbiasa menerima perlakuan tidak adil.

Ketimpangan kuasa berbasis usia

Jurnal ‘Theorizing Adultism: From Adult Domination to Normative Disempowerment’ karya John Wall bahkan menjelaskan lebih dalam, adultisme bukan sekadar sikap orang dewasa suka meremehkan anak, tapi sebuah sistem sosial yang membuat suara anak otomatis dianggap kurang penting.

Masyarakat sering menganggap orang dewasa sebagai standar manusia ideal, yang lebih rasional, lebih matang, lebih pantas mengambil keputusan. Akibatnya, anak diposisikan sebagai ‘belum tahu apa-apa’ atau harus patuh. Cara pandang itu akhirnya dianggap normal, jadi banyak orang tidak sadar sedang melakukan adultisme.

Adultisme bukan cuma terjadi lewat kekerasan atau bentakan, tapi juga lewat hal-hal sehari-hari. Memotong pembicaraan anak, menganggap emosi anak berlebihan, tidak melibatkan mereka dalam keputusan yang menyangkut hidup mereka, atau langsung menganggap pendapat orang dewasa pasti lebih benar merupakan beberapa contohnya.

Padahal anak adalah manusia utuh yang punya perspektif dan pengalaman sendiri. Relasi sehat bukan berarti anak memegang semua keputusan, tapi suara mereka tetap diakui dan didengar.

John Wall juga melihat adultisme sebagai bentuk ketimpangan kuasa berbasis usia, mirip bagaimana masyarakat dulu menormalisasi diskriminasi berdasarkan gender atau ras, hanya saja ini terjadi terhadap kelompok usia yang lebih muda.

Dewasa lebih dipercaya

Kontroversi Cerdas Cermat Empat PilarCerdas Cermat Empat Pilar yang lalu bisa jadi contoh nyata adultisme. Peristiwa ini memunculkan diskusi lebih luas bagaimana otoritas orang dewasa cenderung otomatis dipercaya. Pengetahuan anak sering diremehkan, bahkan ketika anak benar secara faktual.

Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi dalam satu peristiwa. Sejumlah penelitian menunjukkan, suara anak dan remaja memang kerap dipandang kurang valid dibanding otoritas orang dewasa, bahkan ketika mereka memiliki pengetahuan atau pengalaman yang relevan.

Penelitian Ryan Oto dalam jurnal Theory & Research in Social Education menunjukkan, suara anak muda kerap diabaikan bahkan ketika mereka sedang memperjuangkan isu sosial yang nyata di lingkungan mereka sendiri. Melalui studi tentang aktivisme remaja di sekolah, Oto menjelaskan, banyak orang dewasa masih memandang remaja sebagai pihak yang belum cukup tahu, sehingga ide, kritik, maupun pengetahuan mereka dianggap kurang valid.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya ‘pedagogy of solidarity’, yaitu pendekatan ketika orang dewasa mendampingi dan mendukung suara anak muda tanpa mendominasi atau meremehkannya. Dengan kata lain, anak perlu diperlakukan sebagai individu yang memiliki kapasitas berpikir, pengalaman, dan hak untuk didengar dalam ruang sosial maupun pendidikan.

Pada akhirnya mendengarkan anak bukan berarti orang dewasa kehilangan otoritas. Anak tetap membutuhkan bimbingan, arahan dan batasan, tetapi mereka juga perlu diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan diperlakukan sebagai individu yang mampu berpikir. Berbahaya ketika kepatuhan dianggap lebih penting daripada kemampuan berpikir kritis

Dampak adultisme

Adultisme tidak hanya memengaruhi anak saat mereka masih kecil, tetapi juga bisa berdampak hingga dewasa, terutama pada kesehatan mental dan rasa percaya diri mereka.

Rendahnya rasa percaya diri

Anak atau remaja yang sering diremehkan cenderung jadi ragu terhadap kemampuan dan keputusan mereka sendiri. Jika terus terjadi, mereka bisa tumbuh dengan perasaan bahwa pendapatnya memang tidak penting.

Gangguan kesehatan mental

Pengalaman tidak didengar atau selalu dianggap salah juga bisa memengaruhi kondisi emosional anak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko kecemasan, stres, depresi, hingga kesulitan mengatur emosi.
Ketika anak terbiasa merasa masalahnya dianggap sepele, mereka bisa menjadi malas atau takut bercerita kepada orang dewasa. Akibatnya, mereka cenderung memendam masalah emosional sendiri.

Menghambat kreativitas dan kepemimpinan

Anak yang terus-menerus tidak diberi ruang untuk berbicara atau mengambil keputusan bisa kehilangan keberanian untuk memimpin dan berinisiatif. Padahal, kesempatan didengar dan dilibatkan penting untuk membantu mereka berkembang dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Mereka yang mengalami adultisme di usia muda mungkin masih membawa luka yang memengaruhi kesehatan mental dan harga diri mereka. Adultisme juga dapat bermanifestasi sebagai pelecehan, termasuk perlakuan buruk secara emosional atau psikologis, di mana orang dewasa menyalahgunakan kekuasaan mereka terhadap anak-anak.

Jadi mulailah melihat anak sebagai manusia yang tetap punya suara, perasann dan pengalaman yang layak di dengar. (Alin Imani) [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE