Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental Perempuan, Coba Tiga Cara Mengelola Stres Ini

Perempuan, apapun pekerjaannya, rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Ibu rumah tangga pun memiliki risiko untuk mengalaminya. Bagaimana cara mengelola stres agar terhindar dari gangguan kesehatan mental?

Menjadi seorang perempuan tidaklah mudah, terlebih sudah menjadi ibu dan istri. Berbagai pilihan silih berganti datang menghampiri. Mulai dari hal-hal kecil hingga pilihan berat seperti harus memutuskan menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir.

Meninggalkan pekerjaan yang sedari dulu diimpikan tidaklah mudah, terjadi gejolak hati yang begitu besar. Namun, perempuan tidak menginginkan orang-orang yang disayanginya menjadi korban akibat egonya. Perempuan rela melakukan apa pun agar orang-orang yang disayangi tetap bahagia.

Perempuan mengesampingkan gunjingan orang-orang di luar sana, meskipun hatinya kerap sekali pilu akibat gunjingan tersebut. Mungkin, sebagian perempuan bisa menjalani kedua-duanya. Akan tetapi, sebagian besar perempuan harus nenilih salah satu.

Pilihannya menjadi seorang ibu rumah tangga membawanya menjadi perempuan yang bisa melakukan segalanya. Menjadi chefuntuk anak dan suami, menjadi dokter ketika mereka sakit, menjadi guru bagi anaknya hingga urusan domestik lainnya.

Pekerjaannya pun tak bisa terhitung oleh waktu. Hampir tidak ada waktu luang hanya untuk duduk santai sembari menikmati minuman atau makanan kesukaan. Dunianya sudah menjadi milik anak dan suami.

Terkadang untuk mengefisiensikan waktu, perempuan harus multitasking. Mengerjakan beberapa pekerjaan secara bersamaan agar semua bisa selesai tepat waktu. Disusul dengan melakukan pekerjaan lain yang sudah menunggu.

Setiap hari perempuan dihadapkan dengan situasi yang seperti itu. Membuat mereka rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan, tak jarang kejadian yang diluar dugaan seperti kasus ibu menganiaya hingga membunuh anaknya berseliweran di media massa. Pemicu dari kasus tersebut, tidak lain adalah gangguan kesehatan mental yang dialami perempuan.

Mereka, dibiarkan sendiri menghadapi situasi yang seperti itu. Tidak ada tempat untuk berbagi segala keluhannya atau suami yang diharapkan menjadi pundak untuknya bersandar malah selalu melukai perasaannya.

Ditambah, tingkah laku anak yang kadang menguras emosi hingga membuat amarahnya meledak. Padahal, semua urusan domestik dalam rumah tangga bukan hanya peran perempuan saja melainkan juga laki-laki.

Faqihuddin Abdul Kodir dalam bukunya Perempuan (Bukan) Sumber Fitnah menyebut, dalam berumah tangga harus menerapkan mubadalah. Artinya, relasi antara dua pihak berbasis kesetaraan, kesalingan, dan kerja sama. Relasi yang satu sama lain tidak merendahkan atau mendiskreditkan, melainkan saling menghormati, memanusiakan, bersikap ramah, dan berakhlak mulai.

Laki-laki tidak melulu berpatok hanya berkewajiban untuk mencari nafkah saja. Melainkan, membantu urusan domestik dalam rumah tangga. Dengan tujuan meringankan beban peran perempuan dalam mengurus rumah tangga.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta pendudukberusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Selain itu berdasarkan Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2016, diperoleh data bunuh diri pertahun sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5 orang melakukan bunuh diri, serta 47,7% korban bunuh diri adalah pada usia 10-39 tahun yang merupakan usia anak remaja dan usia produktif.

Untuk saat ini Indonesia memiliki prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20% populasi di Indonesia itu mempunyai potensi-potensi masalah gangguan jiwa.

Kementerian Kesehatan juga mengelompokkan beberapa jenis gangguan kesehatan mental, yakni stres,gangguan kecemasan dan depresi. Stres adalah keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental.

Seseorang yang stres biasanya akan tampak gelisah, cemas, dan mudah tersinggung. Stres juga dapat mengganggu konsentrasi, mengurangi motivasi, dan pada kasus tertentu, memicu depresi. Stres bukan saja dapat memengaruhi psikologi penderitanya, tetapi juga dapat berdampak kepada cara bersikap dan kesehatan fisik mereka.

Sementara, gangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-harinya.

Bagi sebagian orang normal, rasa cemas biasanya timbul pada suatu kejadian tertentu saja, misalnya saat akan menghadapi ujian di sekolah atau wawancara kerja. Namun pada penderita gangguan kecemasan, rasa cemas ini kerap timbul pada tiap situasi. Itu sebabnya orang yang mengalami kondisi ini akan sulit merasa rileks dari waktu ke waktu.

Selain gelisah atau rasa takut yang berlebihan, gejala psikologis lain yang bisa muncul pada penderita gangguan kecemasan adalah berkurangnya rasa percaya diri, menjadi mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi, dan menjadi penyendiri.

Sedangkan, Depresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih. Berbeda dengan kesedihan biasa yang umumnya berlangsung selama beberapa hari, perasaan sedih pada depresi bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Selain memengaruhi perasaan atau emosi, depresi juga dapat menyebabkan masalah fisik, mengubah cara berpikir, serta mengubah cara berperilaku penderitanya. Tidak jarang penderita depresi sulit menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. Bahkan pada kasus tertentu, mereka bisa menyakiti diri sendiri dan mencoba bunuh diri.

Dikutip dari Alodokter, terdapat tiga alasan perempuan mudah mengalami depresi, diantaranya:

1. Alasan biologis

Pada perempuan, perubahan kadar hormon, seperti estrogen dan progesteron, bisa memengaruhi bagian sistem saraf yang berhubungan dengan suasana hati. Hal ini kemudian berkaitan juga dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi.

Umumnya, perubahan kadar hormon wanita ini terjadi saat menstruasi, hamil, keguguran, melahirkan, dan menopause.

2. Alasan psikologis

Perempuan mengalami ragam fase kehidupan yang dapat memengaruhi kondisi psikisnya, mulai dari pendidikan, karir, menikah, memiliki anak, hingga proses membesarkan anak.

Selain itu, perempuan juga memiliki cara yang cukup unik saat menghadapi masalah. Misalnya, dengan lebih banyak mempertimbangkan dan memikirkan berbagai hal dan kemungkinan, serta lebih melibatkan perasaan saat berada pada suatu hubungan baik dengan teman, kerabat, bahkan pasangan.

Nah, hal-hal itulah yang turut memengaruhi kesehatan mental seorang perempuan dan membuatnya lebih mungkin mengalami depresi.

3. Alasan sosial-budaya

Budaya yang ada di masyarakat sering menilai perempuan harus memiliki sikap lembut, bisa mengasuh dan mendidik, serta harus peka pada orang lain. Penilaian dan budaya ini rentan menjadikan perempuan mendefinisikan dirinya melalui pendapat orang lain. Hal ini tentu akan memengaruhi kesehatan mentalnya. Jadi, tidak heran bila perempuan lebih mudah mengalami stres.

Tuntutan perempuan yang harus bisa berperan ganda juga turut memberi pengaruh. Misalnya, perempuan sebaiknya ikut bekerja, entah itu untuk mencukupi kebutuhan keluarga atau karena rasa takut direndahkan bila hanya menjadi istri dan ibu rumah tangga.

Namun di sisi lain, perempuan tetap dituntut bertanggung jawab atas segala urusan rumah tangga. Peran ganda tanpa adanya dukungan dari pasangan dan keluarga bisa memicu rasa lelah, jenuh, stres, bahkan depresi pada perempuan.

Tiga Cara Mengelola Stres Bagi Perempuan

Psikolog Rini S Minarso membagikan beberapa tips agar perempuan dapat mengelola stresnya dengan baik, diantaranya:

  1. Mengaturaktivitas dan pekerjaan fisik sedemikian rupa sehingga tidak menjadi beban pekerjaan yang harus di tanggung sendiri. Misalnya, meminta bantuan pasangan untuk membantu mengatur waktu kapan pekerjaan mengasuk anak dilakukan oleh ibu dan kapan ayah dapat melakukannya. Berbagi pekerjaan dan aktivitas fisik, akan membuat beban kerja yg membuat kelelahan fisik menjadi berkurang.
  2. Menyempatkan untuk merefreshing diri dengan me time karena apa pun aktivitasnya semua orang butuh waktu untuk bersantai dan beristirahat. Atau jika tidak memungkinkan refreshing sambil beraktivitas rumah tangga. Misalnya, hobby berkebun, berkebunlah sambil melibatkan atau menyertakan anggota keluarga, sehingga bisamenikmati kegembiraan bersama.
  3. Kurangi berpikir terlalu berat sendirian, libatkan pasangan untuk aktivitas mental yang lebih sehat atau libatkan keluarga dalam berpikir dan memutuskan sesuatu. Misalnya, bertanya pada ibu ketika memikirkan menu masakan. Hal sederhana seperti itu tidak saja meringankan kerja mental, tetapi dapat menguatkan ikatan emosi dengan mereka, secara tidak langsung akan membuat diri tidak merasa sendirian dan menjadi lebih bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.