Pahami Klasifikasi Risiko Platform Digital untuk Anak dan Remaja

Ilustrasi anak memakai gadget dan aplikasi chatting
Share

digitalMamaID — Seiring waktu, jumlah platform digital terus bertambah dengan fungsi yang semakin beragam. Ada yang dirancang sebagai ruang hiburan, ada pula yang berfungsi untuk komunikasi, belajar, bekerja, hingga bertransaksi. Bagi orang dewasa, pada dasarnya semua platform tersebut dapat diakses. Batasannya bukan lagi soal izin, melainkan soal digunakan atau tidak.

Namun, berbeda halnya jika platform digital digunakan oleh anak, rasanya tak semua platform bisa dan boleh digunakan. Sebagai orangtua, kita perlu mengetahui klasifikasi risiko platform digital agar anak aman dan terlindungi.

Hal ini pun disampaikan oleh Farida Dewi, Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam acara yang dihelat Netflix bertajuk “Online Child Safety and Digital Environment Dialogue” yang berlangsung di @America, Pacific Place, pada Selasa, 24 Februari 2026.  Ia bicara banyak perihal platform yang ramah anak serta peran negara dalam menciptakan ruang digital yang aman untuk anak.

Klasifikasi risiko serta anjuran umur penggunanya

Farida Dewi sadar, tak semua platform di dunia digital itu bisa digunakan oleh anak mengingat berbagai risikonya. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami klasifikasi risiko pada platform dunia digital.

“Platforms ini diklasifikasikan sesuai dengan tingkat risikonya seperti sedang dan

tinggi,” ungkapnya.

Ia pun mengatakan, platform yang termasuk dalam kategori risiko tinggi, artinya anak tidak diperkenankan untuk menggunakan atau mengaksesnya. “Besar potensi terjadinya pencurian data, membuat anak menjadi adiktif, dan mengganggu psikis anak,” katanya.

Komdigi telah membuatpembagian usia anak di ranah digital. Usia di bawah 13 tahun hanya boleh menggunakan platform berisiko ringan. Isinya hanya berupa video edukasi dan hiburan yang ditujukan untuk anak di bawah usia 13 tahun.

Usia 13 hingga 15 tahun dapat menggunakan platform dengan risiko ringan dan sedang. Tentu, penggunaan platform ini butuh pendampingan ketat dari orangtua.

Selanjutnya, usia 16-17 tahun sudah diperbolehkan mengakses platform risiko tinggi dengan dampingan ketat dari orangtua. Terakhir, usia 18 tahun sudah sepenuhnya diperbolehkan mengakses platform risiko tinggi tanpa pendampingan ekstra, cukup pengawasan saja.

Melalui PP Tunas, Farida mengatakan, pemerintah ingin menciptakan regulasi agar anak dapat dengan aman memanfaatkan dunia digital. Komdigi telah membuat PP Tunas, yaitu payung hukum untuk melindungi anak-anak dari paparan hal negatif di dunia digital.

Tunas sendiri merupakan singkatan dari Tunggu Anak Siap. Artinya, kesiapan anak perlu diperhatikan sebelum akhirnya orang tua memberikan keleluasaan dalam mengakses platform di dunia digital.

Tak hanya anak, PP Tunas juga mewajibkan pihak platform untuk self-assessment. “Platform harus bisa menilai diri mereka sendiri, apakah mereka masuk dalam kategori risiko tinggi atau sedang,” ungkapnya.

Ia pun menambahkan, jika platform masuk dalam kategori risiko tinggi, maka platform tersebut tidak boleh memberikan akses pada anak-anak seperti pembuatan akun di bawah usia tertentu.

Pada dasarnya, penyusunan PP Tunas beserta pengelompokan risiko ke dalam kategori dilakukan pemerintah sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan serta perlindungan anak-anak.

“Kebutuhan anak adalah bermain, belajar, dan bertumbuh dan dunia digital adalah salah satu ruang untuk anak bertumbuh. Jika semua hal di dunia digital disamaratakan, artinya menutup semua akses untuk anak, maka itu bukanlah hal bijak dan membuat anak tidak bertumbuh di ranah dunia digital, sedangkan dunia digital sudah jadi bagian dari kehidupan saat ini,” tutur Farida.

Dunia digital tak bisa dihindari, tetapi bisa dikelola. Dengan memahami klasifikasi risiko dan memanfaatkan PP Tunas sebagai panduan, orang tua dapat memastikan anak tetap aman sekaligus tetap bertumbuh di era digital.

Di sisi lain, klasifikasi ini juga menjadi pengingat bagi platform untuk turut bertanggung jawab, berkontribusi menciptakan ruang digital yang sesuai usia, serta menghadirkan ekosistem yang lebih aman bagi anak dan remaja. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE